Pameran Seni “THE MYTH” di Ubud Hadirkan 80 Karya dari 44 Perempuan Seniman

Pameran seni rupa kolektif THE MYTH di Ubud menghadirkan 80 karya dari 44 perempuan seniman Indonesia dan mancanegara hingga Januari 2026.

GIANYAR, InsertBaliUbud Diary Gallery kembali menjadi ruang perayaan kreativitas perempuan melalui pameran seni rupa kolektif bertajuk “THE MYTH”, yang digagas oleh Mahalakshmi Women Artists. Pameran ini berlangsung selama satu bulan penuh, mulai 27 Desember 2025 hingga 27 Januari 2026, di Lodtunduh, Ubud, Bali.

Pameran THE MYTH menghadirkan 80 karya seni berupa lukisan, fotografi, dan instalasi dari 44 perempuan seniman yang tergabung dalam Mahalakshmi Komunitas Seniwati Internasional. Para seniman berasal dari berbagai daerah di Indonesia serta mancanegara.

Mengusung tema “Merebut Kembali Mitos: Feminitas sebagai Sinar dan Jejak Abadi”, pameran ini menempatkan mitos bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan sebagai energi hidup yang membentuk kesadaran, identitas, dan spiritualitas perempuan lintas generasi dan budaya.

Pameran “THE MYTH” sebagai Ruang Hidup Perempuan Seniman

Pendiri sekaligus konseptor Mahalakshmi, Aricadia, menjelaskan bahwa Mahalakshmi lahir sebagai ruang hidup yang aman dan bermartabat bagi perempuan seniman untuk mengekspresikan gagasan dan pengalaman batin mereka.

Didirikan pada 4 November 2024, Mahalakshmi kini merayakan ulang tahun pertamanya melalui pameran kelima, yang disebut sebagai salah satu pameran paling ambisius sepanjang perjalanan komunitas tersebut.

“Dalam satu tahun, Mahalakshmi telah menyelenggarakan lima pameran. Berawal dari sepuluh anggota lokal di Bali, kini berkembang menjadi puluhan perempuan seniman dari berbagai wilayah Indonesia dan luar negeri,” ujar Aricadia.

Ia menegaskan bahwa Mahalakshmi berkomitmen menyuarakan kesadaran serta perlawanan terhadap patriarki melalui seni, sekaligus merayakan feminitas sebagai sumber kekuatan kreatif.

“Perempuan bukan hanya subjek yang dilindungi, melainkan cahaya yang menerangi jalan peradaban,” tegasnya.

Perjalanan Lintas Mitos dan Budaya

Penulis pengantar pameran, Ayu Remdani, menuliskan bahwa mitos hidup di ruang antara kenyataan dan imajinasi. Melalui THE MYTH, para seniman perempuan menelusuri kisah-kisah leluhur, mitologi lokal, legenda spiritual, hingga narasi personal yang membentuk jati diri mereka.

Fragmen cerita tersebut diterjemahkan ke dalam karya yang lahir dari kenangan, mimpi, perenungan batin, dan pengalaman hidup yang intim, lalu diwujudkan melalui warna, bentuk, tekstur, dan cahaya. Pameran ini menjadi pertemuan suara dari beragam budaya dan bahasa yang berpadu dalam harmoni universal.

44 Seniman, Ragam Medium dan Perspektif

Sebanyak 44 perempuan seniman terlibat dalam pameran ini, di antaranya berasal dari Indonesia, Rusia, Jepang, Azerbaijan, Kazakhstan, hingga Brasil. Medium yang ditampilkan sangat beragam, mulai dari lukisan akrilik dan minyak di atas kanvas, mixed media, cetak grafis, seni digital, fotografi, hingga karya berbasis material alam dan daur ulang.

Sejumlah karya mengangkat mitologi Nusantara seperti Nyi Roro Kidul, Calon Arang, Dewi Sri, Rangda, Jaya Pangus dan Kang Ching Wie, serta tema universal tentang kesuburan, transformasi, duka, dan kelahiran kembali.

Seni sebagai Kesadaran

Lebih dari sekadar pameran, THE MYTH menjadi ruang reflektif bagi publik untuk meninjau kembali posisi perempuan dalam sejarah, budaya, dan masa depan. Di ruang ini, mitos tidak lagi hadir sebagai cerita usang, melainkan sebagai bahasa untuk memahami diri dan sesama.

Mengutip penulis dan aktivis Ntozake Shange, Ayu Remdani menuliskan, “The woman who tells stories heals herself, and in doing so, she heals her tribe.”

Melalui Mahalakshmi, mitos dihidupkan kembali dalam wujud seni—sebagai ruang dialog, kontemplasi, dan perayaan keberanian perempuan untuk terus bermimpi, bertanya, dan mencipta.

Pameran THE MYTH terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi wadah perjumpaan ide, emosi, dan kesadaran kolektif di jantung seni Ubud.

Shares: