Dari Telajakan, Bali Dijaga: Putri Koster Tekankan Disiplin Rumah Tangga dalam Gerakan Kulkul PKK

Kesadaran Kolektif Dimulai dari Rumah

Bangli – Bunyi kulkul yang menggema di Banjar Tiga Kawan, Desa Penglumbaran, Minggu (3/5), bukan sekadar penanda aktivitas gotong royong. Lebih dari itu, suara tersebut menjadi simbol kebangkitan kesadaran masyarakat bahwa kebersihan Bali berawal dari lingkungan rumah masing-masing.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, hadir langsung dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) Gerakan Kulkul PKK dan Posyandu. Ia menegaskan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang konsisten di tingkat keluarga.

Apresiasi Lingkungan Bersih dan Tertata

Sesampainya di lokasi, Putri Koster mengapresiasi kondisi Banjar Tiga Kawan yang terlihat rapi dan asri. Telajakan bersih, taman tertata, serta sistem penampungan sampah yang sudah tersedia di setiap rumah menjadi contoh nyata keberhasilan penerapan pola hidup bersih. “Ini sudah sangat baik dan bisa menjadi contoh bagi wilayah lain,” ujarnya.

Namun, apresiasi tersebut juga diiringi pesan tegas bahwa kebersihan tidak boleh hanya bergantung pada kegiatan bersama, melainkan harus menjadi kebiasaan sehari-hari.

Disiplin Individu Jadi Kunci Gerakan

Menurut Putri Koster, Gerakan Kulkul PKK bukan sekadar kegiatan bersih-bersih massal. Inti dari gerakan ini adalah membangun disiplin individu dalam menjaga lingkungan.

Ia menekankan bahwa setiap kali kulkul berbunyi, masyarakat cukup membersihkan telajakan dan area rumah masing-masing tanpa harus berkumpul di satu titik. “Tidak perlu selalu bersama-sama. Yang penting adalah konsistensi setiap orang menjaga lingkungannya,” tegasnya.

Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena mendorong tanggung jawab personal, bukan sekadar partisipasi sesaat.

Solusi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Selain menyoroti kebersihan lingkungan, Putri Koster juga mendorong penguatan sistem pengelolaan sampah. Ia mengajak desa adat dan desa dinas untuk berkolaborasi membangun fasilitas seperti TPS3R dan TPST berbasis lahan adat. Langkah ini bertujuan menciptakan sistem pengelolaan sampah yang terpadu dan berkelanjutan di tingkat desa.

Tak hanya itu, ia juga membagikan tips sederhana kepada warga, seperti memanfaatkan air cucian beras untuk membantu proses penguraian sampah organik. Solusi praktis ini diharapkan dapat diterapkan secara luas oleh masyarakat.

Penguatan Identitas Lokal dan Ekonomi Warga

Gerakan ini juga menyentuh aspek budaya dan ekonomi. Putri Koster mengajak warga menanam bunga pucuk bang di telajakan sebagai bentuk pelestarian identitas lokal Bali. Selain mempercantik lingkungan, langkah ini juga membuka peluang ekonomi bagi petani dan produsen tanaman lokal.

Kunjungan ke pelaku UMKM seperti usaha kue bolu milik Ni Komang Srinadi turut menunjukkan komitmen dalam mendukung ekonomi masyarakat kecil agar terus berkembang.

Kolaborasi dan Dukungan Pemerintah Daerah

Pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat menyambut positif gerakan ini. Perbekel Desa Penglumbaran, I Wayan Artawan, menyatakan kesiapan warga untuk terus mendukung program tersebut. Sementara itu, Bendesa Adat dan Camat Bangli menilai bahwa pendekatan berbasis tanggung jawab individu merupakan strategi yang tepat untuk menciptakan perubahan jangka panjang.

Meskipun implementasi di lapangan masih perlu ditingkatkan, seluruh pihak sepakat bahwa gerakan ini memiliki dampak besar jika dilakukan secara konsisten.

Gerakan Kecil, Dampak Besar untuk Bali

Gerakan Kulkul PKK bukan sekadar program kebersihan, melainkan upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat. Dari telajakan rumah, nilai gotong royong dan tanggung jawab lingkungan kembali dihidupkan. Pesan utama yang disampaikan Putri Koster sederhana namun kuat: Bali yang bersih dan lestari dimulai dari rumah masing-masing.

Gubernur Bali Wayan Koster Lepas Dua Menteri Pertahanan, Perkuat Diplomasi Indonesia–Jepang

Shares: