Libatkan 30 Seniman Diaspora, Festival ‘Dealing in Distance’ Goethe-Institut Hadir di Bali

Pertemuan para seniman diaspora Asia Tenggara dalam festival budaya Dealing in Distance di Denpasar, Bali.

DENPASAR – Festival mini keliling bertajuk “Dealing in Distance” segera menyambangi Bali pada 22–25 Januari 2026. Acara garapan Goethe-Institut ini akan berlangsung di tiga lokasi. Lokasi tersebut meliputi CushCush Gallery Denpasar, Masa Masa Gianyar, dan MASH Denpasar.

Festival ini menampilkan kontribusi artistik dari 30 lebih seniman diaspora Asia Tenggara. Beberapa di antaranya memiliki keterkaitan erat dengan negara Jerman. Program publik yang dihadirkan sangat beragam. Mulai dari pameran, pertunjukan, lokakarya, diskusi, hingga tur jalan kaki.

Edisi Bali merupakan kelanjutan dari kesuksesan di Hanoi dan Ho Chi Minh City, Vietnam. Fokus utamanya adalah eksplorasi gagasan tentang migrasi dan identitas dalam jarak. Platform ini memandang pengetahuan sebagai proses berkelanjutan yang mempertemukan konteks lokal dan global.

Kepala Regional Program Budaya Goethe-Institut, Dr. Marguerite Rumpf, memberikan penjelasan pada Senin (19/1/2026). Beliau menekankan pentingnya dialog dan mobilitas antar budaya.

“Sejalan dengan komitmen Goethe-Institut terhadap dialog dan mobilitas, Dealing in Distance melalui variasi program publiknya menghadirkan berbagai perjumpaan yang kerap kali berlangsung tidak seimbang dan tak sepenuhnya terselesaikan—antara seniman diaspora Asia Tenggara kontemporer, seniman Indonesia, dan seniman Bali. Dengan mempertemukan beragam perspektif ini, kami berharap dapat memantik refleksi, pertukaran gagasan, serta cara-cara baru dalam memahami keterhubungan budaya di dunia yang kian bergerak,” ujar Dr. Marguerite Rumpf.

Eksplorasi Identitas dan Kesejahteraan Seniman Diaspora

Bali dipilih sebagai situs aktif untuk merefleksikan rasa kepemilikan. Sejarah migrasi dan pariwisata di Bali menjadi lensa kritis bagi para peserta. Kurator lokal Wayan Sumahardika menyebut Bali bukan sekadar destinasi wisata. Pulau ini merupakan laboratorium sosial tempat diaspora dan sejarah terjalin.

“Dealing in Distance mengajak para seniman dan khalayak untuk membaca Bali bukan semata sebagai destinasi wisata yang paradisiakal, melainkan sebagai laboratorium sosial dan artistik tempat diaspora, sejarah, dan mobilitas terjalin. Berlatar pesatnya perkembangan pariwisata dan citra global Bali, program ini mengajukan pertanyaan kritis: adakah yang bisa disebut sebagai identitas Bali yang otentik?” ungkap Wayan Sumahardika.

Sejumlah karya menarik akan ditampilkan oleh para seniman diaspora. Misalnya karya sonik Before the Pulse Fails oleh Wayan Gde Yudane dan Putu Septa. Ada pula kolaborasi Don Rare Nadiana dan Wulan Dewi Saraswati melalui eksplorasi rasa kuliner Bali.

Woven Kolektif dari Australia dan Jerman juga ikut ambil bagian. Mereka mengeksplorasi memori kolektif melalui karya audio-visual. Selain itu, terdapat pertunjukan dari seniman diaspora Filipina, Nelden Djakababa Gericke, yang menyoroti isu personal wanita paruh baya. Seluruh rangkaian acara ini bertujuan memperkuat keterhubungan budaya di tengah arus globalisasi.

Shares: