Bali Masih Bergantung Pasokan Listrik dari Jawa, Koster Minta Percepatan Pengembangan EBT
DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya mewujudkan Bali Mandiri Energi melalui pemanfaatan energi bersih dan terbarukan. Salah satu langkah strategis yang kini didorong adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di kawasan Selat Nusa Penida yang dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan energi Pulau Dewata.
Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Koster saat memimpin Focus Group Discussion (FGD). Implementasi Penataan Ruang Laut Berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) di Ruang Rapat Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Kamis (9/7).
Menurut Koster, sebagai destinasi wisata kelas dunia dan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional. Bali tidak boleh terus bergantung pada pasokan energi dari luar daerah.
“Bali harus mandiri energi dengan memanfaatkan energi bersih dan terbarukan,” tegas Koster.
Kebutuhan Listrik Bali Capai 1.400 MW
Gubernur Koster mengungkapkan bahwa kebutuhan listrik Bali saat ini berada pada kisaran 1.300 hingga 1.400 megawatt (MW). Namun, sekitar 400 MW masih dipasok melalui jaringan interkoneksi kabel bawah laut. Yang terhubung dengan PLTU Paiton di Jawa Timur.
Kondisi tersebut dinilai cukup berisiko mengingat konsumsi energi di Bali terus meningkat. Seiring pertumbuhan sektor pariwisata, industri, perdagangan, dan pembangunan infrastruktur.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Bali terus mempercepat berbagai program energi terbarukan. Untuk memperkuat kemandirian energi daerah.
Bali Percepat Implementasi Pergub Energi Bersih
Komitmen tersebut merupakan implementasi dari Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih. Yang menjadi landasan kebijakan menuju transisi energi berkelanjutan di Pulau Dewata.
Sejumlah langkah konkret telah dijalankan Pemprov Bali, di antaranya percepatan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Pada kantor pemerintahan, fasilitas publik, kawasan komersial, hotel, dan sektor industri.
Selain itu, Koster juga mendorong pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi ganda untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan sekaligus meningkatkan kontribusi energi baru terbarukan dalam sistem kelistrikan Bali.
Potensi Energi Arus Laut Nusa Penida Capai 376,8 MW
Dalam FGD tersebut, Gubernur Koster menaruh perhatian besar pada hasil kajian pengembangan energi laut yang dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama sejumlah mitra internasional.
Kajian tersebut dilaksanakan di bawah koordinasi Prof. Dwi Susanto dari Maryland University, Amerika Serikat, bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.
Menurut Koster, pemanfaatan energi arus laut merupakan terobosan yang sangat potensial untuk memperkuat ketahanan energi Bali sekaligus mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan.
“Saya sudah menangkap idenya dan ini memang sangat kita perlukan. Ternyata kita memiliki potensi besar. Ini harus kita manfaatkan sebagai sumber penghidupan masyarakat Bali,” ujarnya.
Selat Nusa Penida Dinilai Ideal untuk PLTAL
Prof. Dwi Susanto menjelaskan bahwa sejumlah selat di Indonesia memiliki karakteristik arus laut yang sangat kuat dan stabil. Sehingga cocok dikembangkan menjadi sumber energi terbarukan.
Khusus di kawasan Nusa Penida, potensi energi arus laut yang terdapat di tiga selat utama. Diperkirakan mampu menghasilkan listrik hingga 376,8 MW.
Potensi tersebut dinilai lebih dari cukup untuk mendukung kebutuhan listrik wilayah Nusa Penida. Dan secara bertahap dapat berkontribusi terhadap sistem energi Bali secara keseluruhan.
Pengembangan PLTAL nantinya dirancang menggunakan sistem modular sehingga kapasitas pembangkit dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan konsumsi energi di masa depan.
KKP Dukung Bali Jadi Percontohan EBT Laut Nasional
Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Kartika Listriana, yang mengikuti kegiatan secara daring, memberikan apresiasi. Atas inisiatif Pemerintah Provinsi Bali dalam mengembangkan energi baru terbarukan berbasis kelautan.
Ia berharap Bali dapat menjadi daerah pionir dalam implementasi energi arus laut di Indonesia. Sehingga model pengembangannya dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki potensi serupa.
Menurutnya, keberhasilan Bali dalam mengembangkan EBT laut akan menjadi contoh penting bagi percepatan transisi energi nasional menuju sumber energi yang lebih bersih, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Bali Perkuat Langkah Menuju Net Zero Emission 2045
Pengembangan PLTAL di kawasan Nusa Penida menjadi bagian dari strategi besar Pemerintah Provinsi Bali untuk mewujudkan visi Bali Mandiri Energi Bersih sekaligus mempercepat pencapaian target Net Zero Emission (NZE) tahun 2045.
Melalui pemanfaatan energi surya, energi dari pengolahan sampah, kendaraan listrik, hingga energi arus laut, Bali berupaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan pasokan listrik dari luar daerah.
Langkah ini juga sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam membangun ekonomi hijau, memperkuat ketahanan energi daerah, serta menjaga keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi utama sektor pariwisata dan kesejahteraan masyarakat Bali.



















