Paranormal Bali Jro Master Bayu Gendeng Ungkap Analisis Energi Tahun 2026

Paranormal Bali Jro Master Bayu Gendeng Ungkap Analisis Energi 2026: Tahun Panas Emosi, Ujian Ekonomi, dan Karma Sosial

BALI — Paranormal asal Bali, Made Bayu Gendeng yang dikenal sebagai Jro Master Bayu Gendeng, mengungkapkan analisis mendalam terkait gambaran energi tahun 2026. Pemaparan tersebut disampaikan pada Rabu, 31 Desember 2025, dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan tradisional Bali dan perhitungan kosmis, bukan sekadar ramalan mistis.

Menurut Jro Master Bayu Gendeng, tahun 2026 merupakan periode penting yang sarat dengan ujian emosional, tantangan ekonomi, serta proses pembersihan karma sosial bagi umat manusia. Ia menegaskan bahwa dinamika yang terjadi sepanjang 2026 perlu disikapi dengan kesadaran, pengendalian diri, dan kebijaksanaan kolektif.

Berbasis Ilmu Tradisional Bali

Bayu Gendeng menjelaskan, analisis yang ia sampaikan berlandaskan tiga pilar utama ilmu tradisional. Pertama, Ilmu Jyotisa, yang mempelajari pergerakan benda langit dan pengaruhnya terhadap energi kehidupan. Kedua, Ilmu Wariga, sistem penanggalan Bali untuk membaca karakter waktu. Ketiga, Angka Semesta, yakni pendekatan numerologi guna memahami pola energi tahunan.

“Kombinasi ketiga ilmu ini memberikan gambaran yang cukup jelas tentang arah peristiwa dan tantangan yang akan dihadapi sepanjang tahun 2026,” ujarnya.

Tahun Api Bertemu Logam, Emosi Jadi Ujian

Secara energi alam, tahun 2026 disebut sebagai Tahun Api, sementara secara numerologi berada dalam Elemen Logam. Pertemuan dua elemen yang saling bertentangan ini, menurutnya, berpotensi memicu ketegangan psikologis di masyarakat.

“Api bertemu logam itu panas di pikiran. Orang mudah tersulut emosi, reaktif, dan berisiko salah mengambil keputusan jika tidak mampu mengendalikan diri,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya menenangkan pikiran dan tidak terburu-buru dalam menyikapi persoalan.

Simbol Kuat Angka 8

Tahun 2026 juga memiliki struktur numerologi yang kuat. Penjumlahan angka 2 dan 6 menghasilkan angka 8, simbol peluang besar dan siklus energi yang tidak terputus. Menariknya, hari pertama dan hari terakhir tahun 2026 sama-sama jatuh pada Wraspati (Kamis) yang juga bernilai 8.

Namun, Bayu Gendeng mengingatkan bahwa energi besar tersebut bisa berubah menjadi mental block atau kebuntuan hidup jika emosi dan ego tidak terkelola dengan baik.

Kalender Bali 1 Januari 2026

Dalam perhitungan kalender Bali, 1 Januari 2026 jatuh pada Wraspati Pon dengan total urip 15, Triwara Kajeng, Sasih Kepitu, dan Wuku Klurut yang melambangkan kasih sayang. Ingkel berada pada Wong dengan Dewa Penjaga Betara Wisnu, yang diharapkan membawa kesejukan dan penetral panas energi.

Namun, munculnya tanda alam seperti Lintang Badai dan Patining Amerta disebut sebagai peringatan akan tantangan besar yang menuntut kewaspadaan dan kebijaksanaan bersama.

Prediksi Jro Master Bayu Gendeng, Ekonomi 2026 Stagnan

Di sektor ekonomi, Jro Master Bayu Gendeng memprediksi kondisi yang cenderung rumit dan stagnan. Ia mengimbau masyarakat agar tidak gegabah melakukan spekulasi bisnis atau mengambil pinjaman besar.

“Ini bukan tahun untuk nekat. Manajemen keuangan harus ketat, hidup lebih sederhana, dan sangat selektif dalam menentukan waktu atau dauh memulai usaha,” tegasnya.

Tahun Karma dan Pembersihan Sosial

Lebih lanjut, 2026 disebut sebagai Tahun Sancita Karma, ditandai dengan getaran angka kembar 88. Reaksi karma diprediksi menguat pada bulan Maret, April, Mei, September, dan Oktober.

Pada periode tersebut, perilaku buruk, penyimpangan moral, serta kebijakan yang tidak berpihak pada kebenaran diyakini akan mulai terbuka dan menuai konsekuensinya. “Alam semesta sangat sensitif. Sumpah dan janji yang diucapkan akan langsung direspons,” ungkapnya.

Pesan Spiritual: Tri Hita Karana

Menutup analisanya, Jro Master Bayu Gendeng menekankan pentingnya kembali menjalankan nilai Tri Hita Karana secara nyata, bukan sekadar slogan. Menurutnya, berbagai bencana dan gejolak adalah bentuk sentilan alam agar manusia kembali menjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan.

“Kesucian dan taksu Bali harus dijaga. Jangan sampai terkikis oleh keserakahan dan kerusakan alam,” pungkasnya.

Shares: