PKB 2026 Perketat Kurasi Karya Seni, Inovasi Wajib Berakar pada Pakem Kesenian Bali

DENPASAR – Tim Kurator Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 menerapkan standar kurasi yang lebih ketat terhadap seluruh karya seni yang akan tampil dalam ajang budaya terbesar di Pulau Dewata tersebut. Kebijakan ini menegaskan bahwa setiap karya inovatif maupun kontemporer yang ditampilkan dalam perlombaan, parade, dan pementasan seni wajib tetap berpijak pada pakem serta struktur dasar kesenian Bali.

Langkah tersebut diambil untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian warisan budaya leluhur dengan kebutuhan regenerasi dan inovasi seni di tengah perkembangan zaman. Sebagai etalase kebudayaan Bali yang telah berlangsung selama puluhan tahun. PKB dinilai memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga identitas budaya sekaligus memberikan ruang bagi lahirnya kreativitas baru.

Tim Kurator PKB XLVIII Tahun 2026, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, menegaskan bahwa inovasi dalam berkesenian tetap mendapat ruang yang luas. Namun, pengembangan karya tidak boleh menghilangkan struktur dasar yang menjadi fondasi kesenian tradisional Bali.

“Pengembangan boleh dilakukan, tetapi akar tradisinya tidak boleh dicabut. Inovasi harus tumbuh dari tradisi, bukan menggantikannya,” tegas Arya Sugiartha.

Kreativitas Tetap Dibuka, Pakem Tetap Dijaga

Menurut Arya Sugiartha, PKB 2026 justru mendorong para seniman, khususnya generasi muda, untuk menghadirkan ide-ide segar, eksplorasi artistik baru, dan pendekatan kreatif yang relevan dengan perkembangan masyarakat saat ini.

Namun demikian, seluruh proses inovasi tersebut harus tetap berlandaskan pada nilai, filosofi. Dan struktur dasar kesenian Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ia mencontohkan dalam garapan seni Gong Kebyar, struktur utama seperti kawitan sebagai pembuka.  Pengawak sebagai bagian inti, dan pengecet sebagai penutup tetap wajib hadir dalam komposisi karya yang ditampilkan.

Struktur tersebut bukan sekadar unsur teknis pertunjukan, melainkan bagian dari sistem estetika dan filosofi kesenian Bali yang telah berkembang selama ratusan tahun.

Karena itu, tim kurator akan memberikan perhatian khusus terhadap kesesuaian karya dengan pakem dasar sebelum sebuah garapan dinyatakan layak tampil di panggung PKB.

Dorong Kolaborasi Seniman Senior dan Generasi Muda

Selain memperketat proses kurasi, PKB 2026 juga mendorong kolaborasi yang lebih intensif antara seniman senior dan generasi muda.

Pendekatan tersebut dianggap penting untuk memastikan proses transfer pengetahuan, nilai budaya, filosofi, hingga teknik berkesenian dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Kolaborasi lintas generasi dinilai menjadi salah satu strategi efektif untuk menjaga kesinambungan tradisi sekaligus melahirkan inovasi yang tetap berakar pada identitas budaya Bali.

Dalam proses kreatifnya, para seniman muda didorong menghadirkan ornamentasi baru, eksplorasi visual yang lebih segar, serta pendekatan artistik yang mampu menarik perhatian generasi masa kini.

Namun, seluruh inovasi tersebut harus tetap berlandaskan nilai-nilai budaya lokal yang menjadi ciri khas kesenian Bali.

“Generasi muda perlu berani berkreasi, tetapi mereka juga harus memahami akar tradisi yang menjadi fondasi setiap karya seni Bali,” ujar Arya Sugiartha.

Hadapi Tantangan Globalisasi Budaya

Tim kurator menilai penguatan identitas budaya menjadi semakin penting di tengah derasnya arus globalisasi yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia seni dan budaya.

Masuknya berbagai bentuk budaya populer global memberikan tantangan tersendiri bagi keberlanjutan kesenian tradisional.

Karena itu, PKB 2026 berupaya menghadirkan ruang yang memungkinkan seni Bali terus berkembang tanpa kehilangan karakter dan nilai-nilai dasarnya.

Pendekatan tersebut dianggap sebagai langkah strategis untuk menjaga daya hidup kesenian Bali agar tetap relevan dengan perkembangan zaman sekaligus mampu mempertahankan keunikan yang membedakannya dari budaya lain.

Rekonstruksi Kesenian Langka Jadi Prioritas

Selain mendorong inovasi, PKB XLVIII Tahun 2026 tetap menempatkan pelestarian seni klasik sebagai salah satu prioritas utama.

Salah satu program yang kembali diperkuat adalah rekonstruksi berbagai bentuk kesenian tradisional yang mulai langka. Atau bahkan terancam punah di sejumlah wilayah Bali.

Program tersebut melibatkan maestro seni, akademisi, budayawan, komunitas adat, hingga kelompok seni. Yang masih menyimpan dokumentasi maupun pengetahuan terkait bentuk-bentuk kesenian lama.

Melalui panggung PKB, kesenian-kesenian yang jarang ditampilkan diharapkan dapat kembali dikenal masyarakat luas. Terutama generasi muda yang menjadi penerus kebudayaan Bali di masa mendatang.

Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi pelestarian budaya yang tidak hanya berorientasi pada dokumentasi. Tetapi juga pada revitalisasi melalui praktik pertunjukan secara langsung.

Perkuat Eksistensi Warisan Budaya UNESCO

PKB 2026 juga akan menjadi ruang untuk memperkuat eksistensi sembilan tari tradisional Bali. Yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO.

Berbagai program apresiasi dan pementasan seni disiapkan untuk memperkenalkan kembali nilai sejarah, filosofi. Serta dimensi spiritual yang terkandung dalam tarian-tarian tersebut.

Penguatan terhadap warisan budaya yang telah mendapat pengakuan dunia ini diharapkan semakin memperkokoh posisi Bali. Sebagai salah satu pusat kebudayaan yang mampu menjaga kesinambungan tradisi di tengah modernisasi.

Selain menjadi kebanggaan masyarakat Bali, pengakuan UNESCO juga menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan warisan budaya tersebut tetap lestari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kesenian Sakral Dilarang Tampil di Panggung Festival

Dalam pelaksanaan PKB 2026, tim kurator kembali menegaskan larangan pementasan kesenian sakral dalam seluruh rangkaian festival.

Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga kesucian dan fungsi asli kesenian yang memang diperuntukkan bagi kebutuhan ritual keagamaan.

Arya Sugiartha menjelaskan bahwa seluruh karya yang tampil dalam PKB merupakan kesenian yang bersifat balih-balihan atau hiburan.

Sementara itu, kesenian yang tergolong wali dan bebali tetap harus berada dalam konteks upacara dan ruang sakral sesuai fungsi tradisionalnya.

“PKB bukan ruang untuk mengeksploitasi kesenian sakral. Kesucian dan fungsi ritualnya harus tetap dijaga,” tegasnya.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari komitmen penyelenggara untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual masyarakat Bali.

Selaras dengan Tema Atma Kerti

Seluruh arah kurasi dan konsep artistik PKB XLVIII Tahun 2026 diselaraskan dengan tema besar “Atma Kerti: Jiwa Sidha Parisudha” yang bermakna pemuliaan dan penyucian jiwa manusia menuju kesempurnaan lahir dan batin.

Tema tersebut dipilih sebagai refleksi atas pentingnya membangun keseimbangan antara kemajuan peradaban dengan kualitas spiritual manusia.

Karena itu, setiap karya yang tampil tidak hanya dinilai berdasarkan aspek estetika, kreativitas, maupun kemampuan teknis, tetapi juga dari pesan moral, nilai kemanusiaan, dan makna filosofis yang disampaikan kepada masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, PKB tidak sekadar menjadi festival seni dan budaya, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan karakter. Ruang refleksi sosial, serta sarana memperkuat identitas budaya Bali.

Dengan menjaga akar tradisi sekaligus membuka ruang inovasi, PKB 2026 diharapkan terus menjadi benteng pelestarian budaya Bali. Sekaligus wadah lahirnya kreativitas seni yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

 

Ny. Seniasih Giri Prasta Kampanyekan Gemar Makan Ikan untuk Cegah Stunting di Bali

Shares: