Gubernur Koster: PSEL Bali Jadi Solusi Tuntas Persoalan Sampah, Perkuat Citra Pariwisata Dunia

DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali resmi memulai pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bali di Desa Pedungan, Denpasar Selatan, Rabu (8/7/2026). Proyek strategis nasional yang menjadi bagian dari program percepatan pembangunan PSEL berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tersebut. Digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang dalam menyelesaikan persoalan sampah di Pulau Dewata. Sekaligus memperkuat citra Bali sebagai destinasi pariwisata dunia yang bersih dan berkelanjutan.

Peresmian pembangunan dilakukan di tengah upaya Pemerintah Provinsi Bali mempercepat transformasi sistem pengelolaan sampah. Dari pola konvensional menuju pengelolaan modern yang terintegrasi dengan energi terbarukan. PSEL Bali juga menjadi proyek pertama yang memulai tahap konstruksi. Dalam program percepatan PSEL nasional yang dicanangkan pemerintah pusat.

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa keberadaan fasilitas tersebut menjadi kebutuhan mendesak mengingat tingginya volume sampah yang dihasilkan setiap hari serta besarnya ketergantungan ekonomi Bali terhadap sektor pariwisata.

Koster: Sampah Harus Diselesaikan Secara Tuntas

Dalam sambutannya, Gubernur Koster menyampaikan bahwa pemilihan hari pelaksanaan groundbreaking yang bertepatan dengan hari baik menurut penanggalan Bali merupakan bentuk harapan agar seluruh proses pembangunan berjalan lancar dan selesai sesuai target.

“Niat baik Bapak Presiden juga dijalankan dengan cara yang baik, dengan memilih hari yang baik untuk memulai pembangunan PSEL ini,” ujar Koster.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan PSEL merupakan hasil kolaborasi erat antara Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kota Denpasar. Dalam pembagian tugas tersebut, Pemerintah Kota Denpasar bersama Pelindo menyiapkan lahan seluas sekitar enam hektare, sementara Pemerintah Provinsi Bali bertanggung jawab melakukan pematangan lahan untuk mempercepat proses pembangunan.

Koster berharap proyek tersebut dapat diselesaikan sesuai jadwal dalam waktu satu tahun delapan bulan atau sekitar Oktober 2027 sehingga segera dapat beroperasi.

“Semoga pembangunan ini selesai tepat waktu. Jika PSEL ini selesai, maka persoalan sampah di Bali dapat ditangani secara tuntas,” katanya.

Jaga Bali sebagai Destinasi Pariwisata Dunia

Menurut Koster, penyelesaian persoalan sampah memiliki keterkaitan langsung dengan keberlangsungan sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali.

Ia mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke Bali saat ini telah melampaui 16 juta orang per tahun, terdiri atas sekitar 7,5 juta wisatawan mancanegara dan 9,3 juta wisatawan domestik.

Dengan kontribusi sektor pariwisata yang mencapai sekitar 65 persen terhadap perekonomian daerah. Bali membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang mampu menjamin kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.

“Bali adalah destinasi wisata dunia. Karena itu, persoalan sampah harus ditangani dengan serius agar citra Bali tetap terjaga sebagai daerah yang bersih, nyaman, dan berkualitas,” ujarnya.

Atas dukungan pemerintah pusat terhadap pembangunan proyek tersebut, Koster menyampaikan apresiasi kepada Presiden Republik Indonesia. Yang telah memberikan perhatian khusus terhadap penanganan persoalan sampah di Bali.

“Mewakili Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat Bali, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden atas dukungan terhadap pembangunan PSEL ini. Kami akan terus mengawal pelaksanaan pekerjaan agar berjalan dengan baik sesuai target,” tegasnya.

Danantara Optimistis Proyek Rampung Tepat Waktu

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan pembangunan PSEL Bali menjadi contoh nyata. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan.

Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar persoalan sampah segera ditangani sehingga tidak menjadi beban bagi generasi mendatang.

“Tanpa sinergi seluruh pihak, proyek ini tidak akan berjalan dengan baik dan cepat. Kami di Danantara optimistis pembangunan PSEL Bali dapat diselesaikan tepat waktu,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai keberhasilan pembangunan PSEL tidak lepas dari semangat gotong royong. Yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah.

Ia menyebut penyederhanaan regulasi serta koordinasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam mempercepat penyelesaian persoalan sampah nasional.

Teknologi Modern Berstandar Eropa

Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa sejak terbitnya Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, pihaknya bergerak cepat melakukan berbagai tahapan persiapan proyek.

Mulai dari seleksi mitra strategis, negosiasi kerja sama, pembentukan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP). Penandatanganan joint venture agreement, proses perizinan hingga pematangan lahan telah diselesaikan untuk memastikan proyek dapat segera memasuki tahap konstruksi.

PSEL Bali akan menggunakan teknologi moving grate incinerator, teknologi yang telah digunakan secara luas di berbagai negara maju untuk mengolah sampah menjadi energi listrik.

Teknologi tersebut dilengkapi Air Pollution Control System (APCS) berlapis dengan standar emisi European Union Industrial Emissions Directive (EU IED) sehingga mampu menekan emisi secara signifikan.

Menurut Pandu, sistem tersebut diproyeksikan mampu mengurangi emisi hingga 80 persen dibandingkan metode pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Investasi Rp3 Triliun, Olah 1.500 Ton Sampah per Hari

PSEL Bali dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun dan memiliki kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah per hari.

Selain menjadi solusi pengelolaan sampah modern, fasilitas ini juga akan menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

PSEL Bali diproyeksikan mampu memasok kebutuhan listrik untuk sekitar 100.000 rumah tangga sekaligus menciptakan hingga 1.200 lapangan kerja hijau selama masa konstruksi maupun operasional.

Target operasi komersial fasilitas tersebut dijadwalkan mulai berjalan pada Semester I Tahun 2028.

Mengusung Filosofi Tri Hita Karana

Keunikan PSEL Bali tidak hanya terletak pada teknologi yang digunakan, tetapi juga pada konsep desain yang mengintegrasikan identitas budaya lokal.

Fasilitas ini dirancang dengan mengadopsi filosofi Tri Hita Karana. Konsep keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Bali.

Arsitektur bangunan akan mengadopsi unsur-unsur lokal dengan penggunaan material daerah serta dilengkapi fasilitas visitor center dan jalur edukasi yang dapat dimanfaatkan pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat umum.

Konsep tersebut diharapkan menjadikan PSEL tidak hanya sebagai fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga pusat edukasi lingkungan dan energi berkelanjutan.

Dampak dan Analisis

Pembangunan PSEL Bali menjadi tonggak penting dalam transformasi pengelolaan sampah di Pulau Dewata. Selama bertahun-tahun, persoalan sampah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Bali sebagai destinasi wisata internasional. Tingginya jumlah kunjungan wisatawan, pertumbuhan ekonomi, dan aktivitas masyarakat menghasilkan volume sampah yang terus meningkat setiap tahun.

Dengan kapasitas 1.500 ton per hari, PSEL Bali berpotensi menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap TPA sekaligus mengubah sampah menjadi sumber energi yang produktif. Selain manfaat lingkungan, proyek ini juga memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, dan penguatan citra Bali sebagai destinasi wisata yang menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan.

 

Tas Berisi Emas dan Uang Tunai Raib dari Sadel Motor Saat Korban Jogging di Pantai Klotok

Shares: