DENPASAR, InsertBali — Kematian massal tanaman mangrove di wilayah Hutan Mangrove milik KSOP (Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan) dan Pelindo (PT Pelabuhan Indonesia), merupakan dampak cemaran hidrokarbon. Hal ini menyebabkan penyakit abiotik pada individu tanaman.
Hal itu disampaikan langsung oleh Tim Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana. Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga, S.P., M.Si., Dr. Listihani, S.P., M.Si., Ni Nyoman Sista Jayasanti, S.P., M.Biotech., Restiana Maulinda, S.P., M.Si., Wafa’ Nur Hanifah, S.P., M.Si., dan Yuli Evrianti Br. Raja Gukguk, A.Md.
Penyampaian ini dilakukan dalam Pemaparan Hasil Analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Sampel Sedimen dan Air di Daerah Rhizosfer Tanaman Mangrove Milik KSOP Pelindo. Tahap pengujiannya sendiri telah dilakukan pada Rabu – Kamis, 25-26 Februari 2026 lalu.
Lebih rinci, Tim Rumah Sakit Pertanian UNUD ini mengatakan, gejala penyakit abiotik pada mangrove diawali dengan daun klorosis (daun menguning), daun nekrosis (daun kecoklatan), dan kulit batang mengelupas. Gejala lainnya meliputi pertumbuhan kerdil, busuk akar/hitam, dan penebalan daun (sukulensi).
Selain itu, pola kematian tanaman yang tidak sporadis serta cenderung pada populasi blok yang sama. Dan tidak menyebar, merupakan ciri khas penyakit abiotik pada tanaman.
Dampak Kontaminasi Hidrokarbon pada Akar
Hipotesis awal tim peneliti Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana dengan koordinator Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga, S.P., M.Si., menyebutkan bahwa kontaminasi hidrokarbon di dalam ekosistem mangrove biasanya masih ada di dalam tanah (sedimen).
Minyak yang masuk ke dalam pori tanah akan menutupi akar mangrove dan bersifat beracun. Senyawa aromatik yang ada dalam bahan bakar minyak bisa merusak membran sel tanaman. Hal ini mengganggu cara tanaman menyerap nutrisi, dan menyebabkan kematian pohon dalam beberapa minggu setelah terpapar.
Untuk memastikan kandungan senyawa hidrokarbon yang terakumulasi pada area rhizosfer tanaman mangrove. Tim peneliti sudah melakukan analisis GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry) yang dijelaskan pada kajian ini.
“Metode analisis yang digunakan dalam identifikasi adalah Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Ini merupakan metode analisis untuk mengidentifikasi dan menentukan komposisi senyawa kimia dalam sampel terutama senyawa volatil atau semi-volatil,” jelas Tim Rumah Sakit Pertanian UNUD.
GC-MS sering digunakan untuk mengidentifikasi senyawa hidrokarbon (minyak bumi), analisis pencemaran lingkungan, analisis obat, dan bahan kimia. Pengujian GC-MS telah dilakukan pada tanggal 24-26 Februari 2026 dan telah diperoleh hasilnya.



















