Prajaniti Bali Usulkan Nyepi Jadi Warisan Dunia UNESCO

Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali resmi menyurati Fadli Zon untuk mengusulkan Hari Raya Nyepi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dunia oleh UNESCO. Langkah ini dinilai strategis dalam memperkuat pengakuan global sekaligus perlindungan terhadap nilai-nilai sakral dan kearifan lokal yang terkandung dalam Nyepi.

Nyepi Dinilai Punya Nilai Universal

Ketua DPD Prajaniti Bali, Wayan Sayoga menegaskan bahwa Nyepi bukan sekadar tradisi lokal, melainkan memiliki nilai universal yang relevan bagi dunia. Menurutnya, konsep Nyepi yang menekankan keheningan, refleksi diri, dan harmoni dengan alam merupakan bentuk kearifan lokal dalam “mendinginkan bumi”. “Nyepi mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Nilai ini sangat relevan di tengah krisis global saat ini,” ujarnya.

Dorong Perlindungan Kesucian Nyepi

Selain mengusulkan ke UNESCO, Prajaniti Bali juga melayangkan surat keberatan kepada pemerintah daerah dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Langkah ini menyusul adanya pelanggaran kesucian Nyepi oleh wisatawan asing yang sempat viral di media sosial. Prajaniti menegaskan bahwa Nyepi harus dihormati sebagai hari suci, bukan sekadar hari libur.

Dukungan dari Tokoh dan Organisasi Hindu

Dukungan terhadap usulan ini datang dari berbagai kalangan, termasuk tokoh adat dan organisasi keagamaan di Bali. Salah satu tokoh Hindu Bali menyatakan bahwa pengakuan UNESCO akan memperkuat posisi Nyepi di mata dunia sekaligus meningkatkan kesadaran global terhadap pentingnya menjaga harmoni alam. “Pengakuan dunia akan mempertegas bahwa Nyepi bukan hanya milik Bali, tetapi warisan peradaban yang bernilai universal,” ungkap seorang tokoh umat Hindu Bali.

Sementara itu, perwakilan organisasi keagamaan Hindu lainnya menekankan pentingnya regulasi yang lebih tegas untuk menjaga kesucian Nyepi di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan.

Bukan Sekadar Libur, Tapi Momentum Sakral

Prajaniti Bali menegaskan bahwa tujuan utama dari usulan ini adalah mengubah persepsi publik terhadap Nyepi.

Hari Raya Nyepi diharapkan dipahami sebagai:

  • Momentum sakral umat Hindu
  • Waktu refleksi dan penyucian diri
  • Simbol harmoni manusia dan alam

Dengan pengakuan internasional, diharapkan seluruh pihak, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, semakin menghormati pelaksanaan Nyepi di Bali.

UHN Sugriwa Resmikan Fakultas Saintek, Menag Tekankan Integrasi Agama dan Sains

Shares: