GIANYAR, InsertBali — Temuan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Gianyar masih menjadi atensi serta perhatian serius dari pemerintah daerah setempat. Berdasarkan data rekapitulasi dari bulan Januari hingga April 2026, otoritas terkait mencatat ada sebanyak 260 kasus DBD.
Ratusan kasus tersebut tersebar di seluruh wilayah Gianyar, namun beruntung dilaporkan tanpa adanya kasus kematian (nol fatalitas). Data berkala menunjukkan adanya tren peningkatan jumlah kasus pada setiap bulannya. Pada bulan Januari tercatat ada 49 kasus, lalu Februari meningkat menjadi 55 kasus. Memasuki bulan Maret angka temuan mencapai 72 kasus, dan pada April kembali naik menjadi 84 kasus. Sementara itu, sampai pertengahan bulan Mei 2026 ini baru tercatat sebanyak 23 kasus DBD.
Wilayah kerja dari Puskesmas Sukawati I menjadi penyumbang angka kasus tertinggi selama periode tersebut dengan total akumulasi 62 kasus. Desa Kemenuh menjadi wilayah paling dominan di Sukawati dengan temuan 22 kasus, disusul kemudian oleh Desa Sukawati sebanyak 15 kasus. Selain itu, wilayah kerja Puskesmas Ubud I juga mencatat angka yang cukup tinggi dengan total 44 kasus. Di wilayah ini, Kelurahan Ubud mencapai 13 kasus dan Desa Petulu sebanyak 12 kasus.
Untuk wilayah Puskesmas Blahbatuh I, petugas mencatat total ada 25 kasus. Desa Keramas menjadi yang tertinggi di wilayah ini sebanyak 7 kasus dan Desa Bona sebanyak 6 kasus. Sementara itu, Puskesmas Gianyar I mencatat 19 kasus, di mana angka terbanyak berasal dari Kelurahan Gianyar sebanyak 7 kasus.
Selanjutnya, Puskesmas Ubud II mencatat total 18 kasus dengan rincian Desa Singakerta sebanyak 9 kasus dan Desa Kedewatan sebanyak 8 kasus. Di sisi lain, Puskesmas Payangan menjadi wilayah dengan temuan kasus paling rendah, karena hanya tercatat ada 1 kasus di Desa Buahan Kaja.
Dinkes Gianyar Ingatkan Bahaya Fase Kritis Pasien
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, Ni Nyoman Ariyuni, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh fase kritis penyakit DBD. Menurutnya, banyak pasien merasa sembuh ketika demam mulai turun, padahal kondisi tersebut justru menjadi fase paling berbahaya. “Pada fase kritis, risiko kebocoran plasma, penurunan trombosit, hingga perdarahan dapat meningkat drastis. Masyarakat harus segera datang ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala DBD,” ujarnya, Senin (25/5/2026).
Adapun sejumlah gejala klinis yang perlu diwaspadai oleh masyarakat antara lain demam tinggi mendadak, sakit kepala, serta nyeri otot dan sendi. Gejala lainnya berupa nyeri di belakang mata, mual, muntah, muncul bintik merah, hingga nyeri perut hebat dan muntah secara terus-menerus.
Untuk menekan penyebaran kasus di lapangan, Pemerintah Kabupaten Gianyar terus menggencarkan Gerakan Pencegahan Antisipasi Lonjakan DBD. Langkah ini digulirkan melalui aksi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus.
Seluruh perbekel dan lurah di Gianyar diminta aktif untuk menggerakkan masyarakat secara masif. Warga diimbau melakukan pengurasan tempat penampungan air, menutup wadah air, mendaur ulang barang bekas, hingga melakukan pemeriksaan jentik nyamuk secara berkala.
Selain memicu gerakan warga, Dinas Kesehatan Gianyar juga melakukan berbagai langkah pengendalian taktis. Petugas di lapangan gencar melaksanakan penyelidikan epidemiologi, aksi fogging fokus, pengadaan racun jentik larvasida, promosi kesehatan, serta penguatan gerakan PSN di lingkungan pemukiman.
Pemerintah daerah berharap adanya kolaborasi aktif antara petugas kesehatan dan seluruh lapisan masyarakat. Sinergi ini dipercaya mampu menekan angka kasus DBD hingga akhir tahun, sekaligus mencegah terjadinya lonjakan kasus yang lebih parah di masa mendatang.



















