BADUNG – Gubernur Bali Wayan Koster berharap penyelenggaraan Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) pada tahun 2027 memiliki jangkauan yang lebih luas dan memberikan dampak yang lebih besar bagi sektor pariwisata Bali maupun Indonesia. Harapan tersebut disampaikan saat menghadiri konferensi pers penutupan BBTF 2026 di Hotel The Westin Resort Nusa Dua, Badung, Sabtu (30/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Koster mengapresiasi penyelenggaraan BBTF 2026 yang dinilai semakin memperkuat posisi Bali sebagai destinasi pariwisata unggulan dunia. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali serta seluruh pihak yang telah mendukung kesuksesan ajang business-to-business pariwisata terbesar di Indonesia tersebut.
“Sebagai Gubernur Bali, saya mengucapkan terima kasih kepada ASITA yang telah menyelenggarakan BBTF dengan sangat baik. Ke depan saya mendorong agar BBTF memiliki cakupan yang lebih besar lagi. Apa yang masih kurang tahun ini agar dievaluasi dan diperbaiki untuk penyelenggaraan tahun 2027. Pemerintah Provinsi Bali siap memberikan dukungan penuh,” ujar Koster.
Bali Penyumbang Utama Pariwisata Nasional
Gubernur Koster menegaskan bahwa keberhasilan BBTF memiliki arti strategis bagi Bali dan Indonesia. Mengingat kontribusi Pulau Dewata terhadap sektor pariwisata nasional sangat signifikan. Ia mengungkapkan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada tahun 2025 mencapai 7,05 juta orang. Melalui jalur udara, tertinggi sepanjang sejarah pariwisata Bali.
Menurutnya, dari total 15,3 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia pada 2025 sekitar 45 persen. Di antaranya datang melalui Bali. Capaian tersebut menunjukkan peran Bali sebagai gerbang utama pariwisata Indonesia di pasar global. “Jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia tahun 2025 mencapai 15,3 juta orang. Dari jumlah itu, Bali menyumbang sekitar 45 persen. Ini menunjukkan betapa besar peran Bali dalam industri pariwisata nasional,” katanya.
Selain dari sisi kunjungan, Bali juga memberikan kontribusi ekonomi yang besar. Devisa pariwisata yang dihasilkan wisatawan mancanegara di Bali mencapai lebih dari Rp17 triliun, dengan total perputaran ekonomi sekitar Rp176 triliun atau sekitar 55 persen dari total ekonomi pariwisata nasional.
Fokus Tangani Sampah, Kemacetan, dan Energi
Untuk menjaga daya saing pariwisata Bali, Pemerintah Provinsi Bali terus mempercepat penyelesaian berbagai persoalan mendasar yang menjadi perhatian wisatawan maupun masyarakat. Salah satunya adalah penanganan sampah melalui program pengolahan sampah menjadi energi listrik yang dijadwalkan mulai berjalan pada Juli 2026.
Selain itu, pembangunan fasilitas pengolahan sampah regional Denpasar-Badung ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2028 sebagai bagian dari upaya mewujudkan Bali yang bersih dan berkelanjutan.
“Target kami Bali menjadi bersih dari masalah sampah. Ini menjadi prioritas karena kebersihan adalah fondasi utama pariwisata berkualitas,” tegas Koster.
Di sektor infrastruktur, pemerintah juga mempercepat pembangunan sejumlah proyek strategis untuk mengatasi kemacetan, khususnya di wilayah Badung dan kawasan pariwisata utama. Sementara di bidang energi, Bali diarahkan menjadi daerah mandiri energi berbasis sumber energi bersih dan ramah lingkungan.
Komitmen Wujudkan Pariwisata Berkualitas dan Bermartabat
Koster juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kualitas pariwisata Bali melalui penerapan aturan yang tegas. Terhadap wisatawan asing yang melanggar ketentuan. Berbagai regulasi, termasuk panduan do and don’t bagi wisatawan mancanegara serta kebijakan Pariwisata Budaya Bali. Terus diperkuat untuk menjaga citra dan martabat destinasi.
“Kami menertibkan wisatawan yang melanggar aturan, termasuk melakukan deportasi bila diperlukan. Pariwisata Bali harus berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat,” ujarnya.
Meski sempat muncul kekhawatiran terkait dampak situasi global terhadap kunjungan wisatawan, Koster menyebut kondisi pariwisata Bali masih berada dalam tren positif. Pendapatan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) hingga Mei 2026 tercatat mencapai sekitar Rp2,89 triliun. Atau meningkat sekitar Rp300 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BBTF Catat Transaksi Rp6,9 Triliun
Sementara itu, Ketua BBTF 2026 I Putu Winastra mengungkapkan bahwa ajang yang diikuti 407 buyer dari 44 negara dan 286 seller dari berbagai daerah di Indonesia tersebut berhasil mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp6,9 triliun.
Menurutnya, kesuksesan BBTF 2026 akan menjadi fondasi untuk penyelenggaraan yang lebih besar pada tahun mendatang. Bahkan, terdapat rencana untuk melibatkan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam konsep baru yang tengah dikaji.
“Mungkin nanti akan menjadi Bali and Nusra Travel Fair, kita masih akan memikirkan itu,” kata Winastra.
BBTF 2027 sendiri direncanakan berlangsung pada 9–11 Juni 2027 dengan target partisipasi dan capaian transaksi yang lebih besar, sejalan dengan harapan Gubernur Koster untuk memperluas jangkauan promosi pariwisata Indonesia ke pasar internasional.
Putri Koster: Krisis Penenun Muda Ancam Masa Depan Endek Bali



















