GIANYAR, InsertBali – Sebuah pohon aren berukuran panjang sekitar 20 meter tumbang dan menimpa bangunan suci di wilayah Desa Taro Kaja, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Peristiwa tersebut terjadi saat kondisi cuaca di lokasi tidak sedang hujan maupun dilanda angin kencang.
Akibat kejadian tersebut, satu bangunan pelinggih pangaruman mengalami kerusakan parah. Selain itu, tembok penyengker sepanjang kurang lebih tiga meter juga rusak setelah dihantam batang pohon aren berukuran besar tersebut.
Tumbangnya pohon aren ini cukup mengejutkan masyarakat setempat. Pasalnya, kejadian berlangsung ketika kondisi cuaca relatif normal tanpa adanya angin kencang maupun hujan deras di sekitar lokasi. Kondisi ini membuat penyebab pasti tumbangnya pohon berukuran sekitar 20 meter itu belum diketahui secara pasti.
Batang pohon yang roboh menghantam langsung bangunan suci dan tembok penyengker di sekitarnya. Beruntung, dalam peristiwa naas tersebut tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun korban luka-luka.
Gelar Upacara Adat dan Keagamaan Niskala
Pascakejadian, masyarakat setempat langsung melakukan penanganan terhadap dampak yang ditimbulkan. Mengingat bangunan yang tertimpa merupakan tempat suci, penanganan tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga melalui rangkaian upacara adat dan keagamaan.
I Wayan Warka mengatakan, masyarakat akhirnya menggelar upacara Ngingsiran, Ngleinggihan Ring Pangaruman, serta Ngeseng Pelinggih pada Rabu (4/11/2026).
Menurutnya, rangkaian upacara tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari tata cara adat dan keagamaan menyusul kerusakan bangunan suci akibat tertimpa pohon aren.
“Upacara ini dilaksanakan sebagai bagian dari tata cara adat dan keagamaan setelah pelinggih pangaruman tertimpa pohon aren. Masyarakat bersama prajuru adat melaksanakan prosesi tersebut agar penanganan tempat suci ini berjalan sesuai dresta dan ketentuan adat yang berlaku,” ujarnya.
Pelaksanaan upacara tersebut dihadiri seluruh prajuru adat, Perbekel Desa Taro Kaja, serta masyarakat setempat. Prosesi berlangsung sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat suci yang mengalami kerusakan sekaligus bagian dari penanganan secara niskala.
Langkah Penanganan Fisik dan Imbauan Kewaspadaan
Sementara itu, Kelian Adat Desa Taro Kaja, Kertayasa, menyampaikan bahwa pelaksanaan upacara menjadi langkah awal dalam penanganan bangunan suci yang terdampak.
“Melalui pelaksanaan upacara ini, kami bersama masyarakat menjalankan kewajiban secara adat dan agama. Selanjutnya, untuk penanganan fisik bangunan yang rusak akan dilakukan sesuai hasil kesepakatan dan ketentuan adat,” ungkapnya.
Kerusakan pelinggih pangaruman menjadi perhatian masyarakat karena bangunan tersebut memiliki fungsi penting dalam aktivitas persembahyangan dan pelaksanaan kegiatan adat di lingkungan setempat.
Setelah rangkaian upacara selesai dilaksanakan, masyarakat berharap perbaikan secara fisik terhadap pelinggih dan tembok penyengker dapat segera dilakukan. Agar kawasan persembahyangan tersebut kembali difungsikan sebagaimana mestinya.
Peristiwa tumbangnya pohon di tengah kondisi cuaca normal ini menjadi imbauan bagi masyarakat agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Terhadap keberadaan pohon-pohon tua berukuran besar di sekitar permukiman maupun kawasan tempat suci.



















