Tingginya Aktivitas Penerbangan di Bali, Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar Susun Rencana Kontingensi Kecelakaan Pesawat Udara

Tingginya Aktivitas Penerbangan di Bali, Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar Susun Rencana Kontingensi Kecelakaan Pesawat Udara

JIMBARAN, InsertBali – Dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kecelakaan pesawat udara, Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Denpasar menyelenggarakan kegiatan Penyusunan Rencana Kontingensi Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kecelakaan Pesawat Udara di Bali Bagian Selatan dalam rangka Pemetaan Wilayah Rawan Kedaruratan Tahun 2026.

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, pada 14–16 Oktober 2026, bertempat di Ruang Serbaguna Lantai 3, Gedung Werkudara, Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Denpasar, I Nyoman Sidakarya. Dalam sambutannya Sidakarya menekankan langkah antisipasi sebelum terjadi keadaan darurat.

“Kesiapsiagaan tidak boleh dibangun setelah kejadian terjadi, harus kita persiapkan sebelum kejadian, melalui perencanaan yang matang, koordinasi yang kuat, sumber daya yang siap, serta pemahaman yang sama dari seluruh unsur yang terlibat,” ungkapnya.

Kegiatan diikuti 61 peserta dari berbagai unsur terkait untuk mendukung penyusunan dokumen yang komprehensif. Dihadirkan pula 2 narasumber dari Direktorat Operasi Pencarian dan Pertolongan, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS).

Tingginya Trafik Penerbangan Bandara Ngurah Rai Jadi Latar Belakang

Penyusunan rencana kontingensi ini dilatarbelakangi oleh tingginya aktivitas penerbangan di Bali, khususnya melalui Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Yang merupakan salah satu bandara tersibuk di Indonesia. Sepanjang tahun 2025, bandara tersebut mencatatkan 143.312 pergerakan pesawat, baik lepas landas maupun mendarat.

Selain penerbangan komersial, penggunaan helikopter untuk mendukung perjalanan bisnis, wisata, dan transportasi cepat juga semakin menjadi bagian dari aktivitas transportasi udara di Bali.

Tingginya aktivitas penerbangan tersebut perlu diimbangi dengan kesiapsiagaan seluruh unsur pencarian dan pertolongan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya keadaan darurat. Oleh karena itu, penyusunan rencana kontingensi menjadi langkah strategis untuk memperkuat koordinasi, memperjelas pembagian tugas, serta memastikan pelaksanaan operasi SAR dapat dilakukan secara cepat, tepat, terpadu, dan sesuai prosedur.

“Rencana kontingensi bukan sekadar dokumen tetapi merupakan kesepakatan dan komitmen bersama tentang tugas, peran, sumber daya. Serta mekanisme koordinasi yang harus dilaksanakan ketika terjadi kecelakaan pesawat udara,” imbuhnya.

Skenario Kedaruratan Pesawat Hilang Kontak di Perairan Serangan

Dalam kegiatan ini, skenario kedaruratan yang menjadi fokus pembahasan adalah kejadian pesawat udara yang menghilang dari radar di wilayah perairan Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan. Skenario tersebut digunakan sebagai dasar untuk memetakan wilayah operasi, mengidentifikasi potensi sumber daya yang dapat dikerahkan, serta menyusun langkah-langkah penanganan apabila terjadi kecelakaan pesawat udara di kawasan tersebut.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta mendapatkan pemaparan materi dari narasumber mengenai sistem pencarian dan pertolongan (SAR). Serta sistematika penyusunan rencana kontingensi. Materi kemudian dilanjutkan dengan diskusi untuk menyelaraskan pemahaman, mengidentifikasi kebutuhan operasional, dan merumuskan mekanisme koordinasi antar pihak yang terlibat dalam penanganan keadaan darurat.

Keberadaan rencana kontingensi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapan personel, mengoptimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana. Serta memperkuat sinergi antarlembaga ketika menghadapi situasi kedaruratan. Dengan perencanaan yang matang dan koordinasi yang terarah, upaya pencarian dan pertolongan diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Sehingga risiko jatuhnya korban jiwa akibat kecelakaan pesawat udara dapat diminimalkan.

Dalam wawancaranya usai acara, Budi Retno selaku perwakilan dari Direktur Operasi Basarnas mengutarakan harapannya setelah dokumen Rencana Kontingensi ini disepakati. “Kami berharap juga dengan adanya dokumen rencana kontingensi ini setelah ditandatangani masing-masing bisa melakukan peran dan tugasnya. Dan kedepannya dapat lebih terkoordinir, solidaritas, kolaborasi dan lainnya bisa lebih baik. Khususnya sinergitas seluruh potensi SAR yang di Kantor SAR Denpasar,” ujarnya.

Penyusunan rencana kontingensi ini menjadi bagian dari komitmen BASARNAS dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi kedaruratan. Khususnya kecelakaan pesawat udara, demi memberikan pelayanan pencarian dan pertolongan yang profesional, modern, dan teruji kepada masyarakat.

Shares: