Menjadi Perempuan Bernilai Menurut Ajaran Hindu, Berani Menolak Perlakuan Buruk

Menjadi Perempuan Bernilai Menurut Ajaran Hindu, Berani Menolak Perlakuan Buruk

BADUNG, InsertBali Di era modern saat ini, kaum perempuan kerap kali dihadapkan pada standar kehidupan yang semakin kompleks. Mereka dituntut untuk tampil rupawan, mandiri, sukses, berwawasan luas, sekaligus sanggup memenuhi berbagai ekspektasi sosial yang menyita energi. Situasi ini kian pelik apabila mereka terus-menerus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, terutama melalui dinamika di media sosial.

Pandangan tersebut dikemukakan oleh seorang mahasiswa pascasarjana S2 Inti Malaysia, Putu Ayu Suniadewi. Menurutnya, jika merujuk pada ajaran Hindu dan tradisi Bali kuno, esensi nilai dari seorang perempuan sejatinya tidak pernah diukur dari aspek fisik semata atau sekadar pengakuan duniawi. Perempuan justru diposisikan sebagai hulu kehidupan, penjaga pilar keseimbangan, serta pembawa aura keharmonisan.

Filsafat Hindu sangat mengenal konsep Shakti, yakni simbol energi suci yang menjadi motor penguatan alam semesta. Kaum perempuan dipandang mempunyai kekuatan batin yang sangat luar biasa. Hal itu dikarenakan rahim batinnya mampu menumbuhkan rasa kasih sayang, keteguhan prinsip, dan keberlangsungan hidup. Oleh sebab itu, tolok ukur perempuan yang bernilai bukan terletak pada banyaknya pujian yang diterima. Melainkan dari sejauh mana ia mampu memberikan kontribusi positif bagi dirinya, keluarga, serta lingkungan sekitar.

Implementasi Tri Kaya Parisudha di Tengah Budaya Modern

Refleksi nilai ini juga tersebar luas di dalam lembaran lontar Bali kuno. Salah satunya termuat dalam ajaran Silakrama. Perempuan dituntun untuk senantiasa mengimplementasikan asas Tri Kaya Parisudha, yang meliputi kesucian berpikir (manacika), kesantunan berkata (wacika), dan kebaikan berperilaku (kayika).

Etika moral ini mempertegas bahwa kualitas diri seseorang tidak dinilai dari apa yang kasatmata di luar. Namun, kualitas itu memancar dari kemurnian pemikiran dan tindakan sehari-hari. Di tengah gempuran budaya modern yang sarat persaingan ego dan aksi saling menjatuhkan, konsep kesucian ini menjadi sangat kontekstual. Perempuan yang berkualitas tinggi ialah mereka yang sanggup membentengi pikirannya agar tetap jernih, serta tidak mudah terhasut oleh rasa dengki maupun kebencian.

Apalagi Dalam Bhagavad Gita disebutkan jika seseorang harus mengangkat dirinya sendiri dengan pikirannya dan tidak merendahkan dirinya sendiri yang mengingatkan bahwa pikiran dapat menjadi sahabat atau musuh bagi diri sendiri.

Dewasa ini, tidak sedikit perempuan yang merasa tidak percaya diri akibat terjebak dalam kebiasaan membandingkan kapasitas diri dengan orang lain. Padahal, fondasi ajaran Hindu menekankan bahwa penghormatan paling mendasar harus dialamatkan kepada diri sendiri terlebih dahulu. Memetakan potensi pribadi, berdamai dengan kekurangan, dan terus memacu diri untuk berkembang merupakan bagian esensial dari pelaksanaan dharma sebagai manusia.

Kecerdasan Batin Melampaui Citra Fisik Luar

Bukan hanya itu, naskah lontar Bali kuno pun menaruh perhatian yang sangat besar pada aspek kebijaksanaan. Lembaran Niti Sastra mengamanatkan bahwa kecerdasan spiritual dan ketajaman batin memiliki kedudukan yang jauh lebih mulia ketimbang pesona keelokan fisik. Tutur kata yang santun, benteng kesabaran yang kokoh, serta kematangan dalam mengendalikan gejolak emosi diidentifikasi sebagai indikator utama dari kemuliaan karakter seseorang.

Esensi ini krusial untuk direnungkan kembali karena realitas dunia modern acap kali menjebak individu untuk lebih sibuk memoles citra luar daripada membangun integritas karakter. Banyak orang berlomba-lomba memamerkan kesempurnaan di ruang publik, tetapi justru kehilangan kedamaian di dalam jiwa. Padahal, sosok perempuan yang mampu memberi dampak luas bukan sekadar mereka yang menonjolkan kekuatan lahiriah. Melainkan mereka yang pancaran energinya sanggup mengalirkan rasa aman, keteduhan, dan kenyamanan bagi sesama.

Dalam tatanan tradisi di Bali, perempuan juga mengemban posisi sentral sebagai penjaga keajekan keluarga dan kelestarian adat. Tanggung jawab yang dipikul bukan hanya sebatas rutinitas domestik rumah tangga, melainkan sebuah bentuk pengabdian yang bernilai spiritual tinggi. Mulai dari merangkai sarana upakara keagamaan, merekatkan tali kekeluargaan, hingga menanamkan budi pekerti pada anak, semuanya dihitung sebagai wujud seva atau pelayanan yang tulus ikhlas.

Konsep ketulusan dalam pengabdian ini bersinergi kuat dengan petikan suci yang tertuang dalam kitab suci. Laksanakan kewajibanmu tanpa terikat pada hasilnya Bhagavad Gita 2:47. Makna filosofisnya, kaum perempuan diarahkan untuk menabur benih kebajikan bukan demi memburu sanjungan atau piagam penghargaan. Melainkan mutlak dilakukan karena hal tersebut merupakan bagian dari menapaki jalan kebenaran yang sejati.

Ketegasan Menolak Ketidakadilan dan Mengoreksi Ketertindasan

Kendati demikian, ajaran Hindu beserta khazanah lontar Bali tidak pernah mendidik kaum perempuan untuk bermental lemah atau pasrah mengorbankan hak-haknya tanpa batas yang jelas. Jika menilik berbagai wiracarita pewayangan dan khazanah sastra suci, figur perempuan yang bijak justru digambarkan mempunyai ketegasan yang luar biasa kala berhadapan dengan ketidakadilan. Sikap lembut bukan berarti tak bernyali. Malahan, perempuan yang tangguh mempertahankan kehormatan dirinya serta berani menolak perlakuan buruk dinilai memiliki kekuatan yang hakiki.

Di samping itu, kaum perempuan juga dituntut untuk terus mengasah kapasitas diri lewat jalur belajar. Kitab Sarasamuscaya menjabarkan dengan gamblang bahwa hakikat kehidupan manusia harus dioptimalkan untuk menegakkan dharma dan memburu ilmu pengetahuan. Sektor pendidikan dipandang sebagai gerbang utama menuju kebijaksanaan spiritual, bukan sekadar batu loncatan demi meraih status sosial di mata publik.

Pada konklusi akhirnya, profil perempuan yang bernilai tinggi menurut perspektif Hindu dan warisan lontar kuno bukanlah mereka yang menggantungkan kebahagiaannya pada validasi duniawi. Keagungan sejati memancar dari lubuk hati yang sarat welas asih, pemikiran yang bersih, ucapan yang menyejukkan, serta aksi nyata yang mendatangkan kemaslahatan.

“Jadi. Perempuan seperti inilah yang akan meninggalkan pengaruh mendalam dalam kehidupan bukan hanya karena kecantikannya, tetapi karena kebijaksanaan dan ketulusan yang ia bawa ke dunia sehingga kehadirannya berdampak yang memberikan nilai,” ungkap Putu Ayu Suniadewi yang juga menjadi Sekretaris Umum KMHDI Badung ini, pada Sabtu (30/05/2026).

Shares: