KLUNGKUNG, InsertBali – Tradisi Mecaru “Mejaga-Jaga” adalah suatu tradisi yang secara rutin dilaksanakan di Kabupaten Klungkung. Tepatnya di Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa Kelurahan Semarapura Kaja, Kecamatan Klungkung, Selasa (11/8).
Hadir langsung mengikuti prosesi tersebut Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra. Wabup didampingi Camat Klungkung I Putu Arnawa dan seluruh warga Desa Adat Besang Kawan.
Bendesa Adat Besang Kawan Toh Jiwa, I Nyoman Sujana memberikan penjelasan. Ia mengatakan, Mejaga-jaga adalah bentuk caru agung untuk menetralisir desa dari ancaman sekala dan niskala. Baik bahaya yang tampak maupun tak kasat mata.
“Tradisi ini wajib dilaksanakan demi menjaga keharmonisan desa. Pelaksanaan Mecaru Mejaga-jaga ini menggunakan sarana Seekor Sapi pilihan. Sapi tersebut tidak boleh cacat, dan yang memilih sapi tersebut tidak sembarang orang tetapi sapi tersebut dipilih oleh keturunan Pemangku Prajapati, Pemengku Catus Pata, serta Pemangku Dalem,” terangnya.
Lebih lanjut dijelaskan, prosesi ini dimulai pukul 07.00 Wita. Sapi dimandikan dan dibawa ke depan Pura Puseh Desa Setempat.
Kemudian oleh Pemangku Catus Pata Sapi ditebas pada pantat sebelah kanan. Penebasan menggunakan Balakas Sudamala yang disakralkan oleh masyarakat dan darah spipun mulai beececeran.
Dilanjutkan Sapi tersebut kembali diarak oleh masyarakat / Sarga ke selatan hingga batas desa. Persis didepan Pura Dalem kembali dilaksanakan prosesi yang sama dengan menebas pantat bagian kiri.
Selanjutnya oleh warga sapi diarak lagi ke catus pata. Pengarakan dilakukan sebelum diarak ke timur perbatasan Desa sebelah timur. Disana Sapi kembali ditebas pada bagian pantat sebelah kanan. Sapi kembali diarak ke ke sebelah barat di depan Pura Prajapati. Disana kaki sapi yang agak dibelakang kembali ditebas. Akhirnya sapi kembali ke Catus pata untuk dilakukan upacara selanjutnya.
Makna Ceceran Darah Sapi Dan Perebutan Oleh Masyarakat Setempat
“Kelihatan agak sadis tetapi masyarakat menegaskan dan meyakini ceceran Darah Sapi ini diyakini sebagai darah kurban. Darah untuk menjaga Desa Besang Kawan Tohjiwa baik secara Sekala maupun secara niskala. Serta merupakan sarana pembersihan dan menyeimbangkan ( Nyomiang) Alam baik itu Parhyangan, Pawongan maupun Pelemahan,” ucapnya.
Menariknya masyarakat berebutan mencari darah sapi yang bececeran. Hal tersebut karena diyakini darah tersebut sebagai obat untuk menghilangkan semua penyakit. Pada tahap akhir dilanjutkan melakukan pecaruan dengan menggunakan kulit ( Keletan ) Sapi. Sebelum itu, daging sapi tersebut dibagikan kepada masyarakat.
Tjok Surya mengatakan Tradisi yang disakralkan oleh warga desa besang kawan dipercaya untuk menetralisir alam dari hal-hal negatif. Serta memohon kesuburan agar warga diberikan kemakmuran terlebih hasil pertanian agar lebih berlimpah.
“ semoga dengan digelarnya mecaru mejaga jaga ini mampu menjaga keseimbangan alam dan mampu menetralisir pengaruh pengaruh negatif secara niskala,” ujarnya.
Dirinya juga mengatakan Tradisi mejaga-jaga sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2021. WBTB digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. “Dengan tercatat sebagai WBTB diharapkan ke depan menjadi atraksi budaya untuk memperkaya khasanah budaya nusantara dan tentunya menggaet wisatawan untuk datang ke Kabupaten Klungkung,” imbuhnya.



















