GIANYAR, InsertBali – Denyut nadi kesenian di kawasan pariwisata Ubud, Gianyar, seolah tak pernah kehabisan napas. Hal ini dibuktikan oleh pergerakan teranyar dari Komunitas Insan Perupa Bali yang resmi menggelar pameran seni rupa bertajuk “Beauty In Freedom” di Monkey Forest Art Gallery, Ubud, yang dibuka pada Rabu (14/10/2026) sore.
Pameran yang berlangsung selama sebulan, mulai 14 Oktober hingga 14 November 2026 ini, bukan sekadar ajang unjuk pajang visual. Lebih dari itu, pameran ini merupakan manifestasi dari tekad sebuah komunitas yang ingin merawat dan menumbuhkan ekosistem seni rupa. Saat pembukaan pameran ini juga ditandai pelepasan puluhan burung sebagai simbolik dari tema “Beauty In Freedom”.
Ketua Komunitas Insan Perupa Bali, Ketut Ardana Maiyana, mengungkapkan kehadiran pameran ini tidak lepas dari embrio komunitas itu sendiri. “Komunitas ini lahir karena teman-teman perupa sangat antusias ingin menghimpun diri dalam sebuah wadah. Adapun visi dan misi utama yang menyatukan kami di Insan Perupa Bali adalah keinginan kuat untuk terus belajar bersama, mengembangkan kapasitas. Sekaligus melestarikan kesenian, khususnya pada ranah seni lukis dan karya-karya dua dimensi lainnya,” ungkap Ardana Maiyana.
Pria asal Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar menambahkan, tajuk “Beauty In Freedom” yang diusung pun terasa sangat representatif dalam mencerminkan wajah komunitas ini. Alih-alih menyeragamkan gaya, komunitas memberikan otonomi dan ruang kebebasan berekspresi yang seluas-luasnya bagi setiap anggota. Hasilnya adalah sebuah harmoni visual yang kaya akan diferensiasi gaya dan karakter.
Eksplorasi Corak Visual dan Medium Unik Antar-Generasi
Para pengunjung yang hadir dapat menelusuri kekayaan corak lukisan yang merentang dari kelembutan impresi cahaya khas aliran impresionis, alam dalam sapuan naturalis. Hingga goresan-goresan presisi dan warna berani dari karya dekoratif.
Tidak hanya berhenti pada kanvas, daya eksplorasi komunitas ini juga mendobrak batas medium konvensional. Dengan hadirnya suguhan karya seni instalasi yang bermedium kayu, batu, dan besi oleh perupa Herman Kimong. Selain itu, karya lukisan unik dengan teknik bakar di atas kanvas ditampilkan oleh Sang Made Budiasa, perupa asal Banjar Silungan, Desa Lodtunduh, Ubud.
Kolaborasi 22 Perupa Lintas Generasi dan Harapan ke Depan
Kekuatan utama dari pergerakan komunitas ini bertumpu pada energi 22 perupa lintas generasi yang saling bersinergi. Perupa yang bahu-membahu memamerkan dedikasi estetiknya dalam perhelatan ini adalah A Maiyana, Md Teresna, Wy Sudirta, Suartana, Kesuma T, Agung Adi, Ardika, Dw Ardana, GN Wijana, Kesuma Jaya, Wy Merta, SM Budiasa, Wy Sudiarta, Wy Artana, Artha Wijaya, Md Tinggal, Md Warjana, Kt Subarya, Gst Astawa, Herman K, Md Saryana, dan Sudarsana.
“Harapan kami ke depan, kehadiran komunitas ini benar-benar bisa memacu peningkatan kualitas karya. Dengan adanya wadah gelar pameran secara reguler seperti ini, kami memiliki ruang evaluasi untuk menantang diri kami sendiri. Sehingga pada akhirnya, perupa-perupa di komunitas ini siap memperkenalkan karya mereka lebih jauh lagi. Di berbagai ruang seni, kesempatan, dan pameran bergengsi lainnya,” ujarnya penuh optimisme.
Sebagai bentuk nyata interaksi seni, pihak penyelenggara secara terbuka mengundang masyarakat luas, penikmat seni, hingga wisatawan yang tengah berada di Ubud untuk hadir menyempatkan diri singgah di Monkey Forest Art Gallery. Melalui apresiasi publik, keberlanjutan dan semangat belajar yang tengah disemai oleh Komunitas Insan Perupa Bali. Diharapkan dapat terus mekar dan memberi warna baru bagi konstelasi seni rupa.



















