GIANYAR, InsertBali — Ratusan krama subak dari Desa Sayan dan Desa Singakerta memadati Pura Masceti, Ubud, Gianyar, Minggu (29/3/2026). Mereka berkumpul untuk mengikuti tradisi perang tipat sebagai ungkapan syukur atas hasil panen. Selain itu, ritual ini bertujuan memohon kesuburan dan keseimbangan alam ke depan.
Pura yang tergolong Pura Ulun Suwi ini diempon oleh 10 subak dari dua desa dinas serta empat desa adat di wilayah Ubud bagian barat. Ratusan krama subak tampak antusias mengikuti rangkaian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.
Menurut Pemangku Pura, Jero Mangku Made Ngastra, menjelaskan bahwa perang tipat merupakan simbol ungkapan syukur atas hasil pertanian yang memuaskan. Selain itu, tradisi ini juga diyakini sebagai bentuk menjaga keseimbangan alam agar hasil panen ke depan tetap baik. “Hal ini sebagai bentuk syukur krama subak karena selama enam bulan terakhir,” ujarnya.
Tradisi tersebut rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Waktunya tepat tiga hari setelah nyineb piodalan, yang bertepatan dengan Redite Kliwon Watugunung. Sejak pagi hari, krama subak sudah menghaturkan pepranian berupa banten yang berisi tipat kelanan sebagai bagian dari persembahan.
Hanya setengah dari jumlah tipat yang dihaturkan ke pura, sementara sisanya dibawa pulang oleh warga. Tipat yang dihaturkan inilah kemudian digunakan sebagai “amunisi” dalam perang tipat. Suasana berlangsung penuh keceriaan namun tetap sarat akan nilai-nilai spiritual.
Perang tipat digelar di jaba tengah dan jaba sisi pura usai persembahyangan dilaksanakan. Peserta yang terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa terbagi dalam beberapa kelompok. Mereka saling melempar tipat diiringi tabuhan gamelan baleganjur yang menambah semarak suasana. “Meski terlihat seperti permainan, tradisi ini memiliki makna mendalam,” ujarnya.
Keyakinan Terhadap Kelestarian Hasil Pertanian
Menurut Jero Mangku Ngastra, masyarakat meyakini akan muncul hama jika tradisi ini tidak dilaksanakan. Gangguan pada persawahan menjadi kekhawatiran jika ritual tersebut diabaikan. Keyakinan ini membuat tradisi tetap lestari meskipun jumlah peserta terkadang tidak sebanyak biasanya.
Selain perang tipat, krama subak juga melakukan ritual nunas ulam bawi. Ritual ini nantinya dihaturkan di masing-masing palinggih di sawah mereka. Tujuannya adalah memohon kesuburan tanaman padi agar tumbuh dengan baik. Harapannya, padi terhindar dari berbagai halangan hingga masa panen tiba.
Melalui tradisi tersebut, krama subak tidak hanya merayakan hasil panen saja. Mereka juga memperkuat nilai kebersamaan dan spiritualitas dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Harapannya, hasil pertanian ke depan semakin meningkat dan membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.



















