Ngayah Tanpa Pamrih, Gubernur Koster Bantu Seragam untuk 503 Pecalang Buleleng

Serahkan Seragam Senilai Rp250 Juta Saat Tumpek Uye

Buleleng, Insert Bali — Bertepatan dengan perayaan Tumpek Uye, Sabtu (7/2/2026), Gubernur Bali Wayan Koster bertatap muka langsung dengan pecalang Desa Adat Buleleng di Setra Desa Adat Buleleng. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Koster menyerahkan bantuan seragam lengkap kepada 503 pecalang dari 14 Banjar Adat di Desa Adat Buleleng.

Bantuan seragam yang terdiri dari udeng, baju, kamen, dan saput senilai Rp250 juta ini didukung oleh Perumda Kertha Bali Saguna. Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi pecalang yang selama ini ngayah tanpa pamrih menjaga keamanan dan ketertiban adat.

Akan Diberikan untuk Seluruh Pecalang se-Bali

Gubernur Koster menyampaikan bahwa bantuan seragam ini tidak hanya berhenti di Desa Adat Buleleng. Ke depan, Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen memberikan seragam pecalang untuk seluruh Desa Adat di Bali, dengan jumlah pecalang lebih dari 20 ribu orang. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat identitas, kebanggaan, serta soliditas pecalang sebagai satuan pengamanan adat Bali.

Dialog Hangat dan Komitmen Insentif Pecalang

Di sela pembagian seragam, Gubernur Koster membuka sesi dialog yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Salah satu pecalang menanyakan realisasi insentif bagi pecalang Desa Adat.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Koster menegaskan bahwa peran pecalang sangat strategis sebagai ujung tombak pengamanan adat. Dan penjaga harmoni sosial masyarakat Bali, bahkan kerap dilibatkan pemerintah dalam situasi mendesak di luar peran TNI dan Polri.“Kontribusi pecalang sangat besar. Karena itu saya memikirkan bagaimana memberi perhatian yang layak kepada pecalang melalui desa adat,” ujar Koster.

Insentif Rp50 Juta per Desa Adat

Gubernur Koster menjelaskan bahwa Pemprov Bali tengah mempersiapkan alokasi insentif sebesar Rp50 juta untuk setiap desa adat. Yang secara khusus diperuntukkan bagi insentif pecalang, bukan untuk kepentingan lain.

Namun demikian, realisasi program ini masih menunggu kesiapan anggaran daerah dan diperkirakan dapat dilaksanakan pada tahun 2027 atau paling lambat 2028. Serta harus diberlakukan secara merata di seluruh Bali.“Saat ini masih banyak prioritas pembangunan yang harus diselesaikan, seperti infrastruktur dan jalan. Mohon bersabar,” tegas Gubernur asal Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng tersebut.

Desa Adat dan Pecalang Fondasi Bali

Dalam kesempatan itu, Gubernur Koster juga menekankan bahwa desa adat dan pecalang merupakan fondasi utama keberlangsungan Bali. Desa adat menjadi penyangga adat, budaya, dan kearifan lokal agar tidak tergerus arus modernisasi.“Kalau tidak ada desa adat, Bali mungkin tidak bisa eksis seperti sekarang. Inilah yang membedakan Bali dengan daerah lain,” ungkap Ketua DPD PDI Perjuangan Bali tersebut.

Apresiasi dan Harapan Pecalang

Kelian Desa Adat Buleleng menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian Gubernur Koster kepada pecalang.“Dukungan ini sangat berarti bagi kami sebagai garda terdepan. dalam menjaga keamanan dan ketertiban desa,” ujarnya.

Rasa bangga juga diungkapkan para pecalang, salah satunya I Nengah Bagus Mahendra dan Made Dwi Arsa Nata. Yang menyebut bahwa dengan seragam baru yang seragam se-Bali, pecalang merasa lebih percaya diri dan gagah dalam menjalankan tugas.

Terkait rencana pemberian insentif, para pecalang berharap komitmen pemerintah dapat segera terwujud. Mengingat selama ini pecalang murni ngayah tanpa menerima insentif. Acara tersebut turut dihadiri Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra beserta istri, Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna, Ketua DPRD Provinsi Bali Dewa Made Mahayadnya, anggota DPRD Provinsi Bali dan DPRD Buleleng, serta prajuru dan pecalang Desa Adat Buleleng.

Gubernur Koster Tinjau Progres Pengerjaan Fasilitas Pendukung Turyapada Tower

Shares: