DENPASAR, InsertBali – Tak perlu lagi menunggu perjalanan ke Bali untuk menikmati pie susu. Dari dapur produksi Pie Susu Sisy di Bali. Kudapan yang dulu identik sebagai buah tangan wisatawan kini bisa melaju. Melaju menembus jarak, dikemas dan dikirim ke berbagai penjuru Nusantara. Dikirim hanya dengan beberapa sentuhan di layar ponsel.
Di balik perubahan itu ada perjalanan panjang Sisy. Perjalanan bersama suaminya, Walid Alex Bamualim. Sejak merintis Pie Susu Sisy pada 2010, keduanya memulai usaha dari skala rumahan.
Saat itu, pemasaran lebih banyak mengandalkan sistem konsinyasi. Konsinyasi dengan toko dan pusat oleh-oleh di Bali. Namun, persaingan yang semakin ketat membuat Sisy harus mencari cara baru.
Ketika sejumlah pusat oleh-oleh mulai memproduksi camilan sendiri, ia memilih tidak berhenti. Bisnisnya justru diarahkan masuk ke dunia digital.
Keputusan bergabung dengan Shopee pada 2022 menjadi salah satu titik penting. Pada awal penjualan online, omzet masih di bawah Rp20 juta per bulan.
Perlahan, pemanfaatan berbagai fitur dalam ekosistem e-commerce mendorong penjualan. Murni mulai dari Gratis Ongkir XTRA, Promo XTRA hingga kampanye tanggal kembar.
Kini, Pie Susu Sisy Official Store mampu membukukan omzet. Omzet sekitar Rp80 juta hingga Rp100 juta per bulan melalui Shopee. Omzet dengan volume penjualan mencapai ribuan pak.
“Shopee mempermudah pelanggan di luar Pulau Bali untuk memesan kapan saja tanpa harus terbang ke Bali,” kata Sisy saat ditemui Minggu (30/8/2026).
Bukan hanya konsumen dari luar Bali yang menikmati kemudahan tersebut.
Wisatawan yang sedang berada di Pulau Dewata juga memanfaatkan layanan pengiriman cepat. Layanan untuk membawa produk ke tempat mereka menginap.
“Turis yang sedang berada di Bali kini lebih suka pakai pengiriman Instant atau Same Day karena serba cepat. Apalagi dengan adanya program opsional Gratis Ongkir XTRA dan Promo XTRA, pembeli makin diuntungkan,” ujarnya.
Bukan Sekadar Toko Online Dan Strategi Interaksi Digital
Bagi Sisy, masuk ke e-commerce bukan sekadar membuka etalase baru. Ia bersama tim aktif membangun interaksi dengan konsumen. Interaksi melalui berbagai strategi pemasaran digital.
Shopee Live menjadi salah satu andalan. Siaran langsung dilakukan hingga enam hari dalam sepekan. Durasi siaran mencapai empat jam sehari, terutama pada sore hingga malam.
Konsumen tidak hanya melihat produk, tetapi juga dapat berinteraksi langsung. Strategi tersebut kemudian diperkuat dengan program affiliate. Program melalui kolaborasi bersama kreator konten.
Aktivitas digital itu berjalan beriringan dengan penguatan produksi.
Saat ini Pie Susu Sisy didukung sekitar 90 karyawan. Dukungan dengan kapasitas produksi harian lebih dari 100 produk per SKU. Katalog pun terus berkembang.
Selain pie susu original, tersedia Brownkiss, Pie Kacang. Serta produk lainnya yang telah bersertifikasi halal MUI.
Dari Bali Menuju Dunia Dan Peluang Ekspor Mancanegara
Perjalanan Pie Susu Sisy belum berhenti di pasar Nusantara. Pasar internasional mulai menjadi sasaran berikutnya. Tantangannya adalah daya tahan produk. Pie susu segar memiliki keterbatasan masa simpan. Keterbatasan sehingga pengiriman jarak jauh perlu diperhitungakan.
Sebaliknya, produk seperti pie kacang dan brownies memiliki peluang lebih besar. Peluang untuk dikembangkan ke pasar mancanegara.
Dari usaha rumahan yang dimulai dengan hobi membuat kue. Sisy kini melihat peluang yang jauh lebih luas. Digitalisasi membuat jarak bukan lagi penghalang utama.
Sepotong pie yang lahir dari dapur di Bali kini dapat tiba. Tiba di meja konsumen di berbagai daerah.
Dan dari layar ponsel, langkah kecil itu perlahan membuka jalan. Jalan bagi cita rasa Bali untuk dikenal lebih luas.



















