BANGLI – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengapresiasi pelaksanaan Pitra Yadnya massal di Desa Adat Kubu, Kabupaten Bangli. Menurutnya, tradisi tersebut memperkuat persaudaraan sekaligus meringankan beban masyarakat.
Apresiasi itu disampaikan saat menghadiri Upacara Pitra Yadnya (Ngaben dan Peroras Kinembulan) di Bale Pasamuhan/Payadnyan Desa Adat Kubu, Selasa (28/7/2026).
Wagub menilai kebersamaan menjadi kekuatan utama masyarakat Bali dalam menjalankan yadnya. Nilai gotong royong, katanya, harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Saya berterima kasih kepada masyarakat Desa Adat Kubu yang terus menjaga kebersamaan dalam beryadnya. Semangat ini harus tetap hidup sampai anak cucu kita,” ujar Giri Prasta.
Ia mengatakan pelaksanaan yadnya secara massal terbukti mampu mengurangi beban biaya setiap keluarga. Selain itu, persiapan upacara juga menjadi lebih ringan karena dikerjakan bersama.
Menurutnya, pola seperti ini layak dipertahankan dan dapat dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Pemerintah pun mendukung pelaksanaan yadnya yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Giri Prasta juga mengusulkan agar rangkaian yadnya massal dilengkapi dengan upacara menek kelih. Upacara tersebut menjadi penanda bagi remaja yang memasuki fase kedewasaan.
“Bila memungkinkan, rangkaian yadnya ini juga dilengkapi dengan karya menek kelih. Dengan begitu manfaatnya akan semakin lengkap bagi masyarakat,” katanya.
Ia mengingatkan masyarakat agar terus menjaga rasa persaudaraan. Semangat gotong royong dinilai menjadi modal penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan adat di Bali.
Pemerintah Provinsi Bali, lanjutnya, akan terus mendukung pelaksanaan yadnya. Dukungan itu diharapkan membuat masyarakat lebih fokus menjalankan ngayah dan mempersiapkan upakara.
Pitra Yadnya Digelar Setiap Lima Tahun
Bendesa Adat Kubu, I Nengah Miasa, menjelaskan Pitra Yadnya massal diselenggarakan setiap lima tahun. Tradisi tersebut bertujuan meringankan biaya upacara sekaligus mempererat kebersamaan warga.
Menurutnya, beban yang biasanya ditanggung masing-masing keluarga menjadi lebih ringan melalui pelaksanaan secara bersama.
Ia melaporkan upacara tahun ini diikuti 106 sawa untuk ngaben dan 52 peserta ngelungah. Selain itu, terdapat 119 Sang Dewa untuk ngerorasin.
Rangkaian yadnya juga diikuti 269 peserta metatah, satu peserta tiga bulanan, serta 11 peserta otonan. Upacara turut mencakup berbagai rangkaian adat lainnya.
Data panitia juga mencatat 14 banta meninggal belum genap setahun, lima banta meninggal di luar Bali, tujuh Sang Dewa belum metatah, lima banta yang sudah dibakar, serta 96 ngaben banta atau gumuk.
Biaya pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp1 juta untuk ngaben. Biaya ngeroras sebesar Rp1,5 juta, sedangkan paket ngaben dan ngerorasin sebesar Rp2,5 juta.
Pelaksanaan yadnya mendapat dukungan dana Semesta Berencana Pemerintah Provinsi Bali sebesar Rp95 juta. Pemerintah Kabupaten Bangli juga memberikan bantuan Rp103 juta.
Selain itu, LPD menyalurkan bantuan Rp25 juta. Setiap kepala keluarga turut memberikan pepatusan sebesar Rp300 ribu sebagai bentuk partisipasi bersama.
Pemerintah Dukung Pelestarian Tradisi Bali
Wagub Giri Prasta menegaskan pelestarian adat dan budaya merupakan bagian penting pembangunan Bali. Karena itu, pemerintah akan terus hadir mendukung kegiatan adat yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, yadnya massal bukan hanya menjaga tradisi. Kegiatan tersebut juga memperkuat solidaritas sosial, mengurangi beban ekonomi warga, serta menjaga nilai-nilai luhur budaya Bali agar tetap lestari dari generasi ke generasi.
Bupati Satria dan Wabup Tjok Surya Muspayang Bakti Karya Aci Pengenteg Jagat di Pura Gelap Besakih



















