GIANYAR, InsertBali – Petani jeruk di Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan, Gianyar, kini menghadapi ancaman serius. Kondisi ini terjadi akibat serangan hama lalat buah yang semakin sulit dikendalikan. Hama tersebut kerap menyerang buah sejak masih muda hingga menyebabkan hasil panen rusak dan gagal dipasarkan. Kondisi itu membuat produktivitas jeruk petani terus menurun dalam beberapa musim terakhir.
Perbekel (Kepala Desa) Buahan Kaja, I Wayan Wirtama, mengatakan serangan lalat buah menjadi persoalan paling merugikan dibandingkan kendala pertanian lainnya. Lalat buah menjadi penyebab utama gagalnya hasil panen petani. “Fase penyebab kegagalannya memang paling dominan karena lalat buah,” ujarnya, pada Rabu (27/5/2026).
Menurutnya, dampak serangan hama tersebut cukup besar karena mampu menurunkan hasil produksi jeruk hingga 20% sampai 30% dalam setiap musim panen. Kerusakan akibat lalat buah jauh lebih parah dibandingkan gangguan lain seperti pembusukan pada batang atau cabang tanaman jeruk.
Jika pembusukan hanya terjadi pada sebagian tanaman, petani masih dapat melakukan pemangkasan. Langkah ini ditujukan agar muncul cabang baru yang lebih produktif.
Karena itu, pihak desa berharap adanya keterlibatan akademisi untuk membantu petani menemukan solusi. Pendampingan diharapkan mampu mengendalikan hama lalat buah melalui inovasi teknologi maupun pendampingan budidaya pertanian. Program Studi Agroteknologi Universitas Warmadewa diminta turun tangan membantu menciptakan metode pengendalian lalat buah yang lebih efektif.
Harapan Pendampingan Akademisi dan Teknik Fermentasi Pupuk
Selain pengendalian hama, petani juga membutuhkan tambahan pengetahuan terkait pengolahan pupuk. Mereka memerlukan edukasi mengenai teknik pemupukan yang benar, serta pemeliharaan tanaman agar hasil produksi meningkat.
“Karena ini hama yang paling dominan menyerang, kalau bisa dikendalikan tentu akan berdampak besar terhadap peningkatan pendapatan petani,” tegas Wirtama. Menanggapi hal tersebut, Ketua Program Studi Agroteknologi Unwar, I Gusti Bagus Udayana, menekankan pentingnya perubahan pola pemeliharaan tanaman jeruk oleh petani.
Ia menyoroti kebiasaan sebagian petani yang masih menggunakan kotoran ternak secara langsung tanpa proses fermentasi terlebih dahulu. “Harus difermentasi dulu. Jangan langsung menuangkan kotoran ternak ke tanaman karena respons tanaman akan lambat,” ujarnya.
Penerapan teknik budidaya yang tepat, disertai pengendalian hama secara berkelanjutan, menjadi langkah penting. Strategi ini mutlak diperlukan untuk menjaga produktivitas jeruk di kawasan Payangan.


















