Ekspor Bali Melemah di Januari 2026, Impor Justru Naik Tajam Didorong Mesin dan Energi

Denpasar, Insert Bali – Kinerja perdagangan luar negeri Bali pada Januari 2026 menunjukkan tren yang beragam. Menurut Data terbaru BPS,  Nilai ekspor tercatat menurun dibandingkan periode sebelumnya, sementara impor mengalami lonjakan signifikan, terutama pada komoditas mesin dan energi.

Ekspor Bali Turun Dibanding Desember dan Tahun Lalu

Nilai ekspor Bali pada Januari 2026 tercatat sebesar US$ 48,32 juta. Angka ini turun 1,29 persen dibandingkan Januari 2025 yang mencapai US$ 48,96 juta, sekaligus lebih rendah dibandingkan capaian Desember 2025 sebesar US$ 53,03 juta.

Penurunan ini menandakan adanya perlambatan permintaan di sejumlah pasar utama, meskipun struktur ekspor Bali masih relatif stabil.

Amerika Serikat Masih Dominan, Jerman Turun Terdalam

Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat tetap menjadi pasar utama dengan kontribusi 29,28 persen. Namun, nilai ekspor ke negara tersebut mengalami penurunan 15,99 persen secara tahunan. Sementara itu, penurunan terdalam terjadi pada pasar Jerman yang anjlok hingga 22,90 persen (y-on-y), terutama akibat turunnya ekspor produk kayu dan barang dari kayu.

Di sisi lain, beberapa negara mencatat pertumbuhan positif, seperti:

  • Prancis naik 13,45 persen
  • Belanda naik 66,11 persen
  • Inggris melonjak 56,39 persen

Produk Perikanan Jadi Andalan Ekspor

Dari sisi komoditas, ekspor Bali masih didominasi oleh produk perikanan, khususnya ikan, krustasea, dan moluska (HS 03) dengan nilai US$ 14,31 juta atau 29,63 persen dari total ekspor. Namun, tidak semua komoditas mencatat kinerja positif. Ekspor buah-buahan (HS 08) mengalami penurunan tajam hingga 56,80 persen, terutama akibat melemahnya permintaan dari Tiongkok.

Impor Bali Naik 28,60 Persen

Berbanding terbalik dengan ekspor, nilai impor Bali pada Januari 2026 mencapai US$ 13,44 juta. Angka ini meningkat 28,60 persen dibandingkan Januari 2025 yang sebesar US$ 10,45 juta, meskipun lebih rendah dibandingkan Desember 2025.

Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan barang impor, baik untuk konsumsi maupun aktivitas produksi dan pembangunan.

Korea Selatan dan Singapura Dorong Lonjakan Impor

Dari negara asal, lonjakan impor tertinggi berasal dari Korea Selatan yang meningkat drastis hingga 588,78 persen (y-on-y). Selain itu, impor dari Singapura juga melonjak 211,27 persen, sementara impor dari Tiongkok tetap menjadi yang terbesar dengan kontribusi 23,40 persen.

Mesin dan Energi Dominasi Struktur Impor

Berdasarkan komoditas, impor Bali didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis (HS 84) dengan nilai US$ 2,80 juta atau 20,87 persen dari total impor. Kenaikan paling mencolok terjadi pada impor bahan bakar mineral (HS 27) yang melonjak ekstrem hingga 244.222,30 persen, menunjukkan meningkatnya kebutuhan energi di Bali.

Tantangan Neraca Perdagangan Bali

Perbedaan tren antara ekspor yang melemah dan impor yang meningkat menunjukkan tekanan terhadap neraca perdagangan Bali di awal 2026.

Pemerintah daerah dan pelaku usaha diharapkan dapat:

  • Memperluas pasar ekspor baru
  • Meningkatkan daya saing produk lokal
  • Mengurangi ketergantungan pada impor tertentu

Dengan strategi yang tepat, Bali diharapkan mampu menjaga stabilitas perdagangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

 

Turis Asal Tiongkok Diduga Jadi Korban Pemerkosaan dan Pencurian di Pecatu Bali

Shares: