GIANYAR, InsertBali – Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan. Bagi 11 seniman yang tergabung dalam Kelompok WAYAH, kemerdekaan juga berarti keberanian. Keberanian untuk berpikir, merasakan, dan berkarya dengan suara sendiri. Gagasan tersebut hadir dalam pameran “JIWA MERDEKA” di WYAH Art & Creative Space, Desa Keliki, Ubud, Gianyar.
Pameran dibuka bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8) sore. Dengan menghadirkan 22 karya dari 11 perupa. Pameran berlangsung hingga 17 September 2026.
Kesebelas perupa yang terlibat yakni Achmad Tem, Aricadia, Gusti Wijana, Heri Patrianto, Made Suasta. Serta Nikno, Nyoman Dira, Nyoman Lombeng, Sang Made Budhiasa, Wayan Dastra, dan Wayan Sudarsana.
Arti Kematangan Dan Keberanian Dalam Keberagaman Karya Seni
Pameran tersebut sekaligus menjadi bagian dari perayaan lima tahun perjalanan WYAH Art & Creative Space. Sekaligus momentum lahirnya Kelompok WAYAH. Tiga peristiwa pun bertemu dalam satu momentum: 81 tahun kemerdekaan Indonesia, lima tahun perjalanan WYAH, dan lahirnya WAYAH.
Dalam sambutan kuratorialnya, Aricadia, yang juga merupakan salah satu peserta pameran, memberikan penjelasannya. Ia mengatakan nama WAYAH memiliki arti “matang”. Kelompok ini lahir dari pertemuan spontan para seniman. Seniman yang memiliki latar belakang, pengalaman, dan bahasa visual yang berbeda.
Mereka tidak dipersatukan oleh keseragaman gaya. Melainkan oleh keberanian untuk hadir bersama dalam keberagaman. Bagi WAYAH, kemerdekaan tidak berhenti pada sejarah.
Ia terus hidup dalam kesadaran manusia-ketika seseorang berani berpikir mandiri. Serta mempertanyakan yang mapan, menghargai perbedaan, dan memilih jalan hidup maupun jalan kreatifnya sendiri.
Dalam seni rupa, kemerdekaan menjadi persoalan yang sangat personal. Seorang seniman harus berani menemukan suaranya sendiri. Menemukan suara di tengah pengaruh sejarah, tradisi, selera, pasar, estetika, maupun tuntutan zaman. “Karena itu, 22 karya dalam JIWA MERDEKA bukanlah 22 suara yang seragam. Justru keberagaman itulah bentuk kemerdekaan,” kata Aricadia.
Aricadia kemudian mengajak publik membuka kembali jejak para perupa Indonesia. Jejak yang menurutnya dapat menjadi kompas bagi kebebasan artistik. Aricadia menyebut S. Sudjojono sebagai salah satu tonggak penting melalui gagasan “jiwa ketok”. Gagasan bahwa jiwa seorang seniman harus hadir dan tampak dalam karya.
Sikap kritisnya terhadap kecenderungan Mooi Indië menunjukkan keberanian. Keberanian untuk keluar dari gambaran keindahan yang dianggap terlalu romantis. Kemudian Affandi, dengan ledakan emosi, pengalaman langsung, dan gestur ekspresifnya, menunjukkan kebebasan rasa. Bebas rasa bahwa pengalaman batin dapat menjadi bahasa visual yang kuat.
Sementara Nashar, melalui konsep “tiga non”: nonteknik, nonkonsep, dan nonestetik, menawarkan keberanian. Keberanian untuk membebaskan penciptaan dari berbagai belenggu yang mengikat seniman.
Akar Budaya Dan Pemikiran Tokoh Seni Rupa Menurut Aricadia
Dari Bali, Aricadia kemudian mengajak melihat I Gusti Nyoman Lempad. Tokoh yang menemukan kebebasan personal tanpa harus kehilangan akar budayanya. Lempad hadir dalam masa perubahan seni Bali. Suasana ketika tradisi mulai bertemu dengan kesadaran seniman sebagai individu.
“Sudjojono mengajarkan bahwa jiwa harus ketok, Affandi menunjukkan kebebasan rasa, Nashar menawarkan pembebasan dalam mencipta, dan Lempad menunjukkan keberanian menjadi diri sendiri tanpa tercerabut dari akar budaya,” ujar Aricadia.
Dari sanalah Aricadia merumuskan bahwa JIWA MERDEKA bukanlah kebebasan tanpa akar. Ia adalah kebebasan untuk menjadi diri sendiri dengan tetap mengetahui dari mana kita berasal.
Bagi Aricadia, merdeka dalam berkesenian bukan berarti selalu berbeda atau selalu melawan. Kemerdekaan dimulai ketika seorang seniman berani mempertanggungjawabkan pilihan dan suaranya sendiri.
“Merdeka dalam berkesenian adalah ketika kita berani menjadi diri sendiri-meskipun belum tentu dipahami, belum tentu disukai, dan belum tentu langsung diakui,” ujarnya.
Simbol Kebebasan Berkarya Dan Penutupan Pameran Jiwa Merdeka
Semangat inilah yang dibawa WAYAH. Sebelas perupa hadir dengan sebelas pengalaman dan bahasa visual. Mereka hadir tanpa tuntutan untuk menyeragamkan gaya maupun gagasan. “Sebelas jiwa, dua puluh dua karya, satu ruang kebebasan,” ujarnya.
Ada pertemuan simbolik yang kuat dalam momentum ini. Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan, WYAH merayakan lima tahun perjalanan, dan WAYAH memulai perjalanannya dengan kematangan. Ketiganya bertemu pada 17 Agustus 2026.
JIWA MERDEKA pada akhirnya bukan sekadar pameran untuk memperingati kemerdekaan. Ia adalah ajakan untuk terus bertanya: seberapa merdekakah kita dalam berpikir, merasa, dan mencipta?
Kemerdekaan harus terus dirawat dalam kehidupan. Terus dirawat dalam keberanian menyampaikan gagasan, menghormati perbedaan, menjaga kemanusiaan, dan menciptakan sesuatu yang lahir dari kesadaran sendiri.
Melalui pameran ini, WAYAH merayakan seni sebagai ruang kebebasan. Ruang untuk berbeda, bertanya, merasakan, mencipta, dan terutama menjadi diri sendiri. “Merdeka dalam pikiran, merdeka dalam rasa, merdeka dalam mencipta, dan merdeka dalam berkarya,” tutup Aricadia.


















