GIANYAR, InsertBali — Maha Warga Bhujangga Waisnawa (MWBW) Moncol Pusat di Kabupaten Gianyar menggelar kegiatan bedah buku bertajuk “Rsi Mustika”. Kegiatan berlangsung di kawasan Keramas Waterpark, Blahbatuh, Gianyar, Senin (27/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari program kerja MWBW Pusat periode 2025–2030. Acara ini sekaligus hasil kolaborasi antara Moncol Pusat dan Moncol Kabupaten Gianyar.
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai unsur penting. Mulai dari Ida Rsi Bhujangga Waisnawa se-Kabupaten Gianyar, pengurus MWBW, bendesa adat, hingga prajuru pura. Hadir pula para narasumber serta pemerhati sejarah dan ajaran Hindu. Prof. Dr. Drs. I Putu Sutama, MS., CHT selaku Peneliti serta Pembedah Buku menjelaskan tujuan kegiatan ini. Menurutnya, bedah buku ini merupakan bagian dari upaya napak tilas untuk menggali kembali akar sejarah dan jati diri ajaran Hindu. Terutama mengenai paham Waisnawa di Indonesia.
Jejak Historis Resi Mustika dari Kediri ke Bali
Buku Rsi Mustika merupakan hasil riset Tim Litbang MWBW yang dilakukan melalui perjalanan muhibah ke wilayah Jawa Timur, tepatnya di Kediri. Dari penelitian tersebut ditemukan jejak historis yang mengungkap peran penting Resi Mustika sebagai tokoh spiritual pada masa kerajaan. “Dalam teks yang kami temukan, Resi Mustika disebut sebagai purwohito atau pendamping raja dalam bidang kerohanian,” ujar Putu Sutama. Hal ini tercatat khususnya pada masa pemerintahan Raja Airlangga.
Lebih lanjut dijelaskan, perjalanan Resi Mustika berlanjut hingga ke Bali dengan mengiringi Sri Krishna Kepakisan, calon raja Bali pada masa itu. Setelah Sri Krishna Kepakisan dinobatkan sebagai raja, ajaran Waisnawa yang dibawa Resi Mustika berkembang luas di Bali. Terutama di wilayah Klungkung dan Gianyar. Melalui bedah buku ini, tim ingin memberikan informasi baru agar umat Bhujangga Waisnawa memahami kontribusi Resi Mustika dalam penyebaran ajaran dari Jawa ke Bali.
Bedah buku ini juga menyasar generasi muda sebagai sasaran utama. Ditekankan bahwa pemahaman terhadap sejarah sangat penting dalam membentuk ideologi dan karakter generasi penerus. “Sejarah mengandung nilai-nilai kebenaran yang harus digali oleh generasi muda. Dari sana kita bisa memahami bagaimana leluhur berjuang menegakkan Dharma,” jelasnya. Ke depan, buku Rsi Mustika akan terus dikembangkan melalui revisi lanjutan untuk menambah temuan-temuan baru.
Saba Walaka MWBW Bhujangga Waisnawa Pusat, Gede Harja Astawa mengatakan buku ini merupakan tonggak penting membangun tradisi intelektual. Ia menyebut, selama ini masih banyak sejarah leluhur yang belum sepenuhnya dipahami, terutama oleh generasi muda. “Ini adalah bentuk kebangkitan intelektual dari warga Bhujangga. Melalui buku ini, kita dorong agar pemahaman itu bisa tersusun secara ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Sinergi dan Implementasi Ajaran dalam Kehidupan Nyata
Gede Harja juga mengapresiasi keterlibatan para sulinggih, tenaga pengajar, dan tokoh senior yang telah meluangkan waktu. Ia menilai sinergi antara generasi tua dan muda menjadi kunci dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai tradisi. “Ini bentuk sinergi nyata antara orang tua dan generasi muda. Kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengasah intelektual keluarga besar Bhujangga Waisnawa,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemahaman sejarah tidak bisa dipisahkan dari praktik kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ajaran leluhur harus tercermin dalam sikap dan perilaku, baik dalam kehidupan sosial maupun profesi. “Kita tidak bisa hanya mengaku sebagai warga Bhujangga tanpa memahami ajaran dan sejarah leluhur. Nilai itu harus diwujudkan dalam kehidupan nyata, menjadi pemimpin yang baik dan tidak hidup secara egosentris,” tegasnya.



















