Badung, Insert Bali— Penyelenggaraan Asia Pacific Offshore Exploration Symposium (APEX) 2026 di Bali dinilai memiliki urgensi tinggi di tengah upaya daerah ini menuju kemandirian energi dan transisi menuju energi bersih. Forum internasional yang berlangsung pada 15–17 April 2026 di kawasan Legian ini menjadi ruang strategis membahas masa depan energi Bali dan Indonesia.
Gubernur Bali, Wayan Koster, sebelumnya menegaskan bahwa kepastian ketersediaan energi merupakan faktor krusial bagi Bali. Sebagai destinasi pariwisata dunia yang bergantung pada stabilitas pasokan listrik.
Dorong Target Bali Mandiri Energi Bersih
APEX 2026 sejalan dengan kebijakan daerah melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Energi Bersih. Yang menargetkan Bali mandiri energi berbasis sumber terbarukan.
Forum ini menjadi wadah untuk mendiskusikan pemanfaatan teknologi eksplorasi lepas pantai. Guna mengurangi ketergantungan pasokan energi dari luar pulau, termasuk distribusi listrik melalui kabel laut dari Jawa.
Pendekatan ini dinilai penting untuk menciptakan sistem energi yang lebih tangguh, lokal, dan ramah lingkungan.
Teknologi CCS dan Inovasi Energi Masa Depan
Salah satu isu strategis yang mengemuka dalam simposium adalah pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Yaitu metode penangkapan dan penyimpanan karbon di bawah permukaan laut.
Teknologi ini menjadi solusi transisi bagi industri energi agar tetap beroperasi sembari menekan emisi gas rumah kaca. Dalam konteks global, CCS semakin relevan sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi sektor energi.
Potensi Geotermal dan Energi Laut
Secara geografis, Bali memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Khususnya panas bumi (geotermal) dan energi arus laut.
Pembahasan dalam APEX 2026 juga menyinggung bagaimana teknologi geofisika dapat dimanfaatkan untuk memetakan potensi tersebut secara lebih akurat dan efisien.
Optimalisasi energi laut, seperti gelombang dan arus, dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang bagi kebutuhan energi Bali.
Ketahanan Energi untuk Pariwisata
Sebagai destinasi wisata global, Bali membutuhkan sistem energi yang stabil dan bebas gangguan. Ketahanan energi menjadi syarat utama untuk menjaga kepercayaan wisatawan dan pelaku industri pariwisata.
Eksplorasi sumber energi di wilayah perairan Indonesia Timur yang relatif dekat dengan Bali dipandang sebagai langkah strategis untuk mengamankan pasokan gas bumi sebagai energi transisi sebelum beralih sepenuhnya ke energi terbarukan.
Dukungan Internasional dan Peluang Investasi
Simposium yang diselenggarakan oleh Society of Exploration Geophysicists ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, peneliti, hingga perusahaan energi global.
Selain menjadi forum ilmiah, APEX 2026 juga membuka peluang investasi di sektor energi, termasuk eksplorasi laut dalam (deepwater), pengembangan energi terbarukan, serta penerapan teknologi geofisika terbaru.
Bagi Bali, forum ini tidak hanya berdampak pada penguatan kebijakan energi, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi melalui sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).
Momentum Perkuat Ketahanan Energi Bali
Dengan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Bali, APEX 2026 diharapkan menjadi momentum penting dalam mempercepat transformasi energi daerah.
Kombinasi antara inovasi teknologi, kolaborasi internasional, dan kebijakan lokal yang progresif diyakini mampu mendorong Bali menuju kemandirian energi yang berkelanjutan sekaligus menjaga daya saing sebagai destinasi wisata dunia.
Di Forum APEX 2026, Gubernur Koster Tekankan Urgensi Kepastian Energi untuk Bali



















