Denpasar, Bali — Sebuah pesawat Emirates dengan rute Dubai–Denpasar dilaporkan gagal mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, akibat cuaca buruk yang melanda wilayah Bali pada 27–28 Desember 2025. Insiden ini merupakan bagian dari gangguan penerbangan internasional yang terjadi selama periode cuaca ekstrem di Pulau Dewata.
Kronologi Gagal Mendarat Pesawat Emirates
Pesawat Emirates nomor penerbangan EK368 yang berangkat dari Dubai (DXB) menuju Denpasar (DPS) tidak dapat melakukan pendaratan sesuai jadwal. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi cuaca di sekitar Bandara Ngurah Rai saat itu tidak memungkinkan untuk pendaratan aman.
Faktor cuaca yang memengaruhi antara lain:
Hujan deras
Angin kencang
Kondisi visibilitas yang menurun
Pilot Lakukan Prosedur Go-Around
Demi keselamatan penumpang dan awak pesawat, pilot menjalankan prosedur standar penerbangan berupa go-around, yakni kembali mengudara sesaat sebelum menyentuh landasan pacu. Setelah melakukan evaluasi kondisi cuaca yang belum membaik, pilot memutuskan untuk mengalihkan penerbangan (diversion) ke Bandara Internasional Changi, Singapura (SIN).
Pesawat Emirates EK368 kemudian mendarat dengan selamat di Singapura.
Kembali ke Bali Setelah Cuaca Membaik
Setelah menunggu beberapa jam dan memastikan kondisi cuaca di Bali kembali aman, pesawat tersebut melanjutkan penerbangan ke Denpasar. Pesawat akhirnya berhasil mendarat di Bandara Ngurah Rai tanpa kendala lebih lanjut.
Dampak Cuaca Ekstrem Terhadap Penerbangan di Bali
Insiden yang dialami pesawat Emirates ini bukan satu-satunya. Selama periode cuaca ekstrem akhir Desember 2025, sejumlah penerbangan internasional lainnya yang menuju dan berangkat dari Bali juga mengalami:
Penundaan jadwal
Pengalihan rute ke bandara alternatif
Penyesuaian operasional penerbangan
Langkah-langkah tersebut dilakukan semata-mata untuk menjamin keselamatan penumpang dan kru, sesuai dengan prosedur keselamatan penerbangan internasional.
Keselamatan Tetap Menjadi Prioritas
Otoritas bandara dan maskapai penerbangan menegaskan bahwa keputusan melakukan go-around maupun diversion merupakan prosedur standar dalam dunia penerbangan apabila kondisi cuaca tidak memenuhi syarat keselamatan.
Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk selalu memantau informasi cuaca dan jadwal penerbangan, terutama selama musim hujan yang kerap disertai angin kencang di wilayah Bali.



















