Restorasi Pura Agung Besakih Dimulai, Kembalikan Keagungan Kawasan Suci

Karangasem, InsertBali – Langkah besar dalam pelestarian warisan spiritual Bali resmi dimulai. Gubernur Bali, Wayan Koster, memulai restorasi kawasan Parahyangan di Pura Agung Besakih sebagai upaya mengembalikan keagungan pusat spiritual umat Hindu Bali.

Momentum sakral ini ditandai dengan upacara ngeruak atau mulang dasar serta peletakan batu pertama di kawasan Pura Banua Besakih, bertepatan dengan Hari Purnama. Restorasi ini menjadi bagian penting dari penataan menyeluruh kawasan suci yang selama ini menjadi jantung kosmologi Bali.

Restorasi, Bukan Sekadar Pembangunan Fisik

Dalam sambutannya, Koster menegaskan bahwa proyek ini bukan pembangunan baru atau sekadar renovasi biasa. Ia secara tegas menyampaikan, “Ini bukan pembangunan baru, bukan juga rehab biasa. Ini restorasi, membangun kembali dengan tetap mempertahankan keaslian.”

Penegasan tersebut menunjukkan bahwa fokus utama proyek ini adalah mengembalikan bentuk, struktur, serta nilai spiritual kawasan sesuai pakem arsitektur Bali yang asli.

Dari Ketidakteraturan Menuju Harmoni Suci

Restorasi ini berangkat dari kondisi kawasan yang selama bertahun-tahun mengalami ketidakteraturan. Perbedaan material, warna, hingga ornamen pada berbagai bangunan membuat kawasan suci ini kehilangan kesan harmonisnya.

Koster mengungkapkan kondisi tersebut dengan jujur. Ia mengatakan, “Secara keseluruhan tidak harmonis dan tidak mencerminkan keagungan kawasan suci dengan latar Gunung Agung.”

Melalui penataan ulang, seluruh elemen penting seperti pelinggih, penyengker, dan kori akan diseragamkan sesuai standar arsitektur Bali. Tujuannya bukan hanya estetika, tetapi juga mengembalikan keseimbangan sekala dan niskala di kawasan suci tersebut.

Proyek Besar Lebih dari Rp1 Triliun

Restorasi Parahyangan merupakan tahap lanjutan dari penataan besar kawasan Besakih. Sebelumnya, pemerintah telah menyelesaikan tahap awal yang berfokus pada penataan area palemahan, termasuk fasilitas parkir dan sarana pendukung umat.

Koster mengenang kondisi sebelumnya yang semrawut, terutama terkait akses kendaraan. Ia menyampaikan, “Dulu krodit sekali. Kendaraan menumpuk, umat tidak bisa masuk, bahkan ada yang sembahyang dari jalan lalu pulang.”

Kini, dengan sistem parkir terpusat dan pengaturan yang lebih baik, kenyamanan umat dalam beribadah meningkat secara signifikan.

Restorasi sebagai Laku Spiritual

Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, Koster menekankan bahwa pekerjaan ini memiliki dimensi spiritual yang sangat kuat. Ia mengingatkan seluruh pihak yang terlibat agar bekerja dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Ia menegaskan, “Ini linggih stana Ida Bhatara. Harus dikerjakan dengan rasa, dengan doa, tidak bisa asal bangun.” Bahkan, ia juga mengingatkan agar kualitas tidak dikorbankan demi keuntungan semata karena proyek ini menyangkut kawasan suci.

Warisan Leluhur untuk Masa Depan Bali

Dalam refleksinya, Koster menekankan bahwa Bali bukan sekadar wilayah geografis, melainkan ruang sakral yang diwariskan oleh leluhur. Ia menyebut bahwa kawasan Besakih merupakan bagian penting dari sistem kosmologi Bali.

Ia menyampaikan, “Bali ini bukan tanah biasa. Ini tanah yang disucikan oleh para leluhur. Kita hanya melanjutkan apa yang telah mereka rintis.” Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa generasi saat ini memiliki tanggung jawab menjaga warisan tersebut.

Tahap Lanjutan dan Integrasi Akses Kawasan

Ke depan, pemerintah juga telah menyiapkan tahap lanjutan berupa penataan akses menuju kawasan Besakih dari berbagai arah. Rencana ini diharapkan mampu menciptakan perjalanan spiritual yang lebih tertata dan nyaman bagi umat.

Dengan perencanaan yang matang hingga beberapa tahun ke depan, kawasan Besakih akan terintegrasi secara infrastruktur tanpa menghilangkan nilai kesuciannya.

Restorasi untuk Bali dan Dunia

Mengakhiri sambutannya, Koster menegaskan bahwa proyek ini memiliki makna yang lebih luas. Ia menyatakan, “Ini bukan hanya untuk Bali, tetapi untuk Indonesia dan dunia.”

Dengan target penyelesaian tahap kedua pada 2026, restorasi ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam menghidupkan kembali keagungan Pura Agung Besakih sebagai pusat spiritual yang tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga kuat secara nilai dan makna.

Hari Buruh 2026 di Bali Berlangsung Harmonis dan Penuh Makna

Shares: