DENPASAR, InsertBali – Oleh: Ni Luh Purnamasuari Prapnuwanti (IAHN Mpu Kuturan)
Kehadiran kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap pendidikan secara fundamental. Perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap cara pendidikan bukan sekadar perubahan kecil atau tambahan alat bantu, melainkan pergeseran pada level fondasi seperti: cara belajar, cara mengajar, cara menilai, dan cara memaknai pengetahuan.
Generasi muda saat ini tumbuh sebagai digital natives yang akrab dengan ChatGPT, Gemini, dan berbagai platform AI lainnya. Seperti telah digambarkan oleh Marc Prensky pada tahun 2001 bahwa generasi saat ini lahir dan dibesarkan di tengah lingkungan digital. Mereka tidak pernah mengenal dunia tanpa internet, komputer, ponsel pintar, atau media sosial.
Mengajarkan Susastra Hindu yang sarat dengan nilai spiritual, etika, dan kearifan lokal menghadapi tantangan tersendiri. Alih-alih melihat AI sebagai ancaman, kita perlu memposisikannya sebagai cermin untuk merefleksikan ulang metode pengajaran kita.
Generasi yang menggilai AI cenderung mencari jawaban instan. Ketika ditanya tentang makna sloka Bhagavad Gita atau kisah Ramayana, mereka lebih memilih bertanya kepada AI daripada membaca teks aslinya.
Akibatnya, pemahaman menjadi dangkal, hanya kulit tanpa isi. Susastra Hindu bukan sekadar teks untuk dihafal, melainkan living tradition yang membutuhkan penghayatan, konteks, dan dialog. Sehingga perlu adanya pergeseran pola pembelajaran yang ditawarkan agar generasi muda mencintai susastra.
Batasan Kemampuan AI Dan Proses Perenungan Nilai Spiritual
AI mampu memberikan terjemahan dan ringkasan, tetapi tidak mampu menangkap nuansa rasa (estetika spiritual) dalam kitab Ramayana atau Mahabharata. Ketika siswa merasa cukup dengan jawaban AI, mereka kehilangan proses manana (perenungan) dan nididhyasana (meditasi mendalam) yang menjadi inti pembelajaran susastra.
Namun dibalik tantangan tersebut, sesungguhnya ada peluang besar. AI dapat menjadi tool yang powerful jika digunakan dengan bijak. Penggunaan AI untuk membuat animasi kisah Ramayana, chatbot yang menjawab pertanyaan tentang Dharma, atau platform interaktif untuk belajar Sanskrit.
Tenaga pendidik bisa berperan sebagai fasilitator yang memandu siswa untuk mengkritisi output AI, membandingkannya dengan teks asli, dan menggali makna lebih dalam. Tantangan mengajar susastra Hindu pada generasi yang menggilai AI bukanlah tentang melawan teknologi, melainkan tentang merekontekstualisasi pembelajaran. Kita perlu mengubah paradigma dari transfer pengetahuan menjadi transformasi nilai.



















