Putri Koster Jadikan Pasar Rakyat sebagai Gerakan Ekonomi dan Perubahan Perilaku, Ajak Warga Bali Berbelanja Produk Lokal dan Kelola Sampah dari Sumber

Putri Koster Dorong Pasar Rakyat Jadi Penggerak Ekonomi Kerakyatan dan Perubahan Sosial

BANGLI – Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, menegaskan bahwa Pasar Rakyat “Masyarakat Berbelanja dan Berbagi” bukan sekadar kegiatan jual beli, melainkan gerakan ekonomi kerakyatan yang dirancang untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong perubahan perilaku sosial di Bali.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Pasar Rakyat “Masyarakat Berbelanja dan Berbagi” yang digelar di Alun-Alun Kota Bangli, Rabu (8/7/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri kecil menengah (IKM), petani, peternak, serta masyarakat dalam satu ruang ekonomi yang bertujuan menggerakkan transaksi produk lokal sekaligus memperkuat semangat gotong royong.

Di hadapan Ketua TP PKK Kabupaten/Kota se-Bali, jajaran pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Putri Koster menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari gagasan sederhana ketika dirinya memimpin TP PKK Provinsi Bali periode 2018–2023.

Ia menginginkan adanya wadah yang dapat mempertemukan seluruh pengurus PKK secara rutin. Namun memiliki manfaat nyata bagi masyarakat dan pelaku ekonomi lokal.

“Lalu tiang punya ide, bagaimana kalau seperti arisan, tetapi bentuknya adalah Pasar Rakyat Berbelanja dan Berbagi. Jadi setiap bulannya kami keliling,” ungkap Putri Koster.

Perputaran Ekonomi Capai Ratusan Juta Rupiah

Sejak pertama kali dilaksanakan, Pasar Rakyat terus bergulir dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya dengan dukungan Pemerintah Provinsi Bali melalui TP PKK Provinsi Bali.

Menurut Putri Koster, dukungan anggaran sekitar Rp200 juta pada setiap penyelenggaraan. Terbukti mampu menciptakan perputaran ekonomi yang jauh lebih besar bagi masyarakat.

Ia mengungkapkan bahwa sejumlah penyelenggaraan Pasar Rakyat sebelumnya bahkan mampu menghasilkan transaksi hingga Rp500 juta sampai Rp800 juta dalam satu kegiatan.

“Dengan modal yang kita keluarkan rata-rata Rp200 juta, semoga hasil penjualan para produsen. baik kuliner, pertanian maupun IKM, bisa jauh di atas Rp200 juta. Selama ini bahkan ada yang mencapai Rp500 juta, Rp600 juta hingga Rp800 juta,” ujarnya.

Meski demikian, Putri Koster menegaskan bahwa keberhasilan Pasar Rakyat tidak semata-mata diukur dari besarnya nilai transaksi.

Menurutnya, tujuan utama kegiatan ini adalah mempertemukan produsen dan konsumen secara langsung sehingga hasil pertanian, peternakan, perikanan, dan produk UMKM memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik tanpa harus melalui rantai distribusi yang panjang.

Konsep Berbelanja dan Berbagi untuk Masyarakat

Keunikan Pasar Rakyat yang digagas TP PKK Bali terletak pada konsep “Berbelanja dan Berbagi”. Selain bertransaksi, kegiatan tersebut juga menjadi sarana berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dalam pelaksanaan di Bangli, sebanyak 100 warga menerima bantuan berupa paket kebutuhan pokok dan berbagai produk. Yang dibeli langsung dari para pedagang yang membuka stan di lokasi kegiatan.

Putri Koster menjelaskan bahwa seluruh produk yang dibeli oleh pengurus TP PKK tidak dibawa pulang. Melainkan disalurkan kembali kepada masyarakat.

“Belanjaannya tidak kami bawa pulang. Dari dana yang dimiliki PKK, kami berbagi. Kami membeli langsung produk para pedagang di sini agar manfaatnya kembali kepada masyarakat,” katanya.

Menurutnya, konsep tersebut memberikan manfaat ganda karena mampu meningkatkan penjualan pelaku usaha lokal sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan.

Ajak Masyarakat Cintai Produk Lokal Bali

Dalam kesempatan tersebut, Putri Koster juga mengajak masyarakat Bali untuk lebih mencintai dan menggunakan produk lokal. Sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi daerah.

Ia menilai Bali memiliki potensi besar di sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan industri kreatif yang kualitas produknya tidak kalah dibandingkan daerah lain.

Karena itu, masyarakat diharapkan memprioritaskan konsumsi produk lokal sebelum mendatangkan produk dari luar daerah.

“Apa yang dihasilkan di Bali sebaiknya dinikmati semaksimalnya untuk Bali. Kekurangannya barulah kita datangkan dari luar. Jangan sampai terbalik, apa yang kita hasilkan di Bali justru kita jual keluar, lalu kita dengan bangga membeli produk dari luar,” tegasnya.

Soroti Perubahan Mindset Pengelolaan Sampah

Selain berbicara mengenai ekonomi kerakyatan, Putri Koster juga menyinggung isu lingkungan yang saat ini menjadi fokus Pemerintah Provinsi Bali, yakni pengelolaan sampah berbasis sumber.

Ia mengajak masyarakat mengubah pola pikir lama yang menganggap sampah sebagai tanggung jawab pemerintah semata.

Menurutnya, setiap individu harus bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan mulai dari rumah tangga masing-masing.

Pesan tersebut sejalan dengan implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber serta berbagai kebijakan Pemerintah Provinsi Bali dalam mewujudkan Bali bersih sampah.

“Mari Bali mulai dari sekarang mengubah mindset. Sampah yang kita hasilkan adalah tanggung jawab kita sendiri. Pemerintah tugasnya membuat kebijakan, membuat aturan, dan menegakkan aturan. Dengan demikian barulah semuanya menjadi tertib,” ujarnya.

Ia optimistis perubahan budaya pengelolaan sampah dapat terwujud apabila pemerintah dan masyarakat berjalan bersama dalam melaksanakan aturan yang telah ditetapkan.

Bangli Tampilkan Potensi Pertanian dan Peternakan Unggulan

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Bangli, Ny. Sariasih Sedana Arta, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Bangli sebagai tuan rumah kegiatan Pasar Rakyat.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan berbagai potensi unggulan daerah, khususnya di sektor pertanian dan peternakan.

Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Bangli merupakan penghasil telur terbesar di Provinsi Bali dan menjadi satu-satunya daerah di Bali yang memproduksi telur Omega-3.

“Melalui kegiatan ini kami berharap produk-produk unggulan Bangli semakin dikenal dan dapat diserap oleh masyarakat dari seluruh kabupaten dan kota di Bali,” ujarnya.

Pasar Rakyat kali ini diikuti oleh 27 pelaku Industri Kecil Menengah (IKM), 65 pelaku UMKM, serta 17 pelaku usaha sektor pertanian.

Hingga pukul 10.00 WITA, nilai transaksi yang tercatat telah mencapai lebih dari Rp217 juta dan diperkirakan terus meningkat hingga penutupan kegiatan.

Pasar Rakyat “Masyarakat Berbelanja dan Berbagi” menunjukkan pendekatan pembangunan ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada transaksi. Tetapi juga pemberdayaan masyarakat dan perubahan perilaku sosial. Melalui model ini, pelaku UMKM, IKM, petani, dan peternak memperoleh akses pasar yang lebih luas. Sementara masyarakat mendapatkan kesempatan untuk mengonsumsi produk lokal secara langsung.

Di sisi lain, integrasi pesan tentang pengelolaan sampah dalam kegiatan ekonomi menunjukkan upaya membangun kesadaran kolektif bahwa kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pendekatan tersebut sejalan dengan visi pembangunan Bali yang menempatkan ekonomi kerakyatan, pelestarian budaya, dan kelestarian lingkungan sebagai fondasi utama pembangunan daerah.

 

Gubernur Koster: PSEL Bali Jadi Solusi Tuntas Persoalan Sampah, Perkuat Citra Pariwisata Dunia

Shares: