GIANYAR, InsertBali — Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Gianyar terus memperkuat peran strategis pemangku sebagai garda terdepan. Pemangku merupakan sosok penting dalam pelaksanaan upacara keagamaan Hindu di Bali. Hal ini diwujudkan melalui kegiatan Penguatan Kapasitas Pemangku yang digelar di kediaman Ketua MDA Kecamatan Gianyar, pada Sabtu (28/3/2026).
Penyarikan (Sekretaris) MDA Kecamatan Gianyar, I Kadek Juni Arta, menjelaskan pertemuan ini menjadi langkah awal. Pertemuan ditujukan untuk menyelaraskan program kerja antara MDA dengan lembaga di bawah naungannya, khususnya Paikatan Pemangku. “Ini merupakan tahun pertama kami melakukan pertemuan bersama para pemangku di Kecamatan Gianyar. Fokus utama kami adalah menyelaraskan program kerja,” ujarnya.
Beliau juga menambahkan bahwa peningkatan kapasitas ini bertujuan agar pemangku mampu menjaga serta melestarikan tradisi dan budaya Bali. Menurutnya, kegiatan ini juga melibatkan berbagai unsur, termasuk organisasi keagamaan seperti Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Gianyar.
Keseragaman Tata Laksana Upacara Sudiwidani dan Pemerasan
Dalam diskusi tersebut, sejumlah isu aktual turut dibahas. Di antaranya adalah tata laksana upacara sudiwidani atau prosesi masuk agama Hindu serta upacara pemerasan. Juni Arta mengungkapkan bahwa selama ini masih terdapat perbedaan teknis pelaksanaan di masing-masing desa adat.
Oleh karena itu, MDA Kecamatan Gianyar berinisiatif mendorong adanya keseragaman. Namun, hal ini dilakukan tanpa meninggalkan sastra atau aturan agama dan desa kala patra sebagai kearifan lokal. “Secara prinsip, keseragaman itu memungkinkan karena sudah ada dasar sastra yang jelas. Hanya saja secara teknis perlu disepakati bersama agar tidak menimbulkan persepsi bahwa proses tersebut rumit,” jelasnya.
Program penguatan kapasitas ini direncanakan menjadi agenda berkelanjutan. Tahun 2026 ini ditetapkan sebagai tahap awal untuk menghasilkan rumusan atau produk kebijakan. Khususnya terkait standar pelaksanaan upacara keagamaan yang bisa dijadikan acuan bersama di masa depan.
Perhatian Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Pemangku
Sementara itu, Ketua MDA Kecamatan Gianyar, Ngakan Putu Sudibya, menegaskan kegiatan ini menjadi momentum untuk menyatukan visi. Selain persoalan teknis keagamaan, isu kesejahteraan pemangku juga menjadi perhatian serius pihaknya. Menurutnya, peran pemangku sangat vital dalam menjaga keberlangsungan ritual di Bali.
Ia menilai sudah selayaknya para pemangku mendapatkan penghargaan yang layak dari pemerintah. “Kami berharap pemerintah Provinsi Bali maupun Pemerintah Kabupaten Gianyar bisa lebih memperhatikan kesejahteraan pemangku. Saat ini insentif sudah ada, tetapi masih tergolong kecil,” ujar sosok yang juga Bendesa Desa Adat Suwat ini.
Saat ini, insentif pemangku di Kabupaten Gianyar berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per bulan. Ke depan, diharapkan jumlah tersebut dapat meningkat hingga minimal Rp1 juta per bulan. Sudibya optimistis dengan adanya potensi pendapatan daerah yang baru, kesejahteraan pemangku dapat lebih diperhatikan.
Di akhir kegiatan, Ngakan Putu Sudibya juga menunjukkan bentuk rasa syukur secara nyata. Beliau memberikan paket sembako kepada seluruh jro mangku yang hadir dalam pertemuan tersebut. Pembagian sembako tersebut merupakan ungkapan syukur atas perayaan ulang tahun putranya sekaligus wujud kepedulian dalam lingkungan adat.



















