Diduga Terpapar ASF, 27 Ekor Babi Mati di Payangan

Diduga Terpapar ASF, 27 Ekor Babi Mati di Payangan

GIANYAR, InsertBali — Ancaman wabah penyakit yang diduga kuat mengarah pada virus African Swine Fever (ASF) kembali menghantui para peternak babi di wilayah Kabupaten Gianyar. Untuk kali ini, kasus kematian ternak secara massal dilaporkan terjadi di lingkungan Banjar Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Gianyar.

Kepala Kewilayahan (Kadus) Susut, I Wayan Sudiantara pada Senin (25/5/2026), memberikan penjelasan mengenai kondisi tersebut. Pria yang juga merupakan seorang peternak babi ini mengungkapkan bahwa kematian ternak di wilayahnya mulai terjadi secara bertahap sejak akhir April 2026 lalu.

Total ternak milik warga setempat yang dilaporkan mati kini telah mencapai 27 ekor. Jumlah itu terdiri atas 10 ekor indukan babi dan 17 ekor anak babi (kucit). “Awalnya mati satu per satu sejak akhir April. Lama-lama terus bertambah,” ujarnya.

Menurut penuturannya, kondisi darurat ini membuat para peternak lokal harus mengalami kerugian material yang cukup besar. Hal ini mengingat sebagian besar babi yang mati merupakan indukan produktif serta anakan babi yang selama ini dipelihara untuk menyokong kebutuhan ekonomi keluarga.

Setidaknya tercatat ada sekitar enam peternak yang hewan ternaknya diduga kuat telah terpapar virus ASF. Fenomena merugikan ini tidak hanya terjadi di Banjar Susut saja. Kasus serupa kabarnya juga dialami oleh sejumlah peternak dari banjar lain di wilayah Kecamatan Payangan.

Warga mengaku sangat khawatir karena proses kematian ternak peliharaan mereka berlangsung dengan sangat cepat. Sebelum berujung mati, beberapa ekor babi disebut sempat mengalami gejala klinis seperti tubuh lemas, tidak nafsu makan, serta mengalami demam tinggi. Dalam hitungan hari, ternak-ternak tersebut kemudian mati secara bertahap. “Ternak yang mati itu langsung dibakar,” ujar Sudiantara.

Puskeswan Turun Tangan Lakukan Pengambilan Sampel Darah

Menyikapi kondisi meresahkan tersebut, petugas dari UPTD Puskeswan yang membawahi wilayah Kecamatan Payangan langsung turun ke lokasi pada Sabtu (23/5/2026). Petugas melakukan pemeriksaan klinis sekaligus mengambil sampel darah dari ternak yang sakit maupun yang telah mati untuk memastikan penyebab utama penyakit. “Petugas sudah datang kemarin mengambil sampel darah untuk diperiksa lebih lanjut,” kata Sudiantara.

Hingga saat ini, warga dan peternak setempat masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium resmi. Langkah ini guna memastikan apakah kematian puluhan ternak tersebut benar-benar akibat virus ASF atau dipicu oleh jenis penyakit lainnya.

Meski demikian, dugaan awal dari masyarakat memang mengarah pada virus ASF. Hal tersebut lantaran pola kematian ternak yang terjadi dinilai sangat mirip dengan kasus-kasus yang pernah mewabah sebelumnya di sejumlah wilayah di Bali.

Warga menaruh harapan besar agar pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan taktis yang cepat. Hal ini krusial dilakukan agar penyebaran penyakit tidak semakin meluas ke kandang-kandang milik peternak lainnya.

Kasus kematian babi akibat dugaan ASF sebelumnya memang sempat melanda beberapa daerah di Pulau Dewata dan menyebabkan kerugian finansial yang besar bagi peternak. Penyakit ASF sendiri dikenal sebagai infeksi virus yang menyerang babi dengan tingkat kematian (mortalitas) yang sangat tinggi.

Sampel Dikirim ke Laboratorium BBVet Denpasar

Dikonfirmasi terpisah, Kepala UPTD Puskeswan I yang mewilayahi Kecamatan Ubud dan Kecamatan Payangan, drh. Wyn Widnya, memberikan keterangan teknis. Ia mengatakan bahwa petugas di lapangan telah mengambil sampel darah dari lima ekor babi yang masih hidup dan dipelihara oleh peternak terkait.

“Sampelnya sudah dikirim ke Laboratorium BBVet Denpasar. Kita masih menunggu hasil resmi dari laboratorium,” ujarnya.

Selain melakukan pengambilan sampel darah hewan, petugas di lapangan juga telah memberikan pelayanan kesehatan hewan secara intensif. Pihaknya juga mendistribusikan cairan desinfektan yang digunakan untuk penyemprotan area kandang. “Kepada peternak, kami juga sudah mengedukasi pentingnya biosekuriti kandang,” ujarnya.

Shares: