Tak Hanya Lestarikan Adat, Desa Adat Seseh Juga Jamin Kesejahteraan Krama

Bendesa Adat Seseh I Wayan Bawa saat memaparkan program perlindungan BPJS Kematian dan beasiswa sarjana untuk krama desa dalam pertemuan warga di Badung.

BADUNG, InsertBali Desa Adat Seseh, Kabupaten Badung, menjadi salah satu contoh desa adat di Bali yang berhasil memadukan pelestarian adat. Mereka juga sukses menggabungkan penguatan pendidikan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berbagai program inovatif yang dijalankan selama bertahun-tahun kini dirasakan langsung manfaatnya oleh seluruh krama adat.

Di balik berbagai terobosan tersebut, berdiri sosok Bendesa Adat Seseh sekaligus Anggota Komisi I DPRD Provinsi Bali dari Fraksi PDI Perjuangan. Sosok tersebut adalah I Wayan Bawa, S.H., yang konsisten membangun desa adat dengan prinsip gotong royong, kebersamaan, dan keberlanjutan.

Menurut I Wayan Bawa, kesejahteraan masyarakat tidak hanya diukur dari pembangunan fisik. Kesejahteraan juga dinilai dari kemampuan desa adat dalam meringankan beban kehidupan warganya. Langkah ini dimulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pelaksanaan upacara di Desa adat.

Salah satu program unggulan yang paling dirasakan manfaatnya adalah santunan kematian bagi krama Desa Adat Seseh. Sejak sekitar lima hingga enam tahun terakhir, Desa Adat Seseh telah menyediakan perlindungan melalui skema BPJS kematian yang didukung dana desa adat.

“Ketika ada krama yang meninggal dunia, dari Desa Adat Seseh memperoleh santunan sekitar Rp 52 juta. Ditambah bantuan dari desa dinas sekitar Rp 6,5 juta dan apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Badung sebesar Rp10 juta bagi masyarakat yang tertib administrasi. Total bantuan yang diterima keluarga mencapai kurang lebih Rp70 juta,” jelasnya.

Program tersebut dinilai sangat membantu keluarga yang sedang berduka. Adanya program ini membuat mereka tidak lagi terbebani biaya upacara maupun kebutuhan lainnya.

Program Investasi Utama Pendidikan Satu Rumah Minimal Satu Sarjana

Tak hanya itu, Desa Adat Seseh juga memiliki program yang telah berjalan sekitar enam tahun. Program tersebut yakni “Satu Rumah Minimal Satu Sarjana.” Melalui program ini, setiap keluarga didorong agar minimal memiliki satu anak yang menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

“Kami ingin pendidikan menjadi investasi utama masyarakat. Syukur sekarang hampir semua anak lulusan SMA di Seseh sudah melanjutkan kuliah. Bahkan jumlah sarjana di desa terus bertambah setiap tahun,” ujarnya.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi akademik, Desa Adat Seseh memberikan penghargaan khusus. Hadiah diberikan bagi mahasiswa yang lulus dengan predikat cum laude berupa hadiah sebesar Rp10 juta.

Tak hanya mahasiswa, penghargaan juga diberikan kepada siswa SD, SMP, dan SMA. Apresiasi ditujukan bagi yang berhasil meraih juara umum, juara kelas, maupun berbagai prestasi akademik dan nonakademik. Penghargaan ini termasuk olahraga dari tingkat kecamatan, kabupaten hingga provinsi. Nilai penghargaan disesuaikan dengan tingkat prestasi yang diraih.

“Reward ini kami berikan sebagai motivasi agar semakin banyak generasi muda Seseh yang berprestasi dan berani bermimpi lebih tinggi,” kata I Wayan Bawa.

Selain pendidikan, Desa Adat Seseh juga memiliki tradisi berbagi kepada seluruh krama. Setiap Hari Raya Galungan, desa adat melaksanakan program pembagian daging babi kepada masyarakat Seseh. Tradisi tersebut telah berlangsung selama 1 tahun sebagai bentuk kebersamaan dan pemerataan kesejahteraan.

Seluruh program tersebut didukung oleh pendapatan Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) yang mengelola berbagai potensi ekonomi desa secara profesional. Pendapatan desa kemudian dikembalikan sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat melalui berbagai program sosial, pendidikan, adat, dan keagamaan.

Filosofi Ngayah Sebagai Landasan Kemakmuran dan Menjaga Aset Tanah Adat

Menurut I Wayan Bawa, keberhasilan Desa Adat Seseh tidak terlepas dari filosofi ngayah yang telah diwariskan sejak dahulu. Dahulu masyarakat terbiasa saling membantu. Kebiasaan dimulai dari membawa ayam untuk keperluan upacara mecaru hingga menyumbangkan hasil panen padi untuk perbaikan pura.

“Kalau dilakukan dengan tulus dan ikhlas, karma baik itu akan kembali menjadi kemakmuran. Dari tahun 1999 kami tidak pernah berhenti membangun pura, melaksanakan piodalan, maupun kegiatan adat lainnya,” tuturnya.

Sebagai desa yang memiliki sejumlah pura penting, termasuk pura-pura peninggalan Kerajaan Mengwi, beban pelaksanaan upacara adat di Seseh tergolong tinggi. Hal ini karena kegiatan keagamaan berlangsung hampir setiap enam bulan sekali. Namun, dengan pengelolaan desa adat yang baik, seluruh kewajiban tersebut dapat dijalankan tanpa membebani ke masyarakat.

I Wayan Bawa juga menegaskan bahwa kemajuan Desa Adat Seseh berawal dari keberanian masyarakat menjaga aset desa, terutama tanah adat. Sejak dahulu masyarakat didorong untuk tidak menjual tanah. Warga diarahkan melainkan menyewakannya secara produktif sehingga manfaat ekonominya tetap dinikmati oleh generasi berikutnya.

Ke depan, Desa Adat Seseh juga tengah menyiapkan program baru bagi para lanjut usia. Kebijakan ini sebagai bentuk penghargaan kepada generasi yang telah mengabdikan diri kepada desa adat selama puluhan tahun.

“Para lansia adalah orang-orang yang telah membangun desa ini. Sudah selayaknya mereka mendapatkan perhatian dan penghormatan melalui program khusus yang sedang kami siapkan,” ungkapnya.

Menutup keterangannya, I Wayan Bawa berharap seluruh krama Desa Adat Seseh terus menjaga persatuan. Ia meminta warga menjaga semangat gotong royong, dan memanfaatkan seluruh program yang telah disediakan desa adat.

“Harapan saya sederhana. Semoga setiap krama Seseh merasakan kebahagiaan. Jangan sampai masyarakat terbebani saat menjalankan kewajiban adat karena desa adat sudah hadir membantu. Begitu juga pendidikan anak-anak, kami ingin mereka terus berprestasi. Kalau ada yang berprestasi, kami akan terus memberikan penghargaan agar lahir semakin banyak generasi unggul dari Desa Adat Seseh,” pungkasnya.

Shares: