Rakernas ASBF 2026 di Denpasar Dihadiri 10 Negara, Wayan Koster Harap Dongkrak UMKM Bali

Denpasar — Ratusan peserta dari 10 negara menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asia Small Business Federation (ASBF) Indonesia dan ASBF International Conference 2026 yang digelar di Denpasar. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari Gubernur Bali Wayan Koster yang menilai forum tersebut mampu memperkuat UMKM dan ekonomi lokal Bali.

Hal tersebut disampaikan Koster saat menghadiri Gala Dinner yang berlangsung di Prama Sanur Beach Hotel pada Kamis (23/4) malam.

Rakernas ASBF 2026 Dorong UMKM dan Pariwisata Bali

Dalam sambutannya, Wayan Koster menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Bali sebagai tuan rumah Rakernas ASBF 2026. Ia berharap kegiatan ini memberikan dampak nyata bagi pengembangan UMKM Bali, sekaligus memperkuat ekonomi berbasis lokal.

Menurutnya, kehadiran sekitar 150 peserta dari berbagai negara turut mendorong peningkatan hunian hotel serta aktivitas ekonomi masyarakat. Tingkat okupansi hotel yang mencapai 85 persen menjadi indikator positif bahwa event internasional seperti ini berdampak langsung pada sektor pariwisata.

Koster Soroti Pentingnya Budaya dalam Pariwisata Bali

Dalam kesempatan tersebut, Koster yang didampingi I Nyoman Giri Prasta juga menyinggung kondisi demografi Bali yang mengalami penurunan pertumbuhan penduduk asli. Ia mengaitkan hal tersebut dengan program keluarga berencana di masa lalu. Yang berdampak pada berkurangnya penggunaan nama tradisional Bali seperti Nyoman dan Ketut.

Sebagai langkah menjaga identitas budaya, Pemerintah Provinsi Bali kini mendorong kebijakan insentif bagi anak ketiga dan keempat, khususnya yang menggunakan nama tradisional Bali. Menurutnya, pelestarian budaya menjadi kunci utama keberlanjutan pariwisata Bali.

Ia menegaskan bahwa kekuatan utama Bali terletak pada budaya yang menjadi daya tarik wisata dunia, sehingga harus terus dijaga dan dirawat secara konsisten.

Ekonomi Bali Tumbuh Positif, UMKM Jadi Pilar Penting

Gubernur Koster mengungkapkan bahwa ekonomi Bali saat ini menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan mencapai 5,82 persen. Tingkat kemiskinan berada di angka 3,42 persen dan pengangguran 1,45 persen, termasuk yang terendah di Indonesia.

Menurutnya, capaian ini harus dijaga melalui penguatan sektor UMKM sebagai penopang ekonomi alternatif sekaligus penguat rantai pasok pariwisata. Ia menekankan bahwa Bali masih bergantung pada sektor pariwisata. Sehingga diversifikasi ekonomi melalui UMKM menjadi sangat penting.

Transformasi Ekonomi Bali Berbasis Tri Hita Karana

Lebih lanjut, Koster menjelaskan bahwa arah pembangunan ekonomi Bali kini mengacu pada konsep transformasi ekonomi berbasis filosofi Tri Hita Karana. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya dalam pembangunan berkelanjutan.

Transformasi tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari pertanian, kelautan dan perikanan, industri berbasis budaya. Hingga UMKM, pariwisata, serta ekonomi kreatif dan digital. Ia berharap melalui forum Rakernas ASBF, akan lahir berbagai inovasi, kolaborasi, serta kerja sama internasional yang mampu meningkatkan daya saing UMKM Bali di pasar global.

ASBF Perkuat Ekosistem UMKM Global

Sementara itu, Presiden ASBF Indonesia, Peng Suyoto menyampaikan bahwa Rakernas ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi dan menyelaraskan strategi pengembangan UMKM secara nasional maupun global. Ia menjelaskan bahwa ASBF merupakan platform kolaborasi yang menghubungkan pelaku usaha kecil dari berbagai negara di Asia. Melalui forum ini, ASBF berkomitmen membangun ekosistem bisnis yang tangguh, inovatif, serta berdaya saing melalui pemanfaatan teknologi dan kemitraan berkelanjutan.

Acara ini juga dihadiri sejumlah tokoh penting seperti Mosaddak Ahmed Chowdhury dan Hermawan Kartajaya, serta jajaran pemerintah daerah.

Shares: