BADUNG — Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, menegaskan perlindungan kain tenun tradisional Endek Bali harus dilakukan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir.
Upaya tersebut mencakup proses produksi, pelestarian motif, perlindungan karya, hingga pemasaran. Langkah itu penting untuk menjaga identitas Endek sebagai warisan budaya sekaligus meningkatkan daya saing dan kesejahteraan perajin.
Hal tersebut disampaikan Ibu Putri Koster saat menghadiri Journey of Wastra, rangkaian peringatan HUT ke-36 Discovery Kartika Plaza Hotel, di Beach Gate Discovery Kartika Plaza Hotel, Badung, Jumat (2/10/2026).
Identitas Endek Harus Dijaga dari Hulu
Putri Koster mengatakan pelestarian Endek tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan penggunaan dan promosi.
Menurutnya, sisi hulu dan proses produksi juga harus mendapatkan perlindungan. Hal tersebut mencakup kualitas, motif, bahan, serta karakter Endek sebagai warisan budaya Bali.
“Untuk menjaga keberadaan kain tenun tradisional Endek Bali, harus ada upaya perlindungan dari hulu hingga hilir. Ketika di hilir keberadaannya mulai diangkat, maka di hulu dan bagian tengahnya juga harus dijaga,” ujar Putri Koster.
Ia mengingatkan agar peningkatan produksi tidak membuat Endek keluar dari karakter dan koridor budayanya.
“Jangan sampai produksinya keluar dari koridor yang akhirnya membuat kita kehilangan identitas warisan leluhur,” tegasnya.
Menurut Putri Koster, setiap daerah di Nusantara memiliki kekayaan wastra dengan ciri khas masing-masing.
Kekhasan tersebut harus dipertahankan dan tidak diseragamkan. Selain menjadi identitas budaya, kekhasan wastra juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat dan perajin.
Perajin Perlu Mendapat Perlindungan Kekayaan Intelektual
Putri Koster juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap ide, desain, dan motif karya para perajin.
Menurutnya, regulasi dan penegakan hukum terhadap pelanggaran kekayaan intelektual diperlukan. Langkah tersebut penting agar karya perajin tidak digunakan pihak lain tanpa memperhatikan hak penciptanya.
“Kalau ada yang memiliki ide dan motif kemudian diambil oleh pihak lain, aturan dan sanksinya harus ditegakkan. Kalau kita diam saja, kita akan semakin kehilangan warisan kita,” katanya.
Ia kembali menekankan agar karakter wastra setiap daerah tetap dipertahankan.
“Jangan menyamakan satu daerah dengan daerah lainnya karena masing-masing harus memiliki dan mempertahankan ciri khasnya,” tegasnya.
Perlu Perkuat Akses Pasar Perajin
Dari sisi ekonomi, Putri Koster mendorong terbentuknya ekosistem yang mempertemukan perajin dengan pasar.
Dekranasda Provinsi Bali, kata dia, turut menyediakan ruang di Art Center sebagai wadah pemasaran produk kerajinan lokal.
Keberadaan ruang pemasaran tersebut diharapkan membantu memperkenalkan karya perajin sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.
Menurut Putri Koster, meningkatnya permintaan terhadap Endek dapat membuka peluang bagi perajin untuk meningkatkan produksi.
Permintaan pasar juga dapat mendorong pengembangan kreativitas dan variasi motif. Namun, peningkatan kuantitas harus tetap diimbangi dengan kualitas.
Karakter daerah asal Endek juga harus tetap dipertahankan agar identitas wastra tidak hilang.
Dorong Generasi Muda Cintai Endek
Regenerasi konsumen menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Endek Bali.
Putri Koster mengatakan generasi muda perlu diperkenalkan dan didorong mencintai produk lokal.
Generasi muda juga perlu diberi ruang untuk mengembangkan penggunaan Endek sesuai selera dan perkembangan fesyen.
Namun, pengembangan tersebut tetap harus mempertahankan identitas Endek sebagai wastra Bali.
“Anak-anak muda harus kita ajarkan mencintai produk lokal terlebih dahulu. Setelah itu, biarkan mereka menggunakan dan mengembangkannya sesuai selera masing-masing, tetapi tetap dengan bahan Endek yang kita miliki,” katanya.
Putri Koster juga mendorong penguatan kolaborasi antara Dekranasda Provinsi Bali, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta berbagai pemangku kepentingan.
Kolaborasi tersebut diperlukan agar setiap pihak dapat menjalankan tugas, fungsi, dan kewenangannya secara optimal.
Termasuk dalam perlindungan kekayaan intelektual serta penegakan ketentuan terkait produk kerajinan daerah.
Journey of Wastra Promosikan Wastra Bali
Kehadiran Journey of Wastra dinilai menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan wastra Bali kepada masyarakat luas.
Kegiatan tersebut menyasar masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara. Acara ini juga menjadi ruang promosi bagi perajin dan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) Bali.
Rangkaian kegiatan diisi dengan pameran karya perajin IKM Bali, kegiatan membatik, talk show, serta peragaan busana.
Talk show menghadirkan Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya Kementerian Perindustrian Dickie Sulistya Aprilyanto, Creative Director Idon Pande, serta Coordinator of Fashion Design Tjok. Istri Ratna.
Journey of Wastra juga menampilkan peragaan busana karya desainer Cok Abi, Padmi, serta desainer dari Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya Kementerian Perindustrian.
Melalui kegiatan tersebut, wastra Bali diharapkan semakin berkembang sebagai bagian dari identitas budaya.
Pada saat yang sama, pengembangan wastra juga diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi perajin dan pelaku industri kreatif Bali.
Gubernur Koster Terima Banggar DPR RI, Dorong Dukungan APBN untuk Infrastruktur Strategis Bali



















