GIANYAR, InsertBali – Keanggunan para penabuh perempuan berpadu dengan dinamika tabuh yang penuh energi menyelimuti Panggung Terbuka Ardha Candra, Minggu (28/6/2026) malam. Momen ini tercipta ketika Gong Kebyar Wanita Sanggar Seni Lila Janaki, Duta Kabupaten Gianyar, menghadirkan sajian artistik yang memikat. Penampilan dibawakan dalam Utsawa Parade Gong Kebyar Wanita PKB XLVIII Tahun 2026.
Penampilan para seniman perempuan Gianyar menghadirkan sajian utuh yang memadukan kekuatan musikal, tari, dan sastra klasik Bali. Mengusung semangat pelestarian sekaligus pengembangan seni tradisi, pementasan tersebut menjadi representasi kreativitas perempuan Bali dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya.
Tampil dengan balutan busana bernuansa ungu silver yang melambangkan ketulusan, kesucian, keanggunan, kesetiaan, dan keberanian, para penabuh Gong Kebyar Wanita Sanggar Seni Lila Janaki menghadirkan penampilan yang anggun namun tetap enerjik. Komunitas yang beranggotakan bajang jegeg Kabupaten Gianyar tersebut menjadi simbol dedikasi generasi muda dalam mengabdi bagi kemajuan seni budaya Gianyar dan Bali.
Eksplorasi Tabuh Chandra Karana Hingga Topeng Ganjen
Pementasan dibuka melalui Tabuh Kreasi “Chandra Karana” garapan I Nyoman Windha. Komposisi ini menghadirkan tafsir musikal tentang kelembutan cahaya batin perempuan Bali sebagai sumber harmoni kehidupan. Melalui dinamika khas Gong Kebyar, karya tersebut menggambarkan perempuan sebagai sosok yang menenun keseimbangan antara rasa, cipta, dan karsa. Langkah ini sekaligus menjadi penjaga nilai-nilai tradisi dan peradaban.
Suasana panggung kemudian semakin hidup melalui Tari Kreasi “Topeng Ganjen”, karya I Wayan Darya dan Dewa Putu Selamet Raharja. Tarian yang terinspirasi dari Tari Topeng Monyer dan Tari Kebyar Duduk ini menampilkan karakter remaja yang lincah, jenaka, dan penuh pesona. Karakter khas Gianyar yang melekat dalam garapan tersebut mampu menghadirkan suasana ceria sekaligus mengundang tawa para penonton.
Sebagai penutup, Sanggar Seni Lila Janaki mempersembahkan Sandyagita “Tutur Aji Pelayon”. Sebuah garapan musikal yang mengangkat nilai-nilai spiritual dari Kakawin Aji Palayon. Karya tersebut mengisahkan perjalanan roh menuju kesempurnaan dan penyatuan dengan Sang Pencipta melalui lantunan syair berbahasa Kawi. Syair tersebut dipadukan dengan koreografi artistik, sehingga menghadirkan perenungan tentang makna kehidupan, kematian, dan kesucian jiwa.
Kekayaan Filosofi Budaya Bali dan Dukungan Wakil Bupati Gianyar
Melalui penampilan tersebut, Duta Kabupaten Gianyar tidak hanya menampilkan kualitas musikal dan artistik yang matang. Tetapi juga memperlihatkan kekayaan filosofi serta identitas budaya Bali yang tetap hidup di tangan generasi muda perempuan. Penampilan Gong Kebyar Wanita Sanggar Seni Lila Janaki menjadi salah satu suguhan yang memperkaya kemeriahan Parade Gong Kebyar Wanita dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali tahun ini.
Diwawancarai usai menyaksikan Parade Gong Kebyar Wanita, Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, mengungkapkan rasa bangga dan kekagumannya terhadap penampilan Duta Kabupaten Gianyar. Penampilan tersebut dinilai mampu menyuguhkan pertunjukan berkualitas dan memikat perhatian penonton.
“Penampilan Gong Kebyar Wanita Sanggar Seni Lila Janaki malam ini luar biasa. Garapannya matang, energinya kuat, namun tetap menampilkan keanggunan perempuan Bali. Semoga penampilan ini menjadi kebanggaan bagi Gianyar sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus mencintai dan mengembangkan seni budaya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Agung Mayun menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Gianyar akan terus memberikan dukungan kepada para seniman yang dengan penuh dedikasi terus berkarya. Langkah ini juga dilakukan untuk menjaga kelestarian seni budaya daerah.
“Pemerintah Kabupaten Gianyar akan selalu hadir memberikan dukungan terhadap tumbuh dan berkembangnya seni budaya sebagai identitas daerah. Semangat, dedikasi, dan kerja keras para seniman merupakan kekuatan utama yang menjaga warisan budaya Bali tetap hidup sekaligus mampu berkembang mengikuti dinamika zaman,” pungkasnya.



















