Bali Perkuat Pembangunan Berbasis Budaya dan Lingkungan
Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam menjalankan pembangunan berbasis kearifan lokal dan ramah lingkungan saat menghadiri gala dinner bersama Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan Indonesia (FKPTPKI) di Jayasabha, Rabu (20/5) petang.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian forum nasional FKPTPKI yang digelar selama dua hari di Universitas Udayana. Dalam sambutannya, Koster menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan forum. Serta memperkenalkan Jayasabha sebagai tempat bersejarah yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat Bali.
“Selamat datang di Jayasabha. Dulu tempat ini merupakan istana Kerajaan Badung dan kini menjadi lokasi menerima tamu-tamu kehormatan nasional maupun internasional,” ujar Koster.
Bali Dorong Produk Lokal dan Kurangi Plastik Sekali Pakai
Sebagai destinasi pariwisata dunia, Bali terus mengedepankan prinsip keramahtamahan dengan memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh tamu tanpa membedakan latar belakang maupun jabatan. Gubernur Koster juga memaparkan sejumlah kebijakan strategis Pemprov Bali. Yang berorientasi pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan produk lokal Bali. Salah satunya melalui regulasi penggunaan produk lokal di berbagai sektor mulai dari pertanian, perikanan hingga UMKM daerah.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Bali terus mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan styrofoam yang kini mulai diterapkan secara luas di hotel, restoran hingga pasar modern. “Masalah pembangunan ramah lingkungan sesungguhnya sudah lama hidup di Bali melalui warisan budaya dan kearifan lokal masyarakat,” katanya.
Konsep Sad Kerthi dan Segara Kerthi Jadi Landasan Pembangunan Bali
Dalam kesempatan tersebut, Koster turut menjelaskan konsep Sad Kerthi sebagai fondasi pembangunan Bali yang berkelanjutan. Ia mencontohkan pelaksanaan Tumpek Wariga sebagai bentuk penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan melalui pendekatan sekala dan niskala.
Menurutnya, masyarakat Bali diajarkan untuk memuliakan alam karena tumbuhan menjadi sumber kehidupan manusia, mulai dari penyedia oksigen hingga sumber pangan. Implementasi nyata konsep tersebut diwujudkan melalui program penghijauan dan penanaman pohon di berbagai wilayah.
Tak hanya itu, konsep Segara Kerthi juga disebut sebagai bentuk penghormatan terhadap laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Bali. Tradisi tersebut diwujudkan melalui berbagai ritual adat, termasuk upacara pekelem.
“Budaya Bali mengajarkan bagaimana merawat bumi dan alam secara berkelanjutan. Kerusakan yang terjadi harus dikonservasi dan dipulihkan kembali,” tegasnya.
Program Satu Keluarga Satu Sarjana Diperkuat
Dalam bidang pendidikan, Koster menyoroti program satu keluarga satu sarjana yang telah bekerja sama dengan 22 perguruan tinggi di Bali. Tahun ini, hampir 100 mahasiswa dari keluarga kurang mampu mendapatkan bantuan biaya kuliah dan biaya hidup.
Selain itu, kerja sama dengan perguruan tinggi juga diperluas melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah dengan program praktik lapangan tematik di desa-desa sesuai prioritas pembangunan daerah, mulai dari sektor pertanian, perkebunan hingga penguatan ekonomi desa.
“Bagi perguruan tinggi, ini menjadi momen melaksanakan pengabdian kepada masyarakat sekaligus meningkatkan taraf keilmuan,” ujarnya.
FKPTPKI Siap Berkolaborasi untuk Kemajuan Kemaritiman Indonesia
Sementara itu, Rektor Universitas Udayana, I Ketut Sudiarsana, mengatakan forum tersebut menjadi bukti sinergi antara pemerintah daerah, akademisi dan dunia industri dalam pengembangan sektor kemaritiman Indonesia. “Kita tidak hanya menghasilkan kebijakan organisasi, tetapi juga bagaimana institusi pendidikan mampu melahirkan sumber daya manusia unggul di bidang kemaritiman,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan solusi berbasis ilmu pengetahuan menuju Indonesia Emas 2045.
Ketua FKPTPKI, Agus Triyanto, mengaku terkesan dengan sambutan Pemerintah Provinsi Bali serta konsep pembangunan berbasis budaya yang diterapkan di Pulau Dewata. “Kami harus banyak belajar dari Bali. Forum ini siap berkolaborasi dan saling berbagi untuk kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi perikanan dan kelautan ke depan,” kata Agus.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Bali dan seluruh pihak yang mendukung sehingga pertemuan perdana FKPTPKI di Bali dapat berlangsung sukses.



















