DENPASAR, InsertBali — Pengukuhan jajaran pecalang se-Bali di Kantor Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali pada Selasa (2/3/2026) menjadi momentum strategis. Kegiatan ini bertujuan memperkuat sistem pengamanan adat berbasis desa adat di seluruh Pulau Dewata. Pelantikan dipimpin langsung oleh Bandesa Agung MDA Bali, Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet.
Manggala Utama Pecalang Bali, Brigjen Pol (Purn) Drs. Dewa Bagus Made Suharya, menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar seremoni. Ini merupakan peneguhan komitmen pengabdian pecalang kepada adat, budaya, dan masyarakat Bali. Rangkaian acara juga disertai prosesi spiritual mejaya-jaya sebagai tanda kesungguhan dalam bertugas.
“Dengan adanya pelantikan hari ini, ini bukan hanya acara seremonial semata. Apalagi sudah diperkuat dengan prosesi jaya-jaya secara niskala. Artinya, kita dalam bertugas tidak boleh main-main,” tegas Dewa Bagus Made Suharya.
Suharya menjelaskan bahwa sistem organisasi pecalang kini disusun secara berjenjang dan terstruktur. Jalur komando dibuat jelas mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga kecamatan dan desa adat. Hal ini dilakukan agar setiap kebijakan dari MDA Bali dapat tersampaikan dengan baik kepada pelaksana di lapangan.
Manggala Utama menaruh harapan besar agar seluruh pecalang mampu meningkatkan profesionalitas di wilayah masing-masing. Pecalang bukan hanya simbol keamanan, tetapi juga penjaga marwah desa adat. Penguatan kapasitas, disiplin, dan etika pelayanan menjadi poin utama yang harus dikedepankan.
“Harapan kami, pelantikan ini memberikan rasa tanggung jawab yang lebih luas kepada para pecalang untuk mampu bertugas sebaik-baiknya dalam menjaga taksu adat di desa adat masing-masing,” ujarnya.
Energi Baru Pengamanan Adat Bali
Dukungan juga datang dari Tim Hukum MDA Provinsi Bali, Kombes (Purn) Drs. I Ketut Arta, S.H., M.H. Ia menilai figur Brigjen Pol (Purn) Dewa Bagus Made Suharya memiliki kapasitas kuat untuk memperkuat barisan pecalang. Pengalaman beliau di bidang keamanan formal diharapkan dapat menyempurnakan sistem pengamanan berbasis kearifan lokal.
Ketut Arta juga mengingatkan pentingnya sikap humanis dalam setiap pelaksanaan tugas di lapangan. Pecalang diimbau untuk menjalankan fungsi sesuai koridor adat dan tetap menjunjung tinggi etika serta kesopanan.
“Kami menghimbau pecalang melaksanakan tugas sesuai devosi, tidak arogan, dan tetap santun. Dengan begitu, masyarakat akan merasa terlindungi dan terayomi,” tegas Ketut Arta.



















