Pameran Keliki Kawan Miniature Bangkit Digelar di ARMA Museum

Pameran Keliki Kawan Miniature Bangkit Digelar di ARMA Museum

GIANYAR, InsertBali Semangat pelestarian seni lukis miniatur khas Keliki Kawan kembali digaungkan. Gaung semangat melalui pameran “Om Hara Kailasha Exhibition: Keliki Kawan Miniature Bangkit”. Pameran tersebut digelar di ARMA Museum, Ubud, Gianyar.

Pameran dibuka langsung oleh Pendiri ARMA, Anak Agung Gede Rai. Ajang ini menghadirkan karya para perupa dari komunitas Keliki Kawan. Hadir sebagai bentuk kebangkitan kreativitas sekaligus upaya menjaga keberlanjutan tradisi Bali yang dijaga di tengah derasnya perkembangan zaman.

Pameran berlangsung sejak 17 September hingga 30 September 2026. Pameran menampilkan puluhan seniman dengan beragam karya miniatur khas yang menjadi ciri khas seni lukis Keliki Kawan.

Detail yang rumit, ketelitian tinggi, dan narasi kehidupan Bali menjadi daya tarik utama.

Momentum Kebangkitan Dan Pelestarian Seni Lukis Tradisi Generasi Muda

Ketua Panitia, I Wayan Mardika, memberikan keterangan pada Kamis (24/9). Ia mengaku bangga dapat terlibat langsung dalam ajang pameran seni tersebut. Menurutnya, pameran bukan sekadar ruang memamerkan karya seni semata. Tetapi juga sarana membangkitkan kembali seni miniatur Keliki Kawan. Bagi generasi muda dan masyarakat luas.

“Pameran ini menjadi momentum penting bagi kami para perupa untuk menunjukkan bahwa seni lukis miniatur Keliki kawan masih hidup dan terus berkembang. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menjaga warisan yang telah dirintis para pendahulu,” ujarnya didampingi salah satu peserta pameran, I Nyoman Dira.

Ia menambahkan, tantangan terbesar seniman adalah mempertahankan minat generasi muda. Oleh karena itu, kegiatan pameran, pelatihan, dan edukasi dinilai sangat penting. Penting agar seni miniatur tetap dikenal dan diminati luas.

Menurut Mardika, kehadiran ARMA Museum memberikan ruang apresiasi yang luas bagi para pelukis untuk memperluas jaringan karya.

Sekaligus memperkenalkan karya kepada wisatawan domestik maupun mancanegara di Ubud.

“Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, kami optimistis seni miniatur Keliki kawan dapat terus berkembang. Harapannya semakin banyak anak muda yang tertarik belajar dan melanjutkan tradisi ini,” katanya.

Pameran “Bangkit” menjadi cerminan semangat para perupa Keliki Kawan. Semangat untuk terus berkarya di tengah berbagai tantangan zaman.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya membutuhkan komitmen bersama. Komitmen agar tetap lestari dan relevan bagi generasi mendatang.

Apresiasi Pendiri ARMA Museum Dan Makna Kedalaman Kesabaran

Pendiri ARMA, Anak Agung Gede Rai, mengaku telah melihat banyak karya Bali.

Namun, setiap kali melihat lukisan miniatur khas Keliki Kawan, ia selalu terkesima. Ia selalu meluangkan waktu lebih lama untuk menikmatinya.

Menurutnya, karya-karya tersebut bukan sekadar berbicara ukuran kanvas yang kecil. Melainkan tentang kedalaman kesabaran yang melatarbelakangi proses pembuatannya.

“Dalam ruang yang kecil, para pelukis Keliki Kawan mampu menghadirkan seluruh kehidupan dunia. Ada pura, pasar, adegan Ramayana, hingga berbagai aktivitas keseharian masyarakat. Setiap detail digarap dengan sangat teliti, mulai dari sehelai rambut hingga ukiran rumit pada candi bentar pura,” ujar Anak Agung Gede Rai.

Ia menilai seni lukis miniatur Keliki Kawan merupakan bentuk meditasi. Meditasi yang diwujudkan secara nyata melalui sebuah karya seni. Seorang pelukis dituntut untuk memiliki ketenangan dan fokus tinggi. Serta penghormatan terhadap setiap goresan garis yang dibuat.

Arsip Kehidupan Dan Harapan Regenerasi Perupa Keliki Kawan

“Karena itu, saya melihat lukisan Keliki Kawan sebagai salah satu arsip paling jujur tentang Bali. Di dalamnya terekam cara berpakaian masyarakat, pelaksanaan upacara, suasana banjar, hingga berbagai momen kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Anak Agung Gede Rai menyebut keberlangsungan seni ini sebagai anugerah. Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, karya ini menjadi pengingat. Pengingat untuk kembali menghargai proses panjang dan kesabaran.

“Yang juga patut disyukuri, generasi muda Keliki Kawan terus berani bereksplorasi dengan warna dan tema-tema baru. Namun, mereka tetap menjaga roh utama tradisi ini, yakni ketelitian, kesabaran, dan rasa hormat terhadap proses berkarya,” ungkapnya.

Menurutnya, selama nilai kesabaran masih hidup di tengah masyarakat. Seni lukis miniatur Keliki Kawan akan terus bertahan melintasi zaman.

“Selama kesabaran itu masih ada, saya percaya lukisan miniatur Keliki Kawan tidak akan pernah mati. Ia akan terus hidup sebagai cermin kecil yang memantulkan keagungan Bali,” ujarnya.

Shares: