Semarak Imlek 2577 Kongzili di Gianyar: Umat Padati Kongco, Berbagi Angpau, Hingga Harapan di Tahun Kuda

Semarak Imlek 2577 Kongzili di Gianya

GIANYAR, InsertBali – Suasana hangat dan penuh warna mewarnai Perayaan Imlek di Gianyar 2577 Kongzili pada Selasa (17/2/2026). Sejak pagi hari, warga Tionghoa tampak memadati sejumlah vihara dan kongco untuk melakukan persembahyangan. Selain aspek religius, momentum ini juga menjadi ajang silaturahmi keluarga dan tradisi berbagi kebahagiaan melalui angpau.

Salah satu pusat keramaian terlihat di Cong Poo Kong Bio yang berlokasi di Jalan Dipta, Gianyar. Kongco yang disungsung oleh ratusan warga Tionghoa di Kota Gianyar ini dipadati umat yang datang silih berganti. Dominasi busana serba merah tampak mencolok, sebagai simbol warna yang melambangkan keberuntungan serta sukacita bagi masyarakat Tionghoa.

Ketua Pemaksan Pura Sri Sedana/Cong Poo Kong Bio Gianyar, Nyoman Ariawan, mengungkapkan bahwa umat sudah mulai berdatangan sejak pagi hari. Antusiasme warga tetap tinggi untuk menjalankan rangkaian tradisi tahunan ini sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan berkah di tahun yang baru.

“Sejak pukul 08.00 WITA umat sudah mulai sembahyang dan berlangsung hingga sore hari,” ujar Nyoman Ariawan.

Makna Tahun Kuda dan Rangkaian Cap Go Meh

Tahun ini, Imlek 2577 Kongzili menandai masuknya Tahun Kuda dalam zodiak Tionghoa. Tahun Kuda dipercaya membawa energi semangat, kerja keras, dan optimisme baru bagi siapa saja yang menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Bagi warga Tionghoa, Perayaan Imlek di Gianyar bukan sekadar ritual, melainkan pengingat untuk mempererat hubungan kekeluargaan.

Nyoman Ariawan menjelaskan bahwa rangkaian Imlek berlangsung selama 15 hari penuh. Puncak penutupan akan dilaksanakan pada hari ke-15 yang dikenal dengan sebutan Cap Go Meh. Pada saat itu, umat akan kembali berkumpul di tempat ibadah untuk melaksanakan sembahyang penutup rangkaian tahun baru.

“Pada hari ke-15 atau Cap Go Meh, umat kembali melaksanakan sembahyang sebagai penutup rangkaian perayaan Imlek. Selain sembahyang di tempat ibadah, warga juga saling berkunjung ke rumah keluarga dan sesama warga Tionghoa. Ini menjadi ajang silaturahmi dan mempererat persaudaraan,” jelasnya.

Tradisi Sugian Hingga Berbagi Angpau

Rangkaian Perayaan Imlek di Gianyar sebenarnya telah dimulai sejak sepekan sebelumnya melalui tradisi Sugian. Tradisi ini berupa pembersihan tempat persembahyangan, baik di rumah maupun di kongco, sebagai simbol penyucian diri. Warga juga menghias rumah dengan ornamen khas, termasuk pemasangan sepasang tebu di pintu masuk sebagai lambang harapan rezeki yang manis.

Tradisi berbagi angpau menjadi bagian yang paling dinantikan, terutama oleh anak-anak dan generasi muda. Angpau bukan sekadar pemberian uang, melainkan simbol doa dan harapan agar si penerima memperoleh keberuntungan serta semangat baru. Tradisi ini terus dilestarikan sebagai jembatan kasih sayang antar generasi di dalam keluarga.

Sebelum menuju kongco, umat biasanya melaksanakan sembahyang Sin Cia di rumah masing-masing sebagai ungkapan syukur kepada leluhur. Dengan semangat Tahun Kuda, warga Tionghoa di Gianyar berharap stabilitas ekonomi dan kerukunan antarumat beragama di Bali, khususnya di Bumi Seni Gianyar, tetap terjaga dengan harmonis.

Shares: