Dari Anak Penjahit dan Petani, Nonok Bawa Semangat Baru untuk Suwat

Dari Anak Penjahit dan Petani, Nonok Bawa Semangat Baru untuk Suwat

GIANYAR, InsertBali Setelah 14 tahun berada di bawah kepemimpinan yang sama, Desa Suwat kini memasuki momentum penting. Momentum untuk menentukan arah baru. I Putu Darmendra alias Nonok (38) hadir sebagai penantang petahana.

Ia menawarkan perubahan cara kerja pemerintahan desa yang terbuka, aktif turun ke masyarakat, dan melibatkan warga. Figur muda dengan latar belakang jurnalis ini maju sebagai calon Kepala Desa Suwat.

Ia membawa semangat perubahan melalui gerakan yang ia sebut LAGAS, Lan Bangun Suwat Sareng-Sareng. Nonok mengusung tagline “Sudahi yang Dulu, Saatnya yang Baru.”

Baginya, kalimat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan ajakan. Ajakan untuk memberi ruang bagi energi dan cara kerja baru.

Menurut Nonok, perubahan bukan berarti menolak seluruh hal yang telah dilakukan sebelumnya. Hal-hal yang baik harus dilanjutkan, yang belum maksimal harus diperbaiki. Serta yang belum pernah dicoba harus berani dimulai.

Ia mengatakan, Desa Suwat membutuhkan pemimpin yang mampu mengikuti perubahan zaman. Pemimpin yang terbuka terhadap gagasan baru, dan hadir langsung di tengah masyarakat.

Dengan karakter yang ia tawarkan sebagai sosok muda, progresif, adaptif, dan kolaboratif. Nonok ingin menghadirkan cara kerja pemerintahan yang lebih terbuka dan responsif.

Bagi Nonok, kepemimpinan muda bukan hanya soal usia. Progresif berarti berani memperbaiki cara kerja yang tidak lagi efektif. Adaptif berarti mampu mengikuti perkembangan zaman, termasuk memanfaatkan teknologi.

Sementara kolaboratif berarti tidak merasa mampu membangun desa seorang diri. “Suwat harus dibangun bersama. Pemerintah, masyarakat, pemuda, tokoh dan seluruh elemen desa harus bergerak bersama,” ujarnya, Rabu (2/9).

Nonok menawarkan pola kepemimpinan yang tidak hanya menunggu masyarakat datang. Pemerintah desa harus aktif turun ke banjar, menyerap aspirasi dan memahami persoalan secara langsung.

Nonok adalah sosok yang tumbuh dari keluarga sederhana. Ia merupakan anak seorang penjahit dan petani, pasangan Wayan Suama dan Desak Putu Padmi.

Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya bahwa kebijakan pemerintah harus berangkat dari persoalan nyata.

Pengembangan Ekonomi Dan Dukungan Potensi Wisata Desa Suwat

Sebelum maju dalam kontestasi Pilkades Suwat, Nonok aktif dalam berbagai organisasi. Ia pernah menjadi Ketua Pemuda Banjar Suwat Kelod dan Ketua Karang Taruna Suwat.

Di luar desa, ia aktif dalam organisasi jurnalis AJI Denpasar. Serta dipercaya menjadi Ketua Serikat Pekerja Tribun Bali. Selama 11 tahun berprofesi sebagai jurnalis, Nonok banyak bersentuhan dengan berbagai persoalan.

“Pemimpin desa tidak cukup bekerja dari balik meja. Harus jemput bola. Coba jalan atau bersepeda keliling desa, tanya kabar warga, apa persoalan yang mereka hadapi, bagaimana kondisi ekonominya, apa keluh kesahnya. Jangan hanya datang ketika ada kepentingan,” paparnya.

Salah satu perhatian yang dibawanya adalah pembangunan ekonomi desa, khususnya pengembangan potensi pariwisata.

Nonok menilai, ketika masyarakat sudah bergerak secara swadaya, pemerintah desa tidak boleh hanya menjadi penonton.

Pemerintah desa harus hadir melalui dukungan pembangunan akses, promosi, dan penguatan kelompok masyarakat.

Serta membuka ruang kolaborasi agar potensi yang dimiliki desa dapat berkembang.

“Pembangunan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah desa harus hadir untuk menyokong masyarakat yang sudah bergerak. Libatkan pemuda, kelompok masyarakat, pelaku usaha dan semua pihak yang memiliki kemampuan. Itulah semangat LAGAS, Lan Bangun Suwat Sareng-Sareng,” ujarnya.

Prinsip Keadilan Dan Kesetaraan Pembangunan Antar Banjar

Nonok juga menegaskan komitmennya terhadap pembangunan dan bantuan yang berkeadilan. Ia tidak ingin ada banjar atau kelompok masyarakat yang mendapat perlakuan berbeda.

Menurutnya, ketika ada wilayah yang merasa tertinggal, persoalannya tidak boleh selalu dibebankan kepada warga.

Pemerintah desa harus melakukan evaluasi dan memastikan pembangunan berjalan dengan prinsip keadilan.

“Semua banjar punya posisi yang sama di mata kepala desa. Tidak boleh pilih kasih. Semua harus menjadi anak emas. Tidak boleh ada yang dianggap anak tiri,” tegasnya.

Melalui gerakan LAGAS, Nonok ingin membangun Desa Suwat dengan pola yang lebih terbuka. Bagi dia, desa tidak akan maju apabila pembangunan hanya ditentukan oleh segelintir orang.

“Desa harus dibangun bersama. Pemerintah membuka ruang, masyarakat menyampaikan kebutuhan, lalu kita bekerja bersama mencari jalan keluarnya. Mari LAGAS, Lan Bangun Suwat Sareng-Sareng,” pungkasnya.

Shares: