DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster memaparkan inovasi Modul Ajar Literasi Keuangan Provinsi Bali dalam seleksi Financial Literacy Award 2026 yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Presentasi dilakukan secara virtual dari Jayasabha, Denpasar, Selasa (28/7/2026).
Program tersebut menjadi salah satu strategi Pemerintah Provinsi Bali untuk membangun sumber daya manusia (SDM) unggul melalui peningkatan literasi keuangan sejak bangku sekolah.
Paparan Gubernur Koster dinilai oleh tiga penguji nasional. Mereka adalah Muhammad Edhie Purnawan dari Universitas Gadjah Mada, Rosy Wediawaty dari Kementerian PPN/Bappenas, dan Andi Muhammad Yusuf dari OJK.
Menurut Koster, pembangunan daerah pada hakikatnya adalah pembangunan manusia. Karena itu, literasi keuangan menjadi bagian penting dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Bali Era Baru.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan manusia harus berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi, pendidikan, budaya, lingkungan, dan teknologi.
“Bagi kami, literasi keuangan bukan pilihan, tetapi kebutuhan strategis untuk membangun SDM Bali yang unggul,” ujar Koster.
Modul Literasi Keuangan Menjangkau Seluruh Bali
Koster menyampaikan bahwa Modul Ajar Literasi Keuangan telah diterapkan di seluruh kabupaten dan kota di Bali.
Program tersebut telah menjangkau 23.198 siswa kelas X pada 193 SMA dan MA di seluruh Bali.
Pemerintah Provinsi Bali menilai pemerataan akses pendidikan keuangan jauh lebih penting dibanding sekadar jumlah peserta.
Karena itu, siswa di wilayah perkotaan maupun pedesaan memperoleh kesempatan belajar yang sama.
Modul tersebut disusun bersama OJK Provinsi Bali sebagai standar pembelajaran literasi keuangan di sekolah.
Materinya mencakup pengenalan OJK, perbankan, pasar modal, industri keuangan nonbank, hingga perlindungan konsumen.
Selain pembelajaran di kelas, siswa juga memanfaatkan Learning Management System (LMS) Edukasi Keuangan.
Budaya Menabung Mulai Terbentuk
Koster menegaskan keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah peserta.
Menurutnya, ukuran utama adalah perubahan perilaku peserta didik dalam mengelola keuangan.
Program tersebut mulai menunjukkan hasil positif melalui meningkatnya budaya menabung.
Berdasarkan data OJK Provinsi Bali, jumlah rekening Simpanan Pelajar meningkat signifikan.
Pada Desember 2025 terdapat 46.567 rekening Simpanan Pelajar.
Jumlah itu meningkat menjadi 104.217 rekening pada Mei 2026.
Koster menyebut peningkatan tersebut membuktikan pendidikan mampu mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan positif.
Selain budaya menabung, siswa juga semakin memahami risiko investasi ilegal dan pinjaman daring ilegal.
Kesadaran mengelola keuangan secara bertanggung jawab juga terus meningkat.
Selaras dengan Visi Bali Era Baru
Koster menjelaskan bahwa literasi keuangan merupakan implementasi nilai Jana Kerthi dalam konsep Sad Kerthi.
Nilai tersebut menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan yang harus terus ditingkatkan kualitasnya.
Program ini juga mendukung transformasi ekonomi Kerthi Bali menuju ekonomi digital yang sehat.
Menurut Koster, generasi muda kini hidup dalam ekosistem keuangan digital yang berkembang sangat cepat.
Mereka menggunakan dompet digital, layanan perbankan digital, hingga berbagai platform investasi.
Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi harus diimbangi pemahaman pengelolaan keuangan.
Literasi keuangan dinilai menjadi bekal penting menghadapi tantangan ekonomi digital.
Akan Diperluas hingga Perguruan Tinggi
Pemerintah Provinsi Bali tidak berhenti pada jenjang SMA dan MA.
Program tersebut akan diperluas ke SMP, SMK, SLB, hingga perguruan tinggi.
Implementasi di masyarakat juga akan diperkuat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik.
Koster berharap model Bali dapat menjadi contoh nasional.
Menurutnya, program tersebut mengintegrasikan kurikulum, platform digital, kolaborasi lintas sektor, serta dukungan kebijakan daerah.
“Kami berharap model ini dapat direplikasi oleh provinsi lain di Indonesia,” kata Koster.
Ia menegaskan bahwa literasi keuangan merupakan investasi jangka panjang.
Program tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi Bali yang cerdas secara finansial.
Generasi itu juga diharapkan tangguh menghadapi tantangan ekonomi global dan digital.
Satgas Preventif Ops Pekat Agung 2026 Gelar Razia Terpadu di Sejumlah Kafe Gianyar



















