Konektivitas Pemikiran Kartini dan Hindu dalam Kerangka Filsafat Semangat Zaman

Esai Putu Ayu Suniadewi mengulas konektivitas pemikiran Kartini dengan filosofi Hindu seperti Atman dan Dharma dalam kerangka semangat zaman (Zeitgeist).

DENPASAR, InsertBali — Setiap zaman memiliki ruh tersendiri yang membentuk cara manusia berpikir, bertindak, dan memaknai kehidupannya. Filsuf Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, menyebut ruh zaman ini sebagai Zeitgeist. Hal ini merupakan semangat kolektif yang melampaui individu dan meresap ke dalam seluruh aspek kebudayaan, agama, dan politik.

Di persimpangan abad ke-19 dan ke-20, Nusantara mengalami pergolakan semangat baru. Kesadaran akan martabat manusia, kritik terhadap feodalisme, serta tuntutan akan pendidikan dan persamaan hak mulai muncul. Raden Ajeng Kartini, seorang priyayi Jawa, menjadi salah satu ekspresi paling jernih dari Zeitgeist tersebut.

“Menarik untuk dicermati bahwa pemikiran Kartini menunjukkan resonansi mendalam dengan nilai-nilai filsafat Hindu,” ujar Putu Ayu Suniadewi. Sekretaris PC KMHDI Badung ini memberikan sudut pandang dalam memperingati Hari Kartini di bulan April 2026. Menurutnya, hal ini terlihat dalam cara Kartini memandang kodrat perempuan, dharma, dan emansipasi jiwa.

Suniadewi menyebut esai ini menelusuri konektivitas antara pemikiran Kartini dan Hindu dalam kerangka Zeitgeist. Argumennya adalah semangat zaman yang melahirkan kebangkitan kesadaran universal terhadap perempuan turut menghidupkan kembali prinsip Hindu kuno. Prinsip tersebut bersifat egaliter dan spiritual. Zeitgeist masa Kartini ditandai oleh penetrasi nilai-nilai Pencerahan Eropa dan reaksi terhadap kolonialisme.

Kartini tidak sekadar meniru Barat, ia justru menggali akar kearifan lokal termasuk tradisi Hindu-Buddha di kebudayaan Jawa. Ia kerap merujuk pada tokoh pewayangan seperti Srikandi sebagai simbol emansipasi. Ada beberapa konsep kunci filsafat Hindu yang bergema dalam pemikiran Kartini, salah satunya adalah Dharma sebagai panggilan jiwa. Kartini mendekonstruksi dharma feodal dan menggantinya dengan dharma universal kemanusiaan.

Konsep lainnya adalah Atman atau jiwa yang setara. Kartini secara konsisten menegaskan kesetaraan hakiki antara laki-laki dan perempuan. Ia menulis bahwa perbedaan hanyalah pada tubuh, bukan pada roh. Pernyataan ini selaras dengan ajaran Upanisad bahwa atman tidak memiliki gender. Selain itu, terdapat konsep Moksha sebagai emansipasi spiritual melalui pengetahuan atau jnanayoga modern.

Kartini Sebagai Jembatan Peradaban dan Semangat Pembebasan

Kartini menjadi “jembatan” antara nilai global tentang kesetaraan dengan memori kolektif Nusantara. Referensinya kepada Srikandi, Dewi Saraswati, dan konsep tapa menunjukkan ia menggali mata air Hindu untuk pembebasan. Namun, konektivitas ini bukanlah klaim bahwa Kartini penganut Hindu. Beliau adalah Muslim yang taat dan tetap merujuk pada Al-Qur’an serta teladan tokoh Islam.

Dalam kerangka filsafat semangat zaman, pemikiran Kartini adalah bagian dari gelombang kesadaran kolektif akhir abad ke-19. Gelombang kebebasan dan rasionalitas itu menemukan padanannya dalam konsep Hindu kuno seperti kesetaraan atman dan dharma universal. Kartini berdiri sebagai seorang filsuf perempuan yang dalam tulisannya terdengar gema Upanisad yang bergaung di tanah Nusantara.

Shares: