Shortcut Singaraja Mengwitani Titik 11-12 Disiapkan, Target Rampung 2030 Dukung Konektivitas Bali Utara

Proyek Shortcut Singaraja Mengwitani Masuk Tahap Persiapan

BULELENG, Insert Bali– Pembangunan Shortcut Singaraja–Mengwitani titik 11 dan 12 kini memasuki tahap persiapan intensif oleh Pemerintah Provinsi Bali bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Proyek ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan konektivitas antara Bali Utara dan Selatan.

Jalur baru ini dirancang melintasi kawasan Bangkiang Sidem, Desa Padangbulia hingga terhubung ke wilayah Desa Sambangan atau Desa Ambengan di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Anggaran Pembebasan Lahan Capai Rp80 Miliar

Pemprov Bali telah menyiapkan anggaran sekitar Rp80 miliar untuk pembebasan lahan sebagai tahap awal proyek. Pendanaan tersebut direncanakan dialokasikan secara bertahap melalui APBD Perubahan 2026 dan APBD Induk 2027.

Langkah ini menjadi krusial untuk memastikan pembangunan fisik dapat berjalan tanpa hambatan ketika proses konstruksi dimulai oleh pemerintah pusat.

Solusi Jalur Ekstrem dan Rawan Longsor

Pembangunan shortcut ini bertujuan menggantikan jalur lama yang dikenal memiliki medan ekstrem, tikungan tajam, serta rawan longsor. Kondisi tersebut selama ini menjadi kendala utama bagi kelancaran transportasi, baik untuk logistik maupun pariwisata.

Dengan jalur baru yang lebih aman dan efisien, diharapkan mobilitas barang dan wisatawan dapat meningkat sekaligus menekan risiko kecelakaan.

Target Konstruksi Dimulai 2028

Berdasarkan rencana terbaru per April 2026, proses pembebasan lahan dan penetapan lokasi akan dimulai pada akhir 2026 hingga awal 2027. Setelah itu, tahap pelelangan proyek ditargetkan berlangsung pada akhir 2027.

Pembangunan fisik dijadwalkan mulai awal 2028, ditandai dengan peletakan batu pertama, dan ditargetkan selesai pada 2029 hingga awal 2030 agar dapat segera difungsikan.

Prioritas Pemerataan Ekonomi Bali

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa pembangunan shortcut titik 11-12 merupakan kebutuhan mendesak. Proyek ini menjadi bagian dari strategi besar untuk mengatasi kemacetan sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan antara Bali Utara dan Selatan.

Ia juga menargetkan seluruh rangkaian pembangunan shortcut ini dapat selesai sebelum Februari 2030 sebagai bagian dari komitmen pembangunan infrastruktur Bali jangka menengah.

Dukungan Pusat untuk Infrastruktur Strategis

Dukungan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menjadi faktor penting dalam percepatan proyek ini. Selain meningkatkan keselamatan perjalanan, proyek ini juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi distribusi logistik dan menekan emisi karbon dari kendaraan.

Sementara itu, pengerjaan fisik saat ini masih difokuskan pada titik 9 dan 10 di wilayah Gitgit dan Pegayaman. Yang menjadi bagian awal dari pengembangan jalur shortcut Singaraja–Mengwitani. “Menteri PU menegaskan tahun 2026-2027 mulai dibangun jalan underpas Jimbaran Badung, pembangunan gedung parkir Pura Ulun Danu Batur, pembangunan jembatan Nusa Ceningan-Nusa Lembongan,jalan shorcut titik 11 dan 12 Singaraja-Mengwitani, dan lanjutan pembangunan Embung Unda Klungkung,” jelas Koster.

Dorong Pariwisata dan Konektivitas Bali Utara

Keberadaan shortcut ini diharapkan mampu membuka akses yang lebih cepat dan nyaman menuju kawasan Bali Utara, yang selama ini dinilai memiliki potensi besar namun belum optimal.

Dengan infrastruktur yang lebih baik, kawasan Buleleng dan sekitarnya diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus memperkuat sektor pariwisata Bali secara lebih merata.

Dipastikan Berlanjut, Embung Tukad Unda Jadi Infrastruktur Strategis Bali

Shares: