GIANYAR, InsertBali – Tahun 2026 menjadi momentum bersejarah bagi ARMA Museum. Destinasi pusat seni ini telah menandai perjalanan panjang selama 30 tahun. Selama ini, institusi tersebut konsisten turut melestarikan seni dan budaya Bali.
Museum ini didirikan dan resmi dibuka pada 9 Juni 1996. Sejak awal, ARMA hadir bukan hanya sebagai tempat memajang karya. Tempat ini diposisikan sebagai ruang hidup budaya yang terus menjaga keberlanjutan tradisi, kreativitas, dan ruang dialog lintas budaya.
Selama tiga dekade, ARMA telah berkembang menjadi institusi budaya yang kuat. Lembaga ini menghubungkan seni rupa, seni pertunjukan, bidang pendidikan, dan sektor pariwisata budaya dalam satu ekosistem.
Tempat ini juga sukses menjadi ruang tumbuh bagi para seniman dan komunitas kreatif di Bali. Koleksi yang dimiliki Museum ARMA mencakup berbagai karya penting seniman Bali dan Indonesia. Dipajang pula karya seniman asing yang pernah tinggal dan berkarya di Pulau Dewata.
“ARMA lahir dari keyakinan bahwa seni dan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus terus hidup, dipelajari, dan dijaga,” ujar Agung Rai, pendiri Museum ARMA.
Dari tiada menjadi ada, Agung Rai dengan telaten dan dedikasi penuh merawat budaya Bali. Pada tahun 2026 ini, Agung Rai mendapatkan penghargaan Parama Satya Budaya dari Pemerintah Kabupaten Gianyar. Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya dalam mengemban, membina, mengembangkan, dan melestarikan seni budaya.
Program Seni Budaya Aktif dan Rangkaian Gelaran ARMA Fest 2026
Sebagai pusat seni dan budaya yang hidup, Museum ARMA tak hanya menampilkan koleksi karya-karya penting para seniman. Pihak manajemen secara aktif menghadirkan berbagai program edukatif.
Program tersebut seperti pameran seni rupa, pertunjukan tari dan musik tradisional, lokakarya budaya, hingga program residensi seniman. Diadakan juga program edukasi bagi generasi muda, serta festival seni budaya tahunan bertajuk ARMA Fest.
Rangkaian perayaan tiga dekade ARMA menghadirkan sederet kegiatan menarik. Agenda yang disiapkan meliputi pameran tradisi maupun pameran kontemporer.
Akan digelar juga festival seni budaya ARMA Fest yang puncaknya dilaksanakan pada 19–20 September 2026. ARMA Fest menjadi wadah geliat seniman dan sanggar seni tradisi untuk menampilkan garapannya. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan lomba baleganjur.
Aksi Sosial Taru Pramana dan Adaptasi Teknologi Masa Depan
Selain festival seni, manajemen ARMA Museum dan Resort juga melaksanakan beberapa kegiatan lingkungan dan sosial. Mereka menggelar aksi penanaman pohon yang berkonsep Taru Pramana.
Dilaksanakan pula kegiatan kemanusiaan berupa aksi donor darah, serta agenda persembahyangan bersama. Poin ini ditujukan untuk tetap menjaga keseimbangan dan harmoni hubungan manusia dengan semesta.
Perayaan ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan tinggi kepada seluruh seniman dan budayawan. Apresiasi juga ditujukan bagi komunitas serta masyarakat yang telah menjadi bagian dari perjalanan ARMA selama 30 tahun.
Perayaan tersebut juga disampaikan oleh Agung Yudi selaku Direktur Museum. Ia menjelaskan bahwa di tengah dinamika dunia modern saat ini, ARMA Museum terus memperkuat perannya.
Institusi ini berkomitmen menjaga taksu Bali sebagai roh kreativitas. Pihak manajemen siap menyambut tantangan ke depan dengan beradaptasi terhadap inovasi dan teknologi agar tetap relevan bagi generasi masa depan.


















