Gubernur Koster : Pemerintah Wajib Fasilitasi Kebutuhan Sulinggih demi Jaga Budaya Bali

DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa keberadaan para sulinggih memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan dan kedamaian Bali secara niskala. Karena itu, pemerintah sebagai guru wisesa wajib memberikan perlindungan serta memfasilitasi kebutuhan para sulinggih agar dapat menjalankan swadarma dengan baik.

Hal tersebut disampaikan Koster saat menghadiri Perayaan Ulang Tahun ke-4 Sabha Kertha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat di Sekretariat SKHDN Pusat, Denpasar, Minggu (22/2).

Sulinggih Penjaga Bali Secara Niskala

Dalam sambutannya, Gubernur Koster menekankan bahwa tugas sulinggih tidak ringan. Mereka berperan menjaga keselamatan, kedamaian, dan keharmonisan Bali melalui ritual serta tanggung jawab spiritual. “Tatanan niskala jangan diganggu, dan harus dijaga oleh para sulinggih. Pemerintah berkewajiban memberikan perhatian agar mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik,” tegasnya.

Menurut Koster, sulinggih yang menegakkan dresta Bali telah berkontribusi menjaga Bali tetap ajeg, damai, serta mampu memelihara pura dan tradisi sesuai pakem yang diwariskan secara turun-temurun.

Budaya Jadi Pembeda dan Kekuatan Bali

Koster menyebut Bali dengan jumlah penduduk sekitar 4,5 juta jiwa memiliki pembeda utama dibanding provinsi lain, yakni budaya yang hidup dalam keseharian masyarakat.Mulai dari ritual sederhana seperti saiban dan canang, hingga upacara besar seperti Eka Dasa Rudra, seluruhnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan krama Bali.

Menurutnya, budaya dan adat istiadat yang dijaga dengan konsisten menjadi magnet utama pariwisata Bali.“Jangan sampai kita kehilangan jati diri karena mengimpor budaya asing yang mematikan budaya lokal. Kekuatan Bali terletak pada kebudayaan dan adat istiadatnya,” ujarnya.

Nangun Sat Kerthi Loka Bali: Jaga Sekala dan Niskala

Melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Koster mengajak seluruh krama Bali menjaga keselarasan hidup secara sekala dan niskala. Ia mendorong penguatan nilai-nilai budaya ketimuran yang menjunjung sopan santun, etika, moral, norma, dan toleransi.

Baca Juga:   Ngamongan Nebes Ratu Tapakan Desa Adat Sidan, Wagub Giri Prasta Ajak Warga Tetap Saguyub Salunglung Sabayantaka

Menurutnya, Bali tidak memiliki sumber daya alam melimpah. Karena itu, budaya menjadi satu-satunya kekuatan utama yang harus terus dirawat dan dikembangkan.“Bali harus hidup dan berkembang dengan budayanya. Jangan sampai kehilangan magnet yang dimiliki selama ini,” katanya.

Peran Desa Adat dan Konsistensi Dresta Bali

Gubernur juga mengingatkan pentingnya menjaga dresta Bali agar tidak bertambah banyak dan tidak menyimpang dari pakem yang ada. Desa adat disebut sebagai benteng utama dalam menjaga ritual dan budaya di tengah perkembangan zaman.

Sementara itu, Manggala Uttama SKHDN Pusat, Ida Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, menyatakan komitmen para sulinggih se-Bali untuk terus menjaga keseimbangan sekala dan niskala demi kedamaian dalam berpikir, berkata, dan berbuat.

Pemerintah dan Sulinggih Bersinergi Jaga Bali

Koster kembali menegaskan bahwa pemerintah berkewajiban melindungi dan memfasilitasi para sulinggih. Dengan sinergi antara guru wisesa dan para pemuka spiritual, Bali diyakini mampu terus ajeg, harmonis, dan lestari.

Upaya menjaga budaya, adat, dan spiritualitas Bali dinilai sebagai fondasi utama dalam mempertahankan identitas sekaligus keberlanjutan Pulau Dewata di tengah arus globalisasi.

Pelantikan Rektor Unmas Denpasar, Koster Dorong Kolaborasi Riset Perguruan Tinggi se-Bali

Shares: