Jakarta, Insert Bali– Pembangunan Embung Tukad Unda mencatat kemajuan penting setelah tahap pertama konstruksi fisiknya rampung pada Juni 2024 dan dipastikan akan berlanjut tahun ini. Proyek ini merupakan bagian dari pengembangan kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) yang dibangun di eks Galian C, Desa Gunaksa.
” Menteri PU menegaskan tahun 2026-2027 mulai dibangun jalan underpas Jimbaran Badung, pembangunan gedung parkir Pura Ulun Danu Batur, pembangunan jembatan Nusa Ceningan-Nusa Lembongan,jalan shorcut titik 11 dan 12 Singaraja-Mengwitani, dan lanjutan pembangunan Embung Unda Klungkung,” jelas Gubernur Bali Wayan Koster.
Keberadaan embung ini menjadi salah satu proyek strategis dalam mendukung ketahanan sumber daya air sekaligus pengembangan kawasan terpadu di Bali.
Lanjutan Pembangunan Dimulai 2026
Setelah penyelesaian tahap awal yang didanai APBN sekitar Rp140 miliar, pemerintah merencanakan kelanjutan pembangunan pada periode 2026 hingga 2027. Tahap berikutnya akan difokuskan pada penguatan sistem distribusi air melalui pembangunan jaringan perpipaan, penyediaan air minum, serta pengembangan infrastruktur irigasi.
Memasuki April 2026, kawasan embung juga mulai dibenahi kembali guna meningkatkan fungsi dan estetika lingkungan setelah sebelumnya sempat terlihat kurang terawat.
Kapasitas Besar untuk Air Bersih dan Irigasi
Embung Tukad Unda memiliki kapasitas yang cukup besar, yakni mencapai 1.000 liter per detik. Sebagian kapasitas tersebut dialokasikan untuk mendukung operasional kawasan PKB. Sementara sisanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di Kabupaten Klungkung dan Gianyar.
Selain sebagai sumber air baku, embung ini juga berperan dalam mendukung irigasi pertanian. Pengendalian banjir, serta penampungan air hujan, sehingga memberikan manfaat ekologis yang luas bagi kawasan sekitarnya.
Potensi Jadi Destinasi Wisata Baru
Tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur air, kawasan embung juga diproyeksikan menjadi destinasi wisata alternatif. Lanskap alam yang terbentuk di sekitar embung dinilai memiliki daya tarik tersendiri yang dapat dikembangkan untuk mendukung sektor pariwisata Bali.
Pengembangan ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal tanpa mengabaikan aspek kelestarian lingkungan.
Wacana Pengolahan Sampah Masih Dikaji
Di tengah pengembangan kawasan, muncul wacana pemanfaatan zona penyangga embung sebagai pusat pengolahan sampah organik regional. Gubernur Bali, Wayan Koster, sebelumnya menekankan pentingnya pengawasan ketat agar proyek berjalan sesuai rencana dan memberikan manfaat optimal.
Namun, Bupati Klungkung, I Made Satria, mengingatkan bahwa rencana tersebut perlu dikaji secara mendalam agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap sektor pariwisata maupun kualitas lingkungan di sekitar embung.
Proyek Berkelanjutan Dukung Lingkungan Bali
Kepala Balai Wilayah Sungai Bali-Penida, Muhammad Noor, menjelaskan bahwa pembangunan embung ini dilakukan secara bertahap (multiyears) di atas lahan seluas 5,97 hektare dengan kapasitas tampungan mencapai 143.000 meter kubik.
Proyek ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus mendukung visi pembangunan Bali yang berkelanjutan.
Kolaborasi untuk Kelestarian dan Ekonomi
Dukungan terhadap pengembangan kawasan embung juga datang dari berbagai pihak, termasuk sektor perbankan. Ketua BPR Bali, I Ketut Komplit, menyampaikan bahwa kegiatan penghijauan yang dilakukan merupakan bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan keberlanjutan pariwisata.
Dengan berbagai fungsi yang dimiliki, Embung Tukad Unda diharapkan menjadi pilar penting dalam penyediaan air bersih, penguatan lingkungan, serta pengembangan ekonomi berbasis pariwisata di Bali.
Gubernur Koster Temui Tiga Menteri, Infrastruktur Pariwisata Bali Dipastikan Mulai Dibangun 2026



















