Ketua PUSPA Bali Kunjungi Balita Berisiko Stunting di Karangasem, Tekankan Peran Posyandu dalam Tumbuh Kembang Anak

Kunjungan PUSPA Bali ke Balita Berisiko Stunting di Karangasem

KARANGASEM – Ketua Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Provinsi Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta, melakukan kunjungan langsung ke balita berisiko stunting di wilayah Desa Manggis, Karangasem, Selasa (28/4). Kunjungan ini turut didampingi oleh Kepala Dinas Sosial dan P3A Provinsi Bali, A.A. Sagung Mas Dwipayani, serta jajaran Forum PUSPA Kabupaten Karangasem.

Dalam kegiatan tersebut, bantuan berupa paket sembako, beras, susu, popok, hingga kasur diserahkan kepada keluarga yang membutuhkan sebagai upaya mendukung pencegahan stunting di Bali.

Kondisi Balita dan Lingkungan Jadi Sorotan

Salah satu balita yang mendapat perhatian adalah Komang Dwi Arkana Putra (1,6 tahun), yang memiliki berat badan 8 kg dan masuk kategori berisiko stunting. Ia merupakan anak kelima dari pasangan I Ketut Sudarta dan Ni Nengah Leonawati.

Keluarga ini hidup dalam keterbatasan ekonomi, dengan mata pencaharian sebagai juru ngadas dan pembuat sarana upakara.

Saat meninjau langsung kondisi rumah, Ketua PUSPA Bali menyoroti kebersihan dapur dan kondisi hunian yang sempit serta kurang ventilasi. Ia menegaskan bahwa lingkungan yang tidak sehat dapat berdampak pada nafsu makan dan pertumbuhan anak.

“Dapur harus dibersihkan. Lingkungan yang kotor bisa memengaruhi kesehatan dan tumbuh kembang anak,” tegasnya.

Rencana Bantuan Bedah Rumah untuk Keluarga

Selain bantuan kebutuhan pokok, pemerintah juga merencanakan program bedah rumah bagi keluarga tersebut yang akan direalisasikan pada tahun 2027. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih layak dan sehat bagi tumbuh kembang anak, sekaligus menjadi bagian dari strategi penanggulangan stunting di Karangasem.

Kasus Balita Lain: Lahir Prematur dan Tanpa ASI

Bantuan serupa juga diberikan kepada keluarga Nengah Arya Wiguna (1 tahun), balita yang lahir prematur dengan berat badan 8,5 kg. Bayi ini tidak mendapatkan ASI sejak lahir dan mengalami gangguan sensorik pada penglihatan. Kondisi tersebut menjadikannya termasuk dalam kategori balita berisiko stunting yang membutuhkan perhatian khusus, baik dari keluarga maupun tenaga kesehatan.

Peran Posyandu Sangat Penting untuk Cegah Stunting

Dalam kesempatan tersebut, PUSPA Bali menekankan pentingnya peran posyandu dalam memantau tumbuh kembang anak secara rutin. Melalui posyandu, orang tua dapat memastikan perkembangan berat badan, tinggi badan, asupan gizi, hingga pemberian vitamin bagi balita.

“Jangan sampai terlambat atau lupa ke posyandu. Di sana pertumbuhan anak dipantau secara menyeluruh,” ujar Kadis Sosial Bali.

Upaya Nyata Tekan Angka Stunting di Bali

Kegiatan kunjungan langsung dan penyaluran bantuan ini menjadi bagian dari upaya nyata pemerintah dan organisasi masyarakat dalam menekan angka stunting di Bali. Pendampingan yang berkelanjutan, ditambah kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan lingkungan sehat, diharapkan mampu menciptakan generasi anak yang sehat dan berkualitas.

Perlunya Penerapan Kebijakan Anti-Kekerasan Seksual Berbasis Kesetaraan Gender dalam Mencegah Pelecehan

Shares: