JEMBRANA – Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta mengajak masyarakat untuk mengembangkan Taman Bali Banten, sebuah kawasan yang ditanami berbagai tanaman dan bahan kebutuhan upacara Hindu sebagai langkah memperkuat perekonomian desa sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi dan budaya Bali.
Ajakan tersebut disampaikan Giri Prasta saat menghadiri Upacara Karya Mamungkah, Mupuk Pedagingan, Mapadudusan Alit, Wraspati Kalpa Utama, lan Ngusaba Desa. Di Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa lan Puseh), Desa Pangyangan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, yang bertepatan dengan Rahina Anggara Kasih Medangsia, Selasa (7/7).
Dalam kesempatan itu, Wakil Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga Desa Pangyangan. Yang bergotong royong membangun Pura Kahyangan Tiga hingga pelaksanaan rangkaian upacara adat dapat berlangsung dengan baik.
Gotong Royong Menjadi Kekuatan Masyarakat Bali
Mengawali sambutannya, Giri Prasta mengungkapkan rasa syukur sekaligus terima kasih kepada seluruh krama Desa Pangyangan. Yang telah menunjukkan semangat kebersamaan dalam membangun tempat suci dan melaksanakan yadnya.
Menurutnya, nilai-nilai persatuan, solidaritas, gotong royong, dan rasa persaudaraan. Merupakan kekuatan utama masyarakat Bali yang harus terus dijaga di tengah perkembangan zaman.
“Ngiring sagilik-saguluk salunglung sabayantaka. Dengan begitu, yadnya seberat apa pun akan terasa lebih ringan karena dikerjakan bersama. Hilangkan rasa dengki agar upacara suci, mulai dari persiapan hingga selesai, senantiasa diberikan kemudahan,” ujar Giri Prasta.
Ia menilai keberhasilan pelaksanaan upacara adat tidak hanya bergantung pada kesiapan sarana dan prasarana, tetapi juga pada kekompakan seluruh masyarakat dalam menjalankan kewajiban bersama.
Taman Bali Banten untuk Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Desa
Dalam kesempatan tersebut, Giri Prasta memperkenalkan gagasan pengembangan Taman Bali Banten. Yaitu kawasan yang secara khusus ditanami berbagai jenis tanaman yang menjadi kebutuhan pokok dalam pelaksanaan upacara keagamaan umat Hindu di Bali.
Tanaman tersebut meliputi janur, daun pisang, daun beringin, daun sirih, daun pandan, bunga, kelapa, pisang, pinang. Serta berbagai tanaman lain yang digunakan sebagai sarana upacara atau banten.
Menurut Giri Prasta, keberadaan taman tersebut memiliki manfaat ganda. Selain memudahkan masyarakat memperoleh sarana upacara, konsep ini juga dapat menciptakan sumber ekonomi baru bagi desa melalui budidaya tanaman yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya.
“Saya ingin membangun perekonomian masyarakat yang sehat dan berkelanjutan melalui pengembangan Taman Bali Banten. Dengan adanya kawasan khusus ini, masyarakat akan lebih mudah memperoleh kebutuhan upacara sekaligus menggerakkan ekonomi desa,” katanya.
Ia menambahkan, kebutuhan terhadap bahan-bahan upacara di Bali berlangsung sepanjang tahun. Sehingga pengembangannya memiliki prospek yang baik apabila dikelola secara bersama oleh masyarakat desa.
Pura Kahyangan Tiga Milik Seluruh Krama Desa
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur juga mengingatkan pentingnya menjaga kesucian dan fungsi Pura Kahyangan Tiga. Yang merupakan tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Brahma, Wisnu, dan Iswara.
Karena memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali, Giri Prasta menegaskan. Bahwa Pura Kahyangan Tiga merupakan milik seluruh krama desa tanpa membedakan kasta maupun strata sosial.
Menurutnya, seluruh masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga, merawat, dan memuliakan pura sebagai pusat kehidupan religius sekaligus simbol persatuan warga desa adat.
Resmikan Pura Desa lan Puseh
Setelah mengikuti persembahyangan bersama masyarakat, Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta bersama Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan melaksanakan penandatanganan prasasti Pura Desa lan Puseh Desa Pangyangan.
Peresmian tersebut menjadi penanda selesainya pembangunan pura sekaligus memperkuat komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian adat, budaya, dan kehidupan spiritual masyarakat Bali.
Dampak dan Analisis
Gagasan pengembangan Taman Bali Banten menunjukkan pendekatan pembangunan yang memadukan aspek budaya, ekonomi, dan lingkungan. Selama ini kebutuhan sarana upacara Hindu di Bali terus meningkat seiring tingginya aktivitas keagamaan di desa-desa adat. Dengan menghadirkan kawasan khusus tanaman upacara, masyarakat tidak hanya memperoleh kemudahan akses terhadap bahan banten, tetapi juga berpeluang meningkatkan pendapatan melalui budidaya tanaman bernilai ekonomi.
Konsep tersebut juga berpotensi memperkuat ketahanan budaya Bali karena ketersediaan bahan upacara dapat dipenuhi dari desa sendiri. Jika diterapkan secara luas, Taman Bali Banten dapat menjadi salah satu model pemberdayaan ekonomi berbasis kearifan lokal yang mendukung pelestarian tradisi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Buang Sampah Sembarangan di Desa Adat Lodtunduh Kini Didenda Rp5 Juta



















